Skip navigation

Dapatkah wanita berpartisipasi dalam jihad?

Allah swt. menjadikan jihad kewajiban atas laki-laki muslim, persoalan apakah wanita dapat berpartisipasi dalam jihad membutuhkan adanya klarifikasi. Seorang muslimah di masa Rasulullah saw. dikisahkan ikut serta seperti halnya laki-laki dalam jihad, perang fisik dengan orang-orang kafir dan terlihat juga keinginan mereka untuk mengorbankan hidup mereka untuk Allah swt.


Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:


”Saya bersumpah, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya berharap bahwa saya dapat berperang untuk Allah (yaitu jihad) dan memperoleh syahid, kemudian kembali dan berperang lagi dan mendapatkan syahid, kemudian kembali dan berperang lagi lalu mendapatkan syahid.” (Al-Bukhori dan Muslim)


Karenanya tidak mengherankan bahwa seorang wanita terlalu lama untuk mencapai ke-syahidan-nya. Ini merupakan dorongan untuk memperoleh pahala yang besar yang telah Allah berikan atas mujahidin. Keikutsertaan wanita dalam jihad telah dicontohkan oleh salah satu Ummul Mukminin, Ummu Salamah r.a., ketika ia mengambil bagian dalam perang khaibar. Dia (Ummu Salamah) berkata, ”Saya berharap bahwa Allah menjadikan jihad kewajiban bagi kita sebagaimana Dia (Allah) mewajibkannya bagi laki-laki”.


Kemudian Allah swt. menurunkan ayat yang berbunyi:


“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu”. (QS. An Nisaa’( 4) : 32).


Ini juga diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa dia bertanya kepada Rasulullah saw., :


”Ya Rasulullah! Kita mengetahui bahwa Jihad adalah perbuatan yang terbaik. Kita tidak berperang (berjihad) karena Allah tidak mewajibkannya bagi kita? “ Beliau menjawab, “Jihad terbaik (bagi wanita) adalah haji yang mabrur (yaitu aktivitas haji yang dilakukan sesuai dengan tradisi kenabian dan diterima/disahkan sebagai amal ibadah oleh Allah atas kaum muslimin.” (HR. Bukhari)


Hadits-hadits tersebut mengindikasikan bahwa tidak ada jihad Qitaal yaitu jihad berperang bagi wanita kecuali dalam keadaan darurat, yakni situasi defensive (mempertahankan diri). Jika seorang istri dari mujahid tinggal di rumah dan mengurusi kebutuhan suaminya, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengannya (suaminya yang menjadi mujahid). Asma’ binti Yazid bertanya kepada Rasulullah saw. atas nama wanita, “Ketika mereka (kaum laki-laki) pergi berjihad, kami berada di samping kiri rumah untuk melindungi perbekalan mereka dan tinggal di rumah untuk mengurusi keluarga. Apakah kami tidak juga berhak mendapat pahala yang sama dari Allah?” Rasulullah saw. menjawab, “Tolong, pergilah dan katakan kepada para wanita yang kamu wakili bahwa dengan melakukan kewajibanmu kepada suamimu dengan cara yang baik, menjaga apa saja yang akan membuatnya senang dan mengikuti mereka dengan setia, maka kamu akan mendapatkan keridhaan Allah yang besar dan Dia akan memberikan kepadamu pahala yang sama sebagaimana pahala yang telah dijanjikan kepada laki-laki.”


Contoh utamanya adalah Sohaila, istri dari Farrukh, orang yang kembali dari jihad setelah 30 tahun, ditemukan bahwa istrinya telah membelanjakan semua simpanannya (30.000 dinar) yang dia tinggalkan untuknya (istrinya) sebelum ia pergi jihad, untuk keperluan biaya pendidikan anaknya Rabi’ah ibn ‘Abdur Rohman. Dia (anaknya) berhasil menjadi salah seorang dari 7 ulama terkenal di Madinah Al-Munawwarah. Di antara murid Sheikh Rabi’ah adalah Imam Malik, Imam Sufyan Ath-Thauri dan Imam Laith Ibn Sa’ad.


Catatan dokumentasi mengatakan bahwa Rasulullah saw. selalu mengajak salah seorang dari istri-istrinya untuk menemaninya dalam medan perang. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a., “Kapan saja Rosulullah saw. bermaksud untuk mengadakan perjalanan (perang/jihad), dia mengundi istri-istrinya dan jatuhlah undian itu kepadaku, sehingga saya pergi menemani Rasulullah dan kejadian itu terjadi setelah turunnya ayat tentang hijab”. (Al-Bukhori).


Dalam hadist riwayat Bukhori juga meriwayatkan, pada masa Yazid Bin Hurmuz, Najda telah menulis kepada Ibnu ‘Abbas r.a. yang sedang menyelidiki 5 perkara, 2 perkara di antaranya berhubungan dengan wanita dan jihad. Najda menulis,….”Katakan kepadaku apakah Rasulullah saw. telah menempatkan wanita untuk berpartisipasi dengannya dalam jihad” (Jika beliau melakukannya), apakah Beliau memberikan kepada mereka bagian dari harta pampasan perang….”


Ibnu Abbas r.a. menulis jawabannya, ….”Anda menulis pertanyaan kepadaku apakah Rasulullah telah menempatkan wanita untuk berpartisipasi dengannya dalam jihad?. Beliau (Rasulullah saw.) memang telah menempatkan mereka (para wanita) dalam peperangan dan sesekali juga dia (Rasul saw.) berperang bersama dengan mereka (para wanita). Mereka mengobati orang-orang yang terluka (dalam perang) dan mereka diberikan suatu imbalan dari harta pampasan perang, tetapi dia (Rasul saw.) tidak memberikan bagian tertentu kepada mereka…”


Ummul Mukminin r.a. dan istri-istri para sahabat r.a. tidak berangkat dalam medan perang dengan maksud untuk berperang secara fisik dengan orang-orang kafir akan tetapi mereka pergi ke medan perang dengan membawa peran-peran yang Allah swt. dan Rasul-Nya telah memberikannya kepada mereka.


Peranan wanita Dalam Medan Perang


Ada banyak bukti yang menunjukkan peranan wanita dalam medan perang, hal ini digambarkan dalam kitab-kitab hadits yang menggambarkan tentang tugas wanita dalam medan perang, diceritakan bagaimana keberanian muslimah dalam medan perang selama masa Rasulullah saw., diantaranya, :


Merawat Orang-Orang Yang Terluka


Diriwayatkan oleh Abu Hazim, Sahl bin Sa’ad bertanya tentang luka Rasulullah saw., Beliau bersabda, “Fathimah, anak perempuan Rasul (pada saat perang), melakukan tugas untuk membersihkan luka dan Ali bin Abi Thalib menuangkan airnya. Ketika Fathimah melihat bahwa luka tersebut ada gangguan perdarahan, maka dia mengambil potongan kain lalu membakarnya, kemudian memasukkan abu tersebut ke dalam luka sehingga darah (pada luka) bisa membeku (dan perdarahan berhenti). Suatu hari gigi taringnya (Ali) patah dan mukanya terluka , topi bajanya patah tepat pada kepalanya.” (Al-Bukhari).

Menyediakan Air Bagi Yang Haus


Diriwayatkan oleh Anas r.a., “Suatu hari dalam perang Uhud ketika sebagian orang mundur dan meninggalkan Rasulullah, saya melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim dengan menyisingkan baju mereka, terdengar letusan di sekitar mereka, mereka tampak terburu-buru dengan membawa air (dalam riwayat lain disebutkan mereka membawa air di punggung mereka). Kemudian menuangkan air tersebut dan meminumkannya kepada orang-orang yang haus dan mereka kembali memenuhi air lagi serta datang kembali untuk menuangkan air dan meminumkannya kepada orang-orang lagi.” (Al-Bukhari)


Menyiapkan Makanan Bagi Para Mujahidin


Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.a., “Ketika terjadi penggalian parit, saya melihat Rasulullah berada dalam keadaan lapar. Saya pulang untuk menemui istriku dan berkata kepadanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu (untuk dimakan) karena saya melihat Rasulullah berada dalam keadaan lapar.” Dia membawakan kepadaku sebuah kantong yang berisi 1 sa dari sejenis gandum dan kita memiliki binatang yang aku sembelih kemudian istriku memasak sejenis gandum tadi dan dia menyelesaikannya tepat waktu, aku pun menyelesaikan pekerjaanku. Kemudian aku memotong daging menjadi potongan-potongan dan menaruhnya ke dalam panci yang terbuat dari tanah (memasaknya) dan kembali menemui Rasulullah. Istriku berkata, ”Jangan permalukan aku di depan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya”. Jadi aku pergi menemuinya dan mengatakan kepada beliau secara diam-diam, “Ya Rasulullah! Saya telah menyembelih hewan betina milik kita dan kami memiliki satu Sha’ Gerts (sejenis gandum). Jadi datanglah bersama beberapa orang teman Anda. Rasulullah mengeraskan suaranya dan mengatakan, “Wahai saudaraku yang sedang menggali parit! Jabir telah menyiapkan makanan, mari kita pergi” Rasulullah berpesan kepadaku, “Jangan angkat daging yang ada di dalam panci (dari tempat pembakarannya) atau adonan mu sampai aku datang”. Kemudian saya datang (ke rumahku) dan Rasulullah datang juga mendahului sebelum yang lainnya datang. Ketika aku datang kepada istriku, dia berkata, “Apakah yang akan Allah tetapkan terhadap kamu?” Saya berkata, “Saya menyampaikan kepada Rasulullah apa yang kamu katakan.” Kemudian dia (istrinya) menyajikan adonan itu kepada Rasulullah dan dia (Rasul) memanggangnya dan memohon keberkahan Allah di dalamnya. Kemudian dia (Rasul) maju ke depan di hadapan potongan-potongan daging yang ada di panci dan pemanggangan dan berdo’a untuk keberkahan di dalamnya. Lalu Beliau berkata (kepada istriku), “Panggillah seorang wanita tukang roti untuk membuat roti bersamamu dan memasak potongan daging yang ada di panci tersebut dan jangan angkat dari tempat pembakaran.” Mereka satu persatu hingga ribuan orang (mengambil dan memakan daging tersebut) dan demi Allah mereka semua telah makan dan ketika mereka selesai makan dan pergi, potongan daging yang berada di panci masih penuh dengan daging seperti tidak berkurang dan adonan rotinya pun seperti tidak ada yang mengambil.


Memanggul Senjata Untuk Para Mujahidin


Diriwayatkan oleh Ummu Ziyaad r.a., “Dalam perang Khaibar saya sendiri dan 5 orang lainnya adalah wanita berada pada perang tersebut. Rasulullah Muhammad saw. mempelajari (keadaan ini) dan mengirimkan mereka untuk kita. Beliau (saw) berkata dengan marah, “Siapa yang mengizinkan kamu untuk keluar dari sini? Siapa yang membawa kamu ke tempat ini?” Kami berkata, “Ya Nabiullah! Kami sekarang bersatu dan kami memiliki pengobatan yang bersama kami, kami bisa membantu para mujahidin dengan menyuplai mereka dengan anak panah, dengan mengobati mereka ketika mereka sakit dan menyiapkan makanan bagi mereka.” Rasulullah kemudian mengizinkan kami untuk tinggal” . (HR. Abu Dawud) .

Memberikan Semangat Kepada Para Mujahidin Untuk Tetap Bertahan


Selama perang Uhud, Saffiyah binti Abdul Mutholib r.a., bibi Rasulullah saw. berdiri dan mengayunkan tombak ke depan sambil berkata, “Apakah kamu mencoba mengalahkan Rasul?” Semoga Allah memberkatinya dan memberikan kedamaian kepadanya.
Juga, selama perang Uhud, ketika Nusaibah binti Ka’ab, anak laki-lakinya Abdullah sedang terluka berat, dia (Nusaibah) membalut lukanya dan memerintahkan padanya,”Pergi dan perangilah orang-orang kafir itu wahai anakku!” Mendengar hal ini Rasulullah saw. tersenyum dan berkata, “Siapakah yang dapat memikul apa yang kamu pikul wahai Ummu Umarah!”.

Aktivitas Jihad Saat Ini


Saat ini kita hidup dalam keadaan Khilafah (Negara Islam) tidak ada, oleh karena itu kaum muslimin tidak berada pada posisi berperang Jihad Ofensif dalam perintah untuk memperluas batas kekuasaan khilafah. Jihad saat ini yang ada dalam tanah-tanah (kaum muslimin) yang telah dikuasai (oleh orang kafir) di mana saudara laki-laki dan perempuan kita yang kita cintai berada dalam situasi di mana mereka tidak punya pilihan kecuali berperang jihad defensif (mempertahankan diri). Oleh karena itu seorang wanita (dalam keadaan itu) juga harus berpartisipasi dalam perang secara fisik ketika berada dalam posisi defensif karena itu kewajiban atas setiap wanita untuk mempertahankan kehormatannya, hidupnya, keluarganya, tanahnya, kepemilikannya, hartanya dan agamanya. Seorang perempuan atau seorang istri tidak memerlukan izin dari siapa pun, tidak juga orang tuanya, tidak juga suaminya dalam kasus ini.


Dia boleh melakukan apa saja yang diambilnya untuk mempertahankan dirinya sendiri jika dia menemukan dirinya berada pada posisi seperti saudara muslimah kita dalam Darul Ghasab seperti saat ini (yaitu Palestina, Chechnya, Irak, Afghanistan, Kashmir, dan lain-lain).Serupa dengan seorang muslimah yang seharusnya seperti sejarah, mereka telah memiliki beberapa peranan (dalam jihad), kita temukan mereka saat berada pada posisi defensif, seperti yang dialami oleh Nusaibah r.a. dan Ummu Sulaim r.a. selama perang Uhud dan perang Hunain yang terjadi secara berturut-turut. Siapa pun wanita muslimah tersebut jika ditemukan pada diri mereka berada dalam medan perang maka mereka harus terjun dan menjadi kewajiban untuk mendukung jihad baik secara lisan maupun finansial.


Wallahu’alam bis showab!

One Comment

  1. assalamualaikum…

    saya bersetuju dgn artikel ini, kebetulan saya sedang mencari bahan2 untuk judul skripsi saya…seputar jihad untuk wanita, pd pandangan ulama’ kontemporer dan ulama mazhab…

    trima kasih…amat bermanfaat buat kaum wanita dan rijaal juga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: