Skip navigation

Dua Kewajiban – Dakwah dan Jihaad     Dakwah (mengajak orang pada Islam), jihad (berperang karena Allah), menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran semuanya adalah kewajiban dalam Islam yang tidak akan pernah bisa dilalaikan oleh seorang Muslim, laki-laki ataupun perempuan. Mereka adalah karakteristik dari Ahl ul Jannah dan semua itu adalah kegiatan para sahabat. Selanjutnya dalam Qur’an, Allah (swt) menghukum orang-orang yang melalaikan kewajiban-kewajiban ini dan berjanji akan menghukum mereka bersama para pelaku kejahatan – orang-orang yang tidak beriman.   Apa yang telah Allah (swt) wajibkan kepada kita akan tetap menjadi wajib sampai hari pengadilan, juga apa yang Allah (swt) telah larang akan tetap terlarang sampai hari pengadilan nanti. Hukum-hukum Syari’ah tidak bisa berubah dalam Islam; itu adalah fakta atau salah satu dari prioritisasi dari kewajiban-kewajiban yang pokok ini bisa berubah. Selanjutnya, siapa saja yang hidup di daar ul harb atau dar ul Islam tidak bisa merubah peraturan-peraturan Allah.   Selanjutnya, adalah bukan hal yang tepat bagi seseorang yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk memihak dan memilih-milih ketetapan-ketetapan Allah (swt), mereka akan melaksanakan salah satu dari kewajiban-kewajiban tetapi meninggalkan yang lainnya, sebagaimana ini adalah salah satu dari karakter Yahudi. Allah (swt) berfirman: “…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah 2: 85)   Setelah membaca ayat diatas, mengapa pada saat ini kita masih menemukan orang-orang ditengah-tengah ummat Islam yang memilih hanya berbicara tentang shalat dan tidak tentang jihad; menginginkan Aqidah tetapi tidak meneima syari’ah; berdakwah tapi tidak berjihad? Bagaimana bisa mereka mengharapkan keselamatan dari hukuman Allah – Jahannam – pada saat mereka bertindak dengan sangat tak menentu? Bagaimana bisa mereka mengklaim pengikut Muhmmad (saw) ketika mereka memfitnah, mencela dan memerangi orang-orang yang bersungguh-sungguh mengikuti jejak Rasulullah (saw) pada jalan mencegah kemungkaran, menghina hukum buatan manusia dan ideologi-ideologi jahat dari orang-orang kafir?   Sungguh, Rasulullah (saw) dan para Shahabat-shahabatnya adalah orang-orang yang telah melakukan kewajiban-kewajiban itu. Ketika mereka berada di medan perang mereka berdakwah dan mencegah kemungkaran yang dilakukan dengan menggunakan pedang, dan ketika mereka tidak berada di medan perang mereka berdakwah dan mencegah kemungkaran dengan lidah mereka. Ini adalah sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri; namun, berapa banyak kaum Muslimin pada saat ini yang ambil bagian dalam kewajiban yang mulia ini? Berapa banyak kaum Muslimin yang mempunyai keberanian seperti para Shahabat, mengekspos kejahatan masyarakat (seperti demokrasi dan kebebasan) secara terbuka dan terang-terangan, juga mengajak non-Muslim kepada satu dan satu-satunya jalan hidup yang diterima oleh Allah (swt)? Bagaimana bisa kita mengklaim sebagai pengikut Sunnah pada saat kita tidak mengikuti sunnah yaitu  memberikan dakwah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran?   Tentu saja, orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah Ghurabaa’ (orang-orang yang terasing) di dunia. Rasulullah (saw) telah menginformasikan kepada kita bahwa mereka akan menjadi minoritas, dan mayoritas dari orang-orang akan menentang, menertawakan, mengejek, menyerang dan mengutuk mereka, tetapi Allah akan meridhoi mereka: “…Toobaa (surga) bagi Ghuraaba’ (orang-orang yang asing); mereka adalah orang-orang yang menyeru pada kebaikan (dan mencegah kemungkaran) pada saat orang-orang tlah berbuat kerusakan.” (Musnad Imam Ahmad)   “Surga bagi Ghuraaba’: orang-orang yang shaleh ditengah-tengah orang-orang yang berbuat kejahatan. Orang-orang yang menentang mereka akan jauh lebih banyak daripada orang-orang yang menaati mereka.” (Musnad Imam Ahmad)   Maka kita menemukan banyak orang-orang pada saat ini yang mempunyai karakter seperti Khawarij (sebuah sekte menyimpang dalam Islam) yang berbicara sama seperti bahasanya sebagaimana rasulullah (saw), bacaan Qur’an nya bagus dan melakukan banyak perbuatan baik, namun mereka tidak menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran secara terbuka dan terang-terangan, tidak menolak semua bentuk tahghut dan tidak mempunyai wala’ dengan kaum Muslimin yang berbeda dengan mereka. Bahkan mereka lebih banyak menganggu risalah bagi kaum Muslimin yang mulai untuk meninggalkan Standart Islam dan menjadi mengesankan dengan penampakan dan keterpesonaan dengan kebaikan dari sekte jahat ini. Sayang sekali, mereka mempunyai pilihan untuk menyangkal petunjuk Muhammad (saw) dan mengikuti penyimpangan dari individu-individu yang salah ini.   Al-Ghuraaba’ selanjutnya tidak dengan mudah tergoda dengan argument-argument yang “mempesona” dari Khawarij, dan tidak mempunyai waktu untuk berdebat dengan orang-orang yang meninggalkan sunnah. Ketika mereka berada di medan perang mereka berdakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan pedang mereka, dan pada saat mereka tidak pergi ke medan perang (dengan alasan yang benar) mereka berdakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan lidah mereka.   Jihad dan dakwah adalah satu kesatuan; keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Jika seseorang tidak secara fisik berpartisipasi dalan jihad mereka harus berusaha mengajak orang-orang pada Islam dam mengekspos kemungkaran masyarakat – ini dengan pasti apa yang orang-orang beriman pada masa Rasulullah (saw) telah laksanakan pada saat mereka tidak bisa bergabung di medan perang. Mujahidin dan da’ie seharusnya tidak mempunyai waktu untuk membenarkan duduk dengan tenang di belakang dan mengabaikan dakwah. Tetapi  mereka akan melakukan apa yang telah diwajibkan dan juga menerima syari’ah-syari’ah yang telah Allah (swt)  tetapkan.   Apakah kita akan mengikuti Rasulullah (saw) dan para Shahabatnya atau kita hanya mengikuti hawa nafsu kita? Mari kita bertanggungjawab atas diri kita sebelum kita dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: