Lewati navigasi

Category Archives: JIHAD

YANG DIINGINKAN OLEH ORANG-ORANG KAFIR

Kaum Muslimin tidak perlu untuk membuat analisa politik dari apa yang orang-orang kafir inginkan dari umat Islam dengan membaca surat kabar mereka atau menyaksikan apa yang mereka tayangkan di Televisi. Melainkan Allah (swt) telah mnyokong kita, kaum Muslimin dengan Islam yang telah disampaikan kepada kita, melalui Al Qur’an, tentang semua rencana mereka. Untuk mencegah dari pandangan yang sempit kita harus mengambil manfaat dari jendela yang ‘unik’ ini kedalam sesuatu yang tidak terlihat untuk mengekspos rencana mereka dan dengan tujuan untuk memberikan kepada kita sebuah pandangan yang lebih baik tentang masa depan. Terbukti bahwa media orang-orang kafir tidak pernah mengalami kegagalan untuk merusak kemurnian pemahaman Islam dengan membanjiri kita dengan kebudayaan mereka, ide-ide, teori konspirasi, sejarah yang telah di distorsi dan sebagianya.

1.    INGIN AGAR ORANG-ORANG ISLAM MENJADI KAFIR SEPERTI MEREKA

Allah (swt) berfirman:

Mereka mengingikan (Wadd) kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)…. (QS Al Baqarah 2 : 89)

Disini Allah (swt) menggunakan kata Al Wudd yang berarti bahwa orang-orang kafir akan mencintai kita dengan tujuan agar mereka manjadikan kita (kaum Muslimin) sama seperti mereka yang tidak mempunyai ke-ridho-an dari Allah (swt) pada hari pengadilan nanti. Sebagaimana Rasulullah (saw) tidak pernah berkata kaum Muslimin bahwa mereka tidak seperti orang-orang kafir, tetapi beliau berkata : ‘Islam itu adalah tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya’. Lebih lanjut kaum Muslimin seharusnya tidak akan boleh membungkukkan diri di level orang-orang kafir melainkan harus tetap berdiri tegap pada Dien Islam, tak peduli betapa banyak cobaan dan kesengsaraan yang menimpa kita dan tak peduli pada yang dikonspirasikan oleh orang-orang kafir. Orang-orang Non-muslim selalu akan murka pada tindakan orang-orang Islam sebagai bentuk dari keimanannya dan mereka yang enggan untuk berkompromi sama sekali pada apa yang di beritakan di dalam teks-teks ketuhanan (wahyu – Al Qur’an dan Sunnah).

2.    MEMERANGI ORANG-ORANG ISLAM SAMPAI MEREKA MENJAUH DARI DIEN (IDEOLOGY)NYA

Allah (swt) berfirman:

…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)… (QS Al Baqarah 2 : 217)

Dengan kata lain kita diinformasikan bahwa nonmuslim akan terus-menerus memerangi umat Islam, sekalipun itu berarti mereka membunuhnya, sebagaimana di Afghanistan dan di Irak, jika mereka tidak menjauh dari Dien Al-Islam dan menjadi non-muslim seperti mereka. Tetapi Allah (swt) memperingati orang-orang Islam : ‘….siapa saja yang  berpaling dari Dien Al-Islam kemudian mati dalam keadaan kafir (tidak beriman) maka amal perbuatan mereka akan sia-sia dalam hidupnya dan nanti di hari akhir mereka orang-orang yang berada di nereka, kekal di dalamnya.’

3.    AGAR MENDAPATKAN KAUM MUSLIMIN UNTUK MENGIKUTI KEINGINAN MEREKA LEWAT MENGGODA DENGAN SHAHAWAH

Allah (swt) berfirman dalam Al Qur’an:

…sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS An Nisa 4 : 27)

Ayat ini di turunkan kepada Nabi Muhammad (saw) tentang seseorang yang ingin menikah tetapi tidak menurut pada tradisi (Sunnah) Rasulullah (saw) tetapi menurut pada hukum dan tradisi buatan manusia. As Sahawah disini adalah perbuatan buruk yang bisa merangsang naluri dan kebutuhan hidup seperti naluri untuk melangsungkan keturunan sampai promosi pelacuran, pornografi, pergaulan bebas, homoseksual, dan perzinahan dan kebutuhan seperti glamorosasi makanan, pakaian dan tempat tinggal yang mewah. Maka tak heran jika kita melihat bahwa industri terbesar di dunia kapitalis adalah industri pornografi, perjudian, obat-obatan terlarang dan alkohol, kosmetik dan fashion dan lain-lain.

4.    UNTUK MENYERANG DENGAN MENANGKAP MEREKA (KAUM MUSLIMIN) DENGAN SEENAKNYA

Allah (swt) berfirman:

…orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu… (QS An Nisa 4 : 102)

Oleh karena itu ini bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan bahwa orang-orang kafir saat ini menuntut agar kaum Muslimin menyerahkan senjata mereka di Iraq dan tempat lainnya seperti Pakistan. Dengan jelas Allah (swt) mengatakan kepada kaum Muslimin untuk menyiapakan sebanyak mungkin dari senjata yang terbaik untuk menakut-nakuti musuh, memerangi mereka jika memerangi kita dan sebagai kekuatan penghalang. Sesuatu hal yang dilarang bagi umat Islam untuk memberikan rincian senjata mereka kepada orang-orang kafir, membiarkan dengan sedirinya diberikan kepada orang-orang kafir. Padahal bahwa Allah (swt) berkata pada ayat ini bahwa kaum Muslimin harus waspada ketika mereka shalat, menjaga senjata mereka tetap dengan mereka setiap waktu dan bergantian untuk shalat pada saat yang lain menjaganya. Sebagai  tambahan Rasulullah (saw) berkata bahwa ‘senjata adalah perhiasan kaum Muslimin’, itu di sarankan kepada kaum Muslimin laki-laki untuk membawa sebuah senjata dengannya di setiap waktu dengan tujuan untuk menakut-nakuti musuh dan memerangi jika mereka menyerang kita (kaum Muslimin).

Kita bisa lihat konsekuensi dan kaum Muslimin yang memberikan senjatanya di Bosnia, ketika UN mengambilnya dari kaum Muslimin dan megizinkan orang-orang kafir Serbia membantai kaum Muslimin dalam skala masa.

5.    UNTUK MELIHAT KAUM MUSLIM MERASA SEDIH DAN MENDERITA

Allah (swt) berfirman:

…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi…. (QS Ali Imran 3 : 118)

Lebih Lanjut kita bisa melihat bagaimana orang-orang kafir merasa senang ketika kaum Muslimin di pearngi dan di bunuh. Hanya kemarin menunjukan sebuah konfrensi di Wales pelaku fasis Tony Blair mengatakan bahwa ia merasa ‘bangga’ pada apa yang dia (dan US) lakukan di Afghanistan, ketika mengunakan B52 untuk membom sekitar 200.000 kaum Muslimin telah membunuh secara membabi buta dan sekarang ini menghilang! Dia mengatakan bahwa permasalahan di Kashmir adalah karena ‘teroris’, yang berarti Mujahidin Muslim yang mempertahankan kaum Muslimin yang tidak bersalah, wanita dan anak-anak dari pembunuhan yang dilakukan oleh pendudukan Hindu, pada gerombolan yang tidak segan-segan untuk memperkosa wanita Muslim. Lebih dari itu barbar US dan Inggris tidak mempunyai permasalahan politik, pengadaan militer dan dukungan ekonomi terhadap Negara perampok Israel yang dilakukan secara terang-terangan di tanah kaum Muslimin dan kekejaman yang dilakukan untuk melawan kaum Muslimin.

6.    MEMADAMKAN CAHAYA ALLAH (SWT)

Allah (swt) berfirman:

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS At Taubah 9 : 32-33)

Allah (swt) disini menginformasikan kepada kita bahwa orang-orang kafir akan melakukan apapun untuk merugikan kaum Muslimin. Maka kita lihat pada hari ini bahwa ada sekitar 250.000 orang-orang US dan Inggris memaksa untuk berjaga-jaga dan siap menyambar kaum Muslimin di Timur Tengah. Namun Allah (swt) menjajikan kepada kaum Muslim kemenangan pada akhirnya. Kita mungkin kalah dalam sebuah pertempuran atau lebih tetapi kita tidak akan kalah pada peperang yang terakhir antara kebenaran dan kebatilan. Bukanlah senjata-senjata dan jumlah yang menjamin kita kemenangan, melainkan kemenangan itu di tangan Allah (swt) yang akan di berikan kepada siapa-siapa yang dikehendaki.

Oleh karena itu kita harus bersiap sebanyak mungkin seperti mereka yang bisa untuk memerangi para agressor yang meliputi untuk meletakkan kepercayaan mereka secara penuh kepada Allah (swt) atas hasilnya nanti. Senjata kaum Muslimin adalah Iman (kepercayaan teguh), tawakkal (yakin sepenuhnya kepada Allah) seperti halnya persiapan fisik. Kaum Muslimin juga harus menghargai kepada mereka yang berusaha untuk menerapkan Syariah @ Khilafah pada setiap wilayah dan setiap level masyarakat. Ini adalah satu-satunya cara bagi kaum Muslimin untuk hidup dengan kehidupan yang adil, dan jadilah ekonomi, sosial, peraturan, pengadilan kita dan lain-lain untuk diatur berdasarkan Syariah (hukum Islam) yang di manifestasikan dalam Negara Islam (Khilafah Islamiyah). Sekerang 80 tahun lebih kita hdup tanpa penerapan Syariat Islam atas kaum Muslimin di seluruh belahan Bumi. Selama lebih dari 80 tahun dibiarkan terpecah menjadi Negara yang tidak Islami, masing-masing menguasai dengan kekuasaan yang kejam menerapkan hukum yang tidak Islami seperti demokrasi, kediktatoran, Monarki, Kapitalisme, Sosialisme dan sebagianya. Kehadiran Khilafah berarti bahwa kaum Muslimin sekali lagi mempunyai prisai untuk melindungi diri mereka dan dari mereka yang berperang untuk melindungi kehidupan, kekayaan, dan kehormatan kaum Muslimin. Itu juga membentuk sebuah pengertian dengan membentuk kedaulatan Islam yang dapat menyebar dengan menghancurkan rintangan pada jalan yang dilaluinya untuk mengimplementasikan Syari’ah yang memuncak dalam kesatuan negeri kaum Muslimin dibawah satu hukum, tujuan, dan kedaulatan. Ini tentunya akan berarti sebuah super-power baru di dunia, dengan tentara-tentera yang akan mencintai kematian seperti cintanya orang-orang kafir pada dunia ini dan juga akan muncul orang-orang yang cinta kepada perjuangan dan mati karena Allah (swt) untuk meninggikan namaNya setinggi-tingginya. Ini adalah sebuah ketakutan orang-orang kafir yang nyata dan itu sebabnya mengapa mereka menghentikan Taliban ketika mereka mengadopsi ‘proyek’ ini. Disamping usaha-usaha orang-orang kafir, Allah (swt) menjajikan kita di dalam Al Qur’an bahwa Dia akan memberikan kaum Muslimin kemengan dan kedaulatan dengan cara memberikannya kepada mereka yang telah memenuhi perintahNya dan meletakkan kepercayaan mereka padaNya (swt). NB dengan demikian bagaimana bisa seseorang memilih (teman) orang-orang kafir atau berpertisiapsi di dalam parlement mereka?

7.    MERUBAH KALIMAH ALLAH (SWT)

Allah (swt) berfirman :

…mereka hendak merobah kalimat Allah…. (swt).  (QS Al Fath 48 : 15)

Cara bahwa orang-orang kafir merubah kalimat Allah sebelumnya, di dalam Taurat dan Injil, mereka ingin membuat distorsi pada kalimat Allah (swt) di dalam Al Qur’an. Namun Al Qur’an adalah mu’jizat dengan dengan sendirinya dan tidak bisa di rubah, Allah (swt) berjanji untuk memeliharanya sendiri. Lebih lajut kita melihat para Orientalis (mereka yang belajar Islam dari prespektif barat) di Universitas SOAS dan banyak lagi institut-institut mencoba untuk melatakkan keraguan di benak kaum Muslimin tentang kemurnian Al Qur’an dan kerasulan terakhir Muhammad (saw).

8.    MENYESATKAN KAUM MUSLIMIN

Allah (swt) berfirman:

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri,… (QS Ali Imran 3 : 69)

Kita melihat orang-orang kafir mencoba kepada kaum Muslimin dengan ide kesamaan beragama (pluralisme) adalah sebuah gagasan yang terkutuk – salah jika kaum Muslimin, orang-orang Nasrani dan yahudi akan mempunyai sebuah tempat tempat ibadah sama dan kitab yang satu, dengan perkataan bahwa ‘kita semua adalah umat dari Ibrahim (as)’, adalah yang menganut monotheist dan bukan polytheist. Lebih lanjut Ibrahim (as) datang beribu-ribu tahun sebelum Yahudi dan Nasrani dan kemudian itu bukanlah Yahudi dan bukan juga Nasrani.

Ide Pluraslisme adalah ide yang yang tidak lebih dari usaha untuk merusak umat Islam dan kemurnian keyakinan mereka. Kaum Muslimin yang teguh tidak akan pernah bisa di tipu dengan rencana seperti itu.

9.    AGAR KEBURUKAN MENIMPA KAUM MUSLIMIN

Allah (swt) berfirman:

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu… (QS Ali Imran 3 : 119-120)

Ini seharusnya sudah menjadi pelajaran yang sudah mengkristal kepada siapa saja yang menyukai gerombolan-gerombolan orang-orang kafir bagi kaum Muslimin seperti MCB dan CAIR (di US). Allah (swt) disini mengatakan kepada kita kenyataan perasaan orang-orang kafir yang membenci kaum muslimin untuk mempunyai sesuatu yang baik dan yang gembira pada penderitaan dan siksaan kaum Muslimin seperti di Afghanistan, Chechnya, Palestina, Kasymir dan lain-lain. Melainkan hanya kaum Muslimin yang tulus hatinya yang sungguh-sungguh mempertahankan, melindungi dan bersekutu dengan kaum Muslimin saja bukan pada PBB, USA dan Inggris.

Iklan

Kebangkitan Dan Keruntuhan Khilafah

Ust. Abdul Qodir Hasan Baraja’

Bismilahirrohmanir Rohim.

Islam dengan misinya yang diumumkan sejak Rosulullah SAW berada di Mekah sebagai “ RAHMATAN LIL’ALAMIN”Artinya: Dan kami mengutusMu (Hai Muhammad) hanyalah sebagai Rahmat bagi sekalian alam.

Dan pernyataan beliau bahwa ; beliau adalah utusan Allah kepada seluruh manusia, merupakan suatu pencanangan dimulainya era globalisasi berdasarkan konsep Islam yang bersifat universal, walaupun pada saat pengumuman itu, ajaran Islam belum sempurna.

Kini zaman menampakkan dirinya melalui istilah Milenium ketiga/ zaman globalisasi bersama konsep universal buatan manusia merupakan rahmat/ karunia Allah SWT bagi kaum muslimin pengemban misi Rahmatan Lil’alamin ; yang wajib disyukuri dan harus terus diantisipasi demi upaya mewujudkan kejayaan Islam, teraplikasinya sistem Islam dalam kehidupan nyata dan terbentuknya masyarakat yang cinta damai serta sejahtera lahir & batin.

Alam semesta beserta segala isinya adalah milik Allah : Dia pencipta tunggal bagi keseluruhan yang ada, yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui: maka hanya dengan menuruti segala kehendak-Nya lah, keadilan kesejahterahan terwujud serta kedzaliman dan kerusakan tercegah.

Misi “RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” telah terbukti di masa lampau mengakhiri segala kebejatan moral manusia melalui penetapan ajaran Allah dan Rosul-Nya secara menyeluruh.

Sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan Rosulullah saw selama + 23 (duapuluh tiga tahun) dari Mekah ke Madinah Al Munawaroh adalah kepemimpinan terbaik paling sukses yang pernah ada dipermukaan bumi ini; kepemimpinan Islam, yang mewajibkan seluruh kaum Muslimin tunduk di bawah satu kepemimpinan dan mengharamkan perpecahan dalam berbagai sekte dan golongan.

Perpecahan dalam Islam, yang mengakibatkan golongan-golongan/ sekte-sekte/ partai-partai/ firkoh-firkoh yang tidak dapat dipersatukan dalam satu jama’ah sebagai wadah wihdatul ummah dibawah satu kepemimpinan, jelas dinyatakan Allah sebagai satu kemusyrikan sesuai firman-Nya:

Artinya:

Dan janganlah kalian menjadi orang-orang musyrik ; yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka lalu mereka menjadi bergolongan-golongan setiap golongan hanya bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri.Oleh karena itu semua golongan Islam yang pada saat ini berjumlah 1001 macam, wajib berupaya agar dapat dipersatukan di bawah satu kepemimpinan Islam di tingkat Internasional.

Tanpa upaya kearah tersebut, maka potensi umat Islam hilang dan merupakan dosa.

Sesungguhnya bibit-bibit perpecahan dalam Islam sudah ada semenjak Rosulullah saw masih hidup melalui provokasi orang-orang munafik namun dapat diatasi.

Setelah Rosulullah saw wafat, kepemimpinan beralih kepada Khalifah Abu Bakar As-Siddik sebagai Khalifatur Rosul kemudian diteruskan oleh Kholifah yang kedua, ketiga dan keempat perpecahan ummat Islam masih dapat diatasi dan potensi ummat Islam tetap terjamin dalam mempertahankan kewibawaan kaum Muslimin. Keempat Khalifah tersebut selama kurang labih 30 tahun adalah para pemimpin dalam sistem Islam yang melanjutkan kepemimpinan Rosulullah saw yang disebut sistem Khilafah Islamiyah. Kepemimpinan sistem Khilafah inilah merupakan satu-satunya sistem yang mungkin mampu menjaga keutuhan ummat Islam dalam satu Wihdatul Ummah, di bawah seorang Imam/ Khalifah/ Amirulmu’minin; sedang sistem-sistem lainnya adalah mustahil dapat mempersatukan ummat Islam.

Kaum Muslimin / Muslimat yang berbahagia !

Islam telah menentukan istilah kepemimpinannya sendiri bagi kepemimpinan seluruh kaum Muslimin diatas permukaan bumi ini sesuai firman Allah:

Artinya : Hai orang-orang yang beriman ! Tho’atilah Allah dan Rosululloh serta Ulil Amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu hendaknya kalian kembalikan kepada Allah dan Rosul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu adalah ( cara ) yang lebih utama dalam mengambil keputusan.(QS. 4 : 59 )

Tentunya semua kaum muslimin dapat memahami, bahwa jika Allah telah mewajibkan tho’at Allah, Rosul dan Ulil Amri, maka di manapun kelompok orang yang beriman berada, mereka tidak dapat membuat ketentuan sendiri untuk tidak mentaati Ulil Amri; sebab jika seorang mu’min meninggal, maka ia tidak boleh menjawab bahwa ia tidak butuh pada Ulil Amri ataupun tidak mentaati Ulil Amri, padahal Allah telah mewajibkanya. Akankah kaum muslimin menjawab bahwa belum saatnya mentaati Ulil Amri?! Sebagai Imam/ Kholifah/ Amirul Mu’minin? Demi keutuhan Jamaah dan tercegahnya perpecahan?

Betapa indahnya jika setiap mu’min/ mu’minah dipermukaan bumi ini menyadari pentingnya mempunyai Ulil Amri untuk dapat menyempurnakan ibadah kepada Allah dan agar umat Islam mempunyai suara di tingkat Internasional sehingga tak dapat diremehkan oleh siapapun juga. Sebuah misi yang dinyatakan sebagai “Rahmatal lil ‘Alamin perlu diupayakan secara damai, sebagaimana Rasulullah sebelum hijrah terlebih dahulu mengutus Mus’ab bin Umair untuk menda’wahkan misi Islam ke negeri Madinah; sehingga mayoritas penduduk Madinah menerima baik da’wah yang disampaikannya. Pada saat Rasulullah bersama shohabat beliau diperintahkan untuk berhijrah, situasi kota Madinah pun siap untuk menyambut kedatangan beliau bersama kaum Muhajirin sehingga orang-orang yang non muslimpun bersedia tunduk di bawah kepemimpinan Islam.

Memang sudah menjadi sunatullah bahwa suatu misi ummat hanya akan meraih kemenangan jika misi tersebut mendapatkan dukungan umatnya, dan selama belum mendapatkan dukungan dari mayoritas ummat, maka kemenangan belum dapat diharapkan di atas dunia. Perlu mendapat perhatiaan khusus bahwasanya yang menjadi fokus hijrahnya Rasululloh saw bersama shohabat beliau ke Madinah bukan masalah pelaksanaan syari’ah, akan tetapi yang menjadi persoalan pokoknya adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat/ dukungan mayoritas ummat yang ada pada saat itu, sementara syari’ah baru sempurna setelah + 10 tahun kemudian. Upaya untuk mendapatkan dukungan mayoritas ummat itulah yang harus di maksimalkan dengan terlebih dahulu menunjuk seorang pemimpin sebagai Imam/ Kholifah ummat Islam. Maka Khilafah Islamiyah milik kaum muslimin atau Khalifatul Muslimin berkewajiban membentuk perwakilan-perwakilannya di seluruh dunia, terutama di setiap kampung di negeri ini sebagi sponsor Madinah, sehingga terbentuk masyarakat Madani yang kita cita-citakan bersama kebebasan dan kemerdekaan ummat non muslim melaksanakan peribadatan masing-masing.

Kaum Muslimin/ Muslimat yang saya hormati.Sungguh kejayaan yang dicapai kaum muslimin di masa dahulu hanyalah karena mereka mampu mempertahankan keutuhan ummat di bawah sistem khilafah dengan membuktikan sam’an wa tho’atan kepeda Ulil Amri mereka. Apabila sistem kepemimpinan Islam tidak lagi mempertahankan kesatuan kaum muslimin maka di saat itu pulalah potensi ummat Islam mulai melemah, wibawa mereka mulai memudar dan ummat terpecah belah menjadi berkeping-keping dan bergolong-golongan menuju kehancuran. Semestinya hal tersebut tidak boleh terjadi; di mana ancaman Allah dan Rosul terhadap perpecahan itu sudah cukup jelas; dan secara rasionil dapat dipahami bahwa perpecahan suatu ummat tak mungkin menghasilkan kekuatan kecuali hanya akan menghasilkan kelemahan dan kehancuran. Poin inilah yang seharusnya terlebih dahulu diupayakan oleh orang-orang yang tulus ikhlas, agar taasshub golongan, kebanggaan suku/ ras dan watak-watak jahiliah lainnya dapat ditekan, demi terciptanya kembali Wihdatul Ummah meraih kejayaan Islam. Untuk hal tersebut tidak ada jalan lain kecuali timbul kesadaran kaum muslimin tersendiri untuk mempersatukan diri di bawah satu sistem kepemimpinan Islam yaitu Sistem Khilafah Islamiyah sebagai khilafatul muslimin tanpa menyebut-nyebut golongan apapun. Apabila ummat Islam tidak hidup di bawah sistem Khilafah, maka kaum muslimin berarti hidup di bawah sistem non Islami. Demi menghindari hal tersebut, konon khabarnya Almarhum Imam S.M Kartosuwiryo telah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949, dengan cita-cita berdirinya kekhalidi muka bumi ini/ Kholifah fil ardi, di mana pada kenyataannya saat ini kekholifahan kaum muslimin atau Khilafatul Muslimin telah hancur semenjak tahun 1924 di Turki di bawah kekhalifahan Utsmaniyah atas konspirasi Barat yang anti kesatuan Islam.

Kiranya perlu kesadaran kaum Muslimin mensponsori kembali kepemimpinan Islam yakni tegaknya Khilafatul Muslimin, guna meneruskan apa yang telah dicita-citakan oleh para pendahulu kita di negeri ini, tanpa melupakan mereka sebagai Assabiquna Awwalun agar mendapat do’a restu dari orang-orang terdahulu yang tulus ikhlas, sehingga terwujud kesatuan kaum muslimin Internasional di bawah satu kepemimpinan ulil amri orang-orang yang beriman yang wajib mereka dengar dan mereka taati. Dengan demikian pelaksanaan zakat dan pembagian tugas lain-lainnya dapat dikoordinir secara benar dan baik sesuai ajaran.

Berlanjutnya perpecahan secara berlarut-larut yang membawa kehancuran Islam adalah suatu kenyataan yang sangat di-idam-idamkan oleh syetan musuh kebenaran/ Alhaq. Untuk hal tersebut maka sudah pernah diadakan kongres Khilafah di Kairo Mesir selama satu pekan dari tanggal 1-7 Dzulkaidah 1344 H dan juga pernah diadakan kongres ummat Islam sedunia di Mekkah, pada tahun 1926 namun mereka tak sampai kepada memutuskan adanya seorang Kholifah/Amirul Mu’minin sebagai Ulil Amri ummat Islam sedunia. Kiranya kegagalan tersebut tidak perlu terulang lagi untuk ke sekian kalinya.

Maukah dan mampukah ummat Islam mendukung “KHILAFATUL MUSLIMIN” yang melalui kongres Mujahidin kali ini akan kita tingkatkan kegiatannya keseluruh dunia? Jawabannya adalah terletak pada kesadaran kaum muslimin sendiri yang akan menentukan kemudian apakah khilafatul muslimin akan meraih kesuksesan ataupun tidak sebab tanpa dukungan ummat maka kerja para pengurus khilafatul muslimin hanya akan sukses dalam pikiran dan ucapan belaka. Mungkin masih banyak orang yang berpendapat, bahwa kepemimpinan Islam (Ulil Amri) hanya sah kalau sudah menang dan jika kalah maka kepemimpinannya tidak sah lagi. Pendapat sedemikian ini adalah pendapat yang keliru, karena benar dan salah itu tidak diukur dengan kemenangan ataupun kekalahan, sedang kenyataaan, …..jelas bukan standar kebenaran.

Perwakilan khilafatul muslimin harus dibentuk di seluruh dunia dan untuk mewujudkannya secara dan damai dan legitimet perlu terlebih dahulu kita meraih dukungan mayoritas ummat, sebagaimana dicontohkan oleh Rosulullah saw sebelum beliau hijrah ke Madinah, ya’ni ketika Bai’at Aqobah yang kedua Rosulullah meminta dari setiap bani yang ada agar menentukan seorang mas’ul yang akan mewakili anggota/ ummatnya masing-masing, sehingga terdapat 12 orang orang mas’ul saat itu yang harus bertanggung jawab terhadap ummatnya masing-masing, jadi bukan Rosulullah sendiri yang menentukan mas’ulul ummahnya.

Maka hendaklah para warga di setiap perwakialn khilafatul muslimin bermusyawarah untuk menunjuk seorang mas’ulnya yang mereka percayai sehingga setiap mas’ul benar-benar mewakili ummatnya.

Jika sekiranya dalam satu kabupaten/ kotamadya terdapat 50 ataupun 100 mas’ul, maka 50 atau 100 orang mas’ul itulah yang berkewajiban memilih satu di antara mereka menjadi seorang Amir Ummil Quro’ yang akan bertanggung jawab terhadap seluruh mas’ul yang terdapat dalam wilayahnya. Selanjutnya, jika terdapat umpamanya 20 ataupun 30 Amir Ummil Quro’ dalam satu propinsi, maka mereka pulalah yang berhak dan berkewajiban menunjuk salah seorang di antara para Amir itu, menjadi seorang Amir lagi di tingkat propinsi yang disebut Amirul Wilayah, di mana kemudian para Amiirul Wilayah itulah nantinya yang akan menentukan seorang Amirud Daulah. Apabila di atas dunia ini terdapat 50 atau 1000 Amirud Daulah , tentunya merekalah yang akan menentukan siapa yang sepatutnya menjadi Amirul Mu’minin di atas permukaan bumi ini/ di tingkat Internasional yang benar-benar legitimet karena memang berakar dari bawah dan telah mendapatkan dukungan dari mayoritas ummatnya. Demikianlah pemilu kaum muslimin dalam rangka mewujudkan ke” KHOLIFAHAN ISLAM “ secara damai tanpa menghabiskan biaya milyaran.

Demikianlah kekholifaan Islam terbentuk secara alami atas kehendak ummatnya sendiri; maka Khilafatul Muslimin memiliki ahlul hilli wal aqdi di tingkat masing-masing maka merekalah yang berhak menentukan kapan seharusnya kepemimpinan diganti secara damai. Oleh karena itu, Khilafatul Muslimin tidak merasa perlu berbicara tentang kepolisian/ ketentaraan dan rencana peperangan dalam mensponsori terwujudnya seorang Kholifah/ Amirul Mu’minin/ Imam umat Islam sedunia sebagai Ulil Amri mereka ; kecuali hanya memikirkan bagaimana caranya agar umat Islam memahami tanggung-jawabnya dalam merealisir ajaran Allah dan Rosul-Nya benar-benar menjamin kebebasan ummat lain untuk melaksanakan peribadatan agama mereka masing-masing, sesuai ajaran Al-Kitab yang mereka miliki.

Legitimasi yang didapatkan oleh seorang pemimpin dari ummatnya melalui perwakilan-perwakilan yang mereka pilih sendiri; tentu akan dapat mempertahankan keutuhan ummat Islam dan mencegah perpecahan yang telah diharamkan Allah dan Rosul-Nya, serta akan mampu pula mencegah pertikaian ummat beragama dan kerusuhan-kerusuhan lainnya Insya Allah.

Kaum Muslimin/ Muslimat yang kami hormati !Sungguh ; ….. perpecahan di kalangan kaum muslimin adalah sesuatu yang sangat melelahkan dan membosankan ; tidak akan pernah menyelesaikan persoalan ummat, tidak akan mampu mempererat Ukhuwah dan tidak akan mungkin menurunkan keberkahan baik dari langit maupun dalam perut bumi serta mustahil dapat mewujudkan kedamaian dan kesejahterahan ummat manusia ; dimana dengan terealisirnya kembali kekhalifahan Islam yang membawa misi Rahmatan lil’alamin/ misi yang akan membuktikan kasih sayangnya terhadap alam semesta, kita mungkin dapat berharap dan optimis terhadap terealisirnya keadilan dan kesejahteraan bersama ummat manusia, dengan membuktikan tunduk kepada Yang Maha Pencipta Robbul’alamin.…maka “ PERPECAHAN “harus segera diakhiri !!!

Rosulullah saw pernah mensinyalir bahwa sistem kepemimpinan Islam ( Khilafah Islamiyah ) atau Khilafah ala minhajun Nubuwwah itu akan mengalami pasang surut dengan berbagai kebijaksanaan yang dilancarkan oleh para khilafahnya, sehingga walaupun mereka mengaku sebagai Khalifah / Amirul Mu’minin sebenarnya mereka telah menyimpangkan sistem kekhalifahan menjadi sistem kerajaan sebagaimana telah disabdakan dalam hadis beliau sbb:

Artinya :Kenabian di tengah-tengah kalian akan terjadi menurut kehendak Allah kemudian Allah mengangkatnya jika ia kehendaki untuk mengangkatnya, lalu terjadilah masa kekhalifahan yang mengikuti jejak-jejak kenabian menurut kehendak Allah kemudian Allah mengangkatnya jika ia kehendaki untuk mengangkatnya ; lalu terjadilah masa kerajaan yang menggigit menurut kehendak Allah kemudian Allah mengangkatnya; selanjutnya terjadilah masa kerajaan yang menindas menurut kehendak Allah ; kemudian Allah mengangkatnya jika ia kehendaki untuk mengangkatnya ; barulah terjadi lagi masa kekhalifahan yang mengikuti jejak-jejak kenabian ( khilafah ala minhajinubuwwah ) ; lalu Rosulullah saw diam .( Riwayat Ahmad dan Baihaqi dan Nu’man Bin Basyir ).Kaum Muslimin / Muslimat yang kami hormati

Menurut hadits tersebut di atas dapat kita pahami bahwa zaman kenabian telah berlalu, mereka telah menyelesaikan tugas mereka masing-masing dalam mengemban misi yang haq sebagai utusan Allah, di samping mereka juga adalah hamba Allah : mereka telah memimpin ummat untuk hanya menyembah Allah SWT/ mentho’ati-Nya tanpa reserve dan masa merekapun telah berlalu atas kehendak Allah jua, setelah diakhiri oleh Rosulullah terakhir Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin ummat manusia seluruhnya selama + 23 tahun. Adapun kaum muslimin selama Rosulullah saw masih hidup tetap berada dalam satu kesatuan jama’ah berujud wihdatul ummah di bawah satu kepemimpinan yaitu beliau sendiri sebagai pemimpinnya.

Untuk selanjutnya kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Rosulullah saw selama 23 tahun itulah, maka perlu adanya seorang khalifah yang kita kenal sebagai Khalifah yang pertama adalah Khalifah Abu Bakar As-Shidiq r.a dan selanjutnya khalifah kedua , ketiga , keempat selama 30 tahun, sebagaimdisabdakan oleh beliau saw ;

Artinya :

Kekhalifahan pada ummatku adalah selama 30 tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan. Menurut tarikh setelah khalifah yang keempat ( Ali bin Abi Thalib r.a ) wafat ; maka Muawiyah bin Abi Shofyan melanjutkan kepemimpinan ummat dengan sistem kerajaan dengan menunjuk anaknya sendiri ( Yazid ) sebagai putra Mahkota pengganti ayahnya.

Berlanjutlah sistem kerajaan ini secara turun temurun sehingga sampai pada kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1924 M sesuai dengan apa yang telah diramalkan oleh Rosulullah sebagai Mulkan Aadlon dan Mulkan Jabariyyatan. Ummat Islam pun semakin berpecah belah dan pemimpin-pemimpin Islam telah terbiasa mengambil bagiannya sendiri-sendiri dalam batas-batas wilayah yang sempit, sehingga tidak lagi merupakan satu kesatuan yang utuh di bawah satu kepemimpinan ummat ( Imam, Kholifah, Amirul Mu’minin) sebagaimana mustinya sesuai dengan contoh Nabi Muhammad saw, di mana beliau sendiri sebagai Imamnya selama 23 tahun; kemudian dilanjutkan oleh Al-Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyyun sebagai Ulil Amri mereka. Kepemimpinan sedemikian inilah yang wajib hukumnya diteruskan dan tidak boleh hilang dari kalangan kaum muslimin di manapun mereka berada dilihat dari kacamata Ad-Dien sesuai Aqidah Islamiyyah dan bukan hanya dilihat dari kacamata politik semata.

Oleh karena itu Islam dengan misinya Rahmatan lil Alamin tidak boleh dirahasiakan; wajib didzohirkan dipermukaan bumi di bawah satu kepemimpinan dalam satu Jama’ah sebagai wadah wahdatul ummah dengan sistem Khilafah Islamiyyah, yakni kembali lagi pada sistem Khilafah ala Minhajin Nubuwwah sebagaimana telah disinyalir dalam hadits tersebut di atas.

Kiranya cukup jelas, bahwa yang disebut satu kesatuan dalam Islam (menurut Syari’at) ialah adanya seorang Imam? Kholifah bagi keseluruhan ummat Islam di muka bumi ini dengan sistem yang dikenal yaitu sistem Khilafah bukan sistem-sistem yang lainnya, dan bukan pula berkumpulnya berbagai golongan dalam satu aliansi untuk membagi tugas tanpa adanya seorang pemimpin/ Kholifah/ Imam dalam wadah wihdatul ummah.

Artinya :

Dan berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah dan jangan kalian bercerai berai.Ayat tersebut dengan jelas melarang adanya golongan-golongan/firqoh-firqoh/sekte-sekte yang berdiri sendiri-sendiri tanpa dapat dipersatukan dibawah satu Imam sebagai Ulil Amri mereka. Bersabda Rasulullah saw :

Artinya :

Aku perintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah telah memerintahkannya kepadaku (yaitu); berjama’ah, mendengar, tho’at, hijrah dan berjuang di jalan Allah. Maka barang siapa yang keluar dari AL- JAMA’AH sekedar sejengkal berarti benar-benar ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka ia tergolong orang-orang yang berlutut di nereka Jahanam. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah ! Bagaimana jika ia tetap berpuasa dan sholat ? Rasulullah menjawab : Sekalipun dia shoum dan mengaku bahwa ia adalah seorang muslim. Maka panggilah oleh kalian kaum muslimin itu sebagaimana Allah telah menamakan mereka Al-Muslimin almu’minin; ibadallohi Azza Wa Jalla. (Riwayat Ahmad)Al-Jama’ah dimaksud tentunya JAMA’ATUL MUSLIMIN disertai seorang Imam/ Kholifah sebagai ulil amri dari orang-orang yang beriman dan bukan Jama’ah dari sebagai ataupun segolongan tertentu dari kaum muslimin ataupun jama’ah minal muslimin dengan kepemimpinannya sendiri-sendiri dan berakibat tetap saja setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri.

Artinya :

Sesungguhnya ummat Islam ini adalah ummat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah oleh kalian akan daKu (Allah).Kaum muslimin/muslimat yang kami hormati Setelah selama + 76 th kami tidak mendengar adanya kekholifahan Islam sebagai wadah WIHDATUL UMMAH dan telah kami tawarkan kepada beberapa orang yang kami anggap pantas untuk mempermaklumkan terhadap dunia tentang kekholifahan Islam; ternyata harapan kami tersebut terpulang kembali kepada kami; dan dengan segala kerendahan hati sembari mengetahui kelemahan diri kamipun merasa tidak sanggup mentekel perso’alan besar tersebut namun untuk sekedar mensponsorinya buat sementara waktu daripada ketiadaan Ulil Amri, terpaksa kamipun memberanikan diri untuk mengeluarkan sebuah “MA’LUMAT” tertanggal 13 Rabi’ul Awwal 1418 H/18 Juli 1997 M sebagaimana telah kami sebar luaskan dan telah pula kami sosialisasikan di berbagai daerah melalui ceramah-ceramah umum dan dialog terbuka serta Alhamdulillah cukup mendapatkan tanggapan baik dan dan sambutan ummat yang menggembirakan melalui bai’at yang mereka lakukan secara tulus ikhlas atas kesadaran dari setiap pribadi muslim dan muslimat. Insya Allah akan kita teruskan untuk mensosialisasikannya keseluruh dunia sehingga terwujudnya musyawarah kekhalifahan Islam Internasional agar mendapatkan Ulil Amri bagi kaum muslimin sedunia yang benar-benar legitimet.

Kaum Muslimin / Muslimat yang kami hormati !

Bukankah sangat mengherankan, jika ummat Islam yang telah diwajibkan bersatu justru memilih alternatif lain untuk tetap mempertahankan faksinya masing-masing sehingga sukar dan tidak dapat dipersatukan ?

Semoga kesadaran kaum Muslimin/ Muslimat di-era globalisasi dewasa ini dapat mewujudkan kembali kesatuan mereka di bawah sistem Islam ya’ni sistem Khilafah Islamiyyah yang akan membawa misi RAHMATAN LIL’ALAMIN agar setiap makhluk di permukaan bumi ini mendapatkan keadilan dan kesejahterahan lahir & batin atas rahmat kasih sayang Allah SWT ………..Amin.

Kaum Muslimin / Muslimat yang kami hormati !

Apabila sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa sponsor Khilafatul muslimin ini termasuk salah seorang yang berambisi menjadi pemimpin, maka orang yang ambisius tidak boleh lagi diberi kesempatan memimpin dan haruslah diganti dengan orang-orang yang jujur dan tulus ikhlas dan telah membuktikan komitmennya terhadap perjuangan tegaknya Syari’ah Islam ; bukan orang yang hanya pandai ngomong dan berteori di depan meja. Adapun saya secara pribadi benar-benar merasa belum pantas menjadi pemimpin ummat sebagai Khalifah / Amirul Mu’minin.

Melalui konferensi ini, saya saya hanya berharap kiranya kaum muslimin/ muslimat dapat menghindari diri dari sifat-sifat ta’as-shub golongan apapun alasannya untuk dapat mengutamakan AL-JAMA’AH WAL JAMA’AH dengan tulus ikhlas dan penuh kerelaan hati.

Artinya :Sekiranya Rabbmu (Hai Muhammad) menghendaki pasti dapat menjadikan ummat manusia menjadi satu ; tetapi mereka senantiasa dalam perselisiahan kecuali siapa yang dirahmati oleh Rabmu dan untuk itulah Allah mencipatakan mereka. Kalimat Rabbmu telah sempurna ditetapkan yaitu : Aku (Allah) pasti akan memenuhi neraka Jahanam dari semua jin dan manusia ( yang tidak bersedia patuh pada ketentuanNya ).

Sungguh,….. Maha benar Alloh ; bahwasanya hanya orang-orang yang mendapatkan rohmat-Nya semata, yang dapat menjadi satu ummat (ummatan wahidatan) bersatu dalam wadah wihdatul ummah yang tidak membesar-besarkan perselisihan penyebab perpecahan antara orang-orang yang sama beriman kepada Allah dan hari kemudian. Karena itulah maka Allah telah memerintahkan, agar orang-orang yang mengaku beriman, benar-benar memegang teguh tali Allah secara keseluruhan tanpa dibenarkan untuk berpecah-belah dalam menegakan Ad-Dien mengemban misi “RAHMATAN LIL ‘ALAMIN. (As-Syura : 13)

Kaum muslimin/muslimat yang berbahagia !Sekiranya ada sebuah pertanyaan dalam diri kita. Adakah kita ingin bersatu ?

Memang itulah kewajiban kita sebagai muslim. Maka bersatu itu tidak sukar bagi orang yang mau bersatu dan tulus ikhlas; sebab bersatu itu hanya sukar bagi orang yang tidak bersedia bersatu dan tetap membanggakan golongan. Jadi seponsor perpecahan adalah orang yang berkata bahwa kita belum dapat bersatu dan sebaliknya sponsor persatuan itu adalah mereka yang berkata bahwa kita saat ini juga wajib bersatu untuk dapat menta’ati Allah, Rasul dan Ulil Amri dari orang-orang yang beriman. Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Enam Bukti Bahwa Para Penguasa Murtad    

Ini adalah sebuah kebiasan baru yang terjadi di saat telah dekat hari penghakiman, bahwa orang-orang datang dan mambuat alasan untuk pemimpin-pemimpin, mereka mengutip dari Ibnu Abbas yang berkata kafirr duna kafir pada ayat dimana Allah berfirman,  …Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.  (QS Al Maidah 5 : 44)   

Ini adalah ayat yang digunakan banyak orang untuk membuktikan bahwa penguasa adalah bukan kafir. Namun ayat ini sangat jelas, bahwa siapa saja yang melakukannya demikian adalah kafir, mereka berharap untuk dapat memutar balikan ayat ini, dan menyandarkan pada Ibnu Abbass bahwa dia pernah berkata bahwa kafir yang dimaksudkan ayat ini adalah, kafir duna kafir, dan oleh karena itu mereka menyimpulkan bahwa pemimpin saat ini adalah bukan kafir.   Kafir berarti kebalikan dari iman, begitu juga ketika Allah (swt) berfirman bahwa “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Kita tidak bisa sekarang mngatakan bahwa mereka adalah muslim, atau mereka itu adalah kurang kafir dari kafir   Lebuh lanjut, alasan mengapa orang-orang-menyebut mereka kufur adalah bukan karena ayat ini, bagaimanapun itu adalah sesuatu yang mudah terbukti bahwa mereka kafir bahkan tanpa ayat ini sekalipun. Penguasa-penguasa yang ada adalah kafir karena beberapa alasan:   

1.      MELANGGAR PILAR PERTAMA DARI TAUHID   

Mereka yang tidak memenuhi dua pilar tauhid, seseorang yang tidak mempunyai pilar tauhid berarti kafir, pilar yang pertama adalah KUFUR BIT THAGHUT, para penguasa tidak menolak thoghut, dan kemudian mereka menjadi musyrik dan kafir.   Semua orang yang beriman kepada Allah tanpa menolak kekufuran dan thaghut berarti bukan umat Islam. Allah Berfirman, …barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus… (QS Al Baqarah 2 : 256)   

Iman para penguasa tanpa menolak thaghut adalah seperti imannya para Quraisy, Quraisy percaya kepada Allah, dan menyatakan bahwa Dia adalah sang pencipta, tetapi mereka tidak menolak thoghut, dan Muhammad (saw) memerangi Quraisy karena mereka tidak menolak thoghut, pada saat mereka beriman pada Allah (swt).   Mereka yang tidak menolak thaghut seperti PBB (Perseriktan Bangsa Bangsa), PBB adalah sebuah konstitusi yang berdasar pada hal-hal tertentu, ini adalah organisasi kufur yang berdasarkan pada kedaulatan manusia, siapapun yang memberikan kedaulatan selain dari pada Allah (swt) adalah thoghut, semua penguasa yang dengan senang hati meminta untuk menjadi anggota PBB dan dengan senang hati membayar untuk memelihara keanggotaannya dan mereka dengan senang hati bertahan pada aturan dan hukum kufur mereka, mereka bertahan pada kekufuran menjadikannya otoritas atas mereka dan seluruh kaum muslimin, mereka menerima untuk lima Negara kafir untuk menjadi dewan keamanan untuk mendapatkan sebuah penyerahan atas mereka. Allah (swt) berfirman: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu… (QS An Nisa 4: 60)   

Allah (swt) berkata disini bahwa siapa saja yang mengacu atau condong kepada thoghut dalam perselisihan, seharusnya tidak menyatakan diri sebagai muslim, dan ayat ini adalah berbicara tentang seorang muslim yang tidak kafir, yang tidak mau condong kepada Muhammad (saw) dan menggantinya pada seorang yahudi, Ka’ab Ibnu Asyraf dalam perselisihannya, dan Allah menyebut dia munafik dan kafir.   Semua penguasa yang setuju untuk duduk dengan seluruh orang-orang kafir dan  musyrikin  dari seluruh dunia di PBB, ini adalah kafir Akbar dan membuat mereka menjadi kafir.   

2.      AL ISTIHZAA’- MENGEJEK DIEN DAN PERINTAH ALLAH (SWT)  

 Ini adalah penyakit yang paling berbahaya yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Itu datang dari luar Islam. Ada  banyak buku yang mengejek Dien Islam. Ada sebuah buku yang berjudul “Bagaimana Adam diciptakan”, itu berarti menyatakan bahwa evolusi bertentang dengan Islam. Bahkan ada banyak buku yang membuat gambar ejekan untuk Muhammad (saw), dan buku ini legal dan dizinkan di negeri kaum muslimin. – Mereka mengejek Ulama – Mengejek para muslimah yang menjaga Auratnya – Mengejek para Da’i – Mengejek mereka yang berjuang untuk Islam – Mereka mengejek Ahl Al Islam 

Rasulullah bersabda: 

Siapa saja yang mengejek umat ku, dan sahabat-sahabatku tidak mempunyai kesucian dalam hidupnya.   Banyak saudari-saudari di negeri muslim dilarang untuk masuk Universitas jika mereka menutupi auratnya, dan banyak orang muslim laki-laki yang dilarang belajar pengobatan kecuali mereka mencukur jenggot mereka.   

Banyak orang yang mengejek bahasa Arab – bahasa Al Quran, di negeri Muslim, mereka menyebutkan “bahasa arab adalah bahasa yang kuno, dan mereka akan mengatakan bahwa lebih baik menjadi orang buta huruf dari pada belajar bahasa arab, dan mereka berkata bahwa satu-satunya cara agar Al Quran mudah di kenal dan dengan menerjemahkannya kedalam bahasa latin, Inggris, Indonesia dan Perancis, karena bahasa inggris adalah bahasa yang paling terhormat dan bahasa Arab adalah yang terhina”, ini adalah pengingkaran terhadap Dien, dan seseorang yang berkata maka (seperti Toha Nussein) ia murtad.   

Mereka menghina Hudud, mereka berkata itu adalah barbar dan berkata bahwa jika bangsa Arab melakukan demikian, potong tangan, merejam bagi pelaku zina laki-laki, mereka mengklaim itu karena mereka adalah ‘ketinggalan zaman, bandit, haus darah dan lain-lain.’ Mereka berkata bahwa Al Qur’an sudah tidak relevan lagi untuk diterapakan untuk masyarakat di muka bumi saat ini, dan lebih baik membaca koran dari pada Al Qur’an’, orang yang berkata demikian adalah murtad. Ada buku yang berbicara tentang pembersihan hati Rasulullah (saw) harus di ingkari meskipun bertentangan dengan Al Qur’an.   

Semua buku-buku ini legal di negeri muslim, dan ini merupakan bukti pengingkaran terhadap Dien oleh para penguasa. Allah (swt) menyebut orang-orang kafir di dalam Al Qur’an karena mereka menertawakan dien Allah (swt): Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (QS At Taubah 9 :64-66)  Ayat ini tentang orang-orang yang berbicara sedikit penyakit tentang Hafiz Qur’an, mereka berkata, para Hafiz adalah orang-orang yang berperut besar dan Allah (swt) menyebut mereka Kafir. Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan. niscaya mereka akan berkata: “Apakah yang menghalanginya?” lngatlah, diwaktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS Huud 11 : 8 )   Lebih lanjut, penguasa yang memberi izin untuk program TV di negeri-negeri muslim, membirakan ide-ide kufur dan pemikiran memberlakukan kebebasan semu untuk berbicara, mereka membiarakan Al Qur’an untuk di bacxakan setelah semua dengan ketelanjangan dan keharaman di tanyangkan di TV, mereka membiarakan iklan alkohol dan ketelanjangan. Mereka mempunyai program untuk menghina wanita yang menutupi auratnya, dan imam-imam, dan program-program yang mengejek para hafiz dan ‘fundamentalis’, dan bahkan program-program yang melukiskan para sahabat dan Tabi’in sebagai bandit. Seseorang yang melegalisasi bentik-bentuk ejekan ini adalah kafir.   Mereka membolehakan segala keharaman dan kerusakan di TV dan kemudian istirahat untuk Shalat, atau mereka menyebutkan waktu salat seperti mencampurkan Islam dengan segala kefasikan, fujur dan kekufuran mereka.   Mereka membirakan program-program TV, untuk menghina khimar dan Jilbab, menghina para ulama. Mereka membiarkan iklan riba’ dan segala bentuk keharaman. Mereka memenjarakan seseorang yang menghina para penguasa tetapi menangis ‘kebebasan untuk berbicara’ bagi seorang yang menghina Allah (swt). Ini adalah salah satu bentuk dari mereka yang berbuat kekufuran, bahwa mereka mengejek Dien Islam.  

 3.      AL MUWALAAT MUSYRIKIN DAN KAFIRIN – BERGABUNG DENGAN KUFFAR

MELAWAN UMAT ISLAM   

Allah (swt) berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka … (QS Al Maidah 5 : 51)   

BAGAIMANA JIKA PARA PENGUASA BERSEKUTU DENGAN KUFFAR? 

Allah (swt) berfirman: Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong (QS An Nisa 88-89)   Ayat ini berbicara tentang umat islam di mekkah yang menjadi murtad dengan bergabung dengan tentara Quraisy melawan umat Islam di perang Badar berasal dari kecintaan terhadap negeri mereka dan orang-orang mereka, ketika mereka datang ke Madinah  umat Islam membunuh mereka, ini adalah sebuah aliansi kecil dengan Quraisy dan mereka telah menjadi beriman pada laa ilaha illallah, namun mereka di bunuh karena kekufuran mereka.   Israel mempunyai pakta keamanan dengan Turki, Mesir dan Qatar. Saudi Arabia mempunyai pakta keamanan dengan USA, mereka mempunyai sekutu dengan orang-orang kafir melawan semua memerangi tetangga umat Islam di daerahnya. Orang Iraq tidak pernah masuk kedalam Saudi Arabia, dan sebaliknya mereka membolehkan USA untuk  dan memerangi kaum muslimin di Iraq. Allah (swt) berfirman: Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (QS Al Maidah 5 :52-53)   

4.       AL ISTIBDAAL – MENGADOPSI (ATURAN) SELAIN DIEN ISLAM (MENERAPKAN DEMOKRASI)   

Mereka berkata bahwa mempertahankan demokrasi, berarti bahwa mereka menerima kedaulatan di tangan manusia, Allah (swt) berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. … (QS An Nisa 4 : 58)   Allah (swt) berfirman : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam… (QS Ali Imran 3 : 19)   Pada saat nabi Yusuf (as), Allah (swt) berfirman: … Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah … (QS Yusuf 12 :37-38)  Dia menyebutkan percampuran dien syirk. Ayat-ayat ini adalah penolakan secara jelas tentang demokrasi. Lebih lanjut yang di sampaikan Abu Huraira bahwa Rasulullah (saw) pernah berkata: Siapa saja yang mengatakan laa ilaha illallah dan menolak jalan hidup selain itu, hidupnya dan kekayaannya akan terlindungi….   Hadis ini mewajibkan kita menolak segala sesuatu selain dien (Islam), dan demokrasi adalah sesutau yang sangat berlawanan sebgaiamana anda akan mengambil sesuatu  selain dien jika memeluk demokrasi. Allah (swt) berfirman: Barangsiapa mencari agama selain Dien Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (dien itu) daripadanya (QS Ali Imran 3 : 85)   

5.      SYIRIK RUBUBIYAH – MENGARAHKAN SEBAGIAN DARI ALLAH (SWT) MENGHUBUNGKAN DENGAN DIRI MEREKA   

Dien Allah (swt) adalah dien yang tidak diterapkan di semua negeri muslim saat ini, melainkan para penguasa menggantikan Allah (swt) sebagai pemimpin dan pembuat undang-undang, parlemen yang membuat hukum-hukum dan melegalkan apa saja yang Allah larang, atau sebaliknya melarang apa yang Allah (swt) wajibkan. Di negeri muslim hari ini, tidak ada negeri yang mewajibkan Khimar dan Jilbab bagi para wanita, lebih buruk dari itu bahkan mereka menghukum siapa saja yang memakainya di beberapa Negara.   Di tanah kaum muslimin, kita akan di hukum jika kita melawan konstitusi, para penguasa, atau bendera mereka, kita akan di hukum dan dicap sebagai pengkhianat.   Dibawah hukum buatan manusia, kita akan di hukum jika melanggar hukum buatan manusia seperti menerobos lampu merah pada traffic light, sebagaimana jika kita melanggar hukum Allah (swt), kemudian kita tidak akan di hukum (dibawah hukum buatan manusia) sehingga dilema yang muncul seperti pada mereka yang ingin menegakkannya.   Inilah realitas mengapa mereka disebut thaghut dan kafir, dan seseorang yang membantu untuk menolong mereka dan menerapkan hukum mereka, secara militer atau tidak, adalah thaghut dan kafir, sekalipun ia warga Negara biasa. Sebaliknya orang-orang yang tidak menegakkan hukum-hukumnya dan berjuang melawan penguasa adalah bukan thaghut juga bukan kafir.   Di negeri muslim kita bisa menghina Allah dan rasulNya dengan bebas tanpa mendapatkan hukuman apapun, sebaliknya jika kita bersumpah untuk melawan presiden, kemudian kita akan mendapatkan hadiah untuk menginap di penjara.   Allah (swt) berfirman, Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS At Taubah 9 : 31)   Allah (swt) berfirman: Apakah lebih baik raja-raja yang berbeda daripada seorang?….   Dari pandangan ini para penguasa adalah kafir oleh Istihlah –  memperbolehkan apa yang Allah (swt) larang.   

6.      AT TASYRII – MEREKA KUFUR KONSTITUSI   

Mereka semua mempunyai konstitusi kufur yang melanggar Syariah dan mengeluarkan mereka dari ikatan Islam, Allah (swt) dengan jelas memerintahkan seseorang yang membuat At Tasyrii’ mereka yang membuat hukum dan peraturan selain daripada apa yang ungkapkan, Allah (swt) berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil… (QS An Nisa 4 : 58)   Dan juga, Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka (dengan syriah) (QS Al Maidah 5 : 42)   Dan Allah memperingati kita dari implementasi apapun selain konstitusi dan hukum, Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS Al Maidah 5 :50)   Dan Allah (swt) berfirman, …Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah… (QS Al An’am 6: 57)   Juga Allah (swt) berfirman, Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al An’am 6 : 63)   …Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah… (QS Yusuf 12 : 40)   Ayat diatas mengungkapkan kepada Yusuf (as) tentang kekuasaan, Allah (swt) juga berfirman, Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (QS Yusuf 12 : 67)   “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya. (QS Ar Ra’ad 13 : 41)   …dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS Al Kahfi 18 : 26)   Ayat ini berkata, jangan menjadikan diri kita sebagai sekutu bagi Allah untuk menetapkan keputusan.   Allah (swt) berfirman: Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS Al Qashash 28 : 70)   Sungguh, penerapan hukum kufur dan hukum buatan manusia adalah benar-benar suatu bentuk kekufuran dan tidak ada dari penguasa di negeri kaum muslimin  mempunyai sebuah alasanpun dalam masalah ini.  

ARGUMENTASI YANG MENCOBA UNTUK MELINDUNGI TAWAGHIT   

1)       KUFUR DUNA KUFUR   

Penguasa yang benar-benar kufur dan syirik dan namun akan selalu ada orang-orang yang melindungi mereka dan menyebut mereka muslim. Mereka lebih suka pada hadis yang di sampaikan Ibnu Abbas, bahwa dia berkata “kafir duna kafir” pada ayat (QS Al Maidah 5 : 44). Mereka lebih suka pada tafsir Ibnu Katsir. Bagaiamanapun ketika kita berbicara tentang isu mengenai Ibnu Abbas, kita akan mempunyai sebuah argumentasi atas permasalahan tersebut yang cukup shahih.   Hadis ini yang di permasalahkan pada masa khawarij, mereka datang untuk berdiskusi dengan beliau, beliau tidak pernah menyebut mereka kafir, beliau mengatakan “kafir duna kafir.” Dia telah berdebat dengan Khawarij, ini harus menjadi catatan bahwa tidak ada sebuah isu atas segala ketidakhadiran syariah, syariah telah hadir pada masa mereka, tidak pernah ada di masa mereka seorang penguasa yang memcoba untuk memerintah dengan hukum kufur, tidak seorangpun yang telah menyatakan bahwa kedaulatan atas manusia disamping Allah, tak seorangpun bahwa ia menghadapi dari Khawarij ketika ia mengatakan statemen itu, adalah dari kenyataan para penguasa Negeri Orang Islam.   Hisham Ibnu Hajar Al Maliki, adalah seorang pembawa berita yang lemah, jika demikian maka tak seorangpun dapat menerima berita yang disampaikan darinya – sungguh yang melaporkan itu adalah Ibnu Abbas yang berkata seperti itu. Dan sesungguhnya ada kesepakatan bahwa seseorang yang membuat sebuah humum, adalah kafir. Riwayat yang da’if menyatakan bahwa kaum Khawarij telah berkta pada Ibnu Abbas tentang kesewenang-wenangan Ali dan Mu’awiyah serta orang-orang yang bersama mereka, mereka berkata: Bagaimana anda mengambil keputusan pada seseorang yang menggantikan Allah, dan Allah (swt) berfirman, siapa saja yang memimpin (mengatur) selain dari apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang kafir.” Dan begitu juga Ali dan Mu’awiyah adalah Kafir. “Ibnu Abbas disini berkata “ jenis memutuskan ini adalah kafir duna kafir.   Maka sekalipun hadist ini shahih, pokok permasalahannya tidak sama dengan realitas dari penguasa Thoghut di Negeri Muslim saat ini, apalagi hadis ini lemah dengan begitu tidak bisa diambil.   Ibnu Abbas berkata dalam kisah yang lain, menjawab apa yang telah kaum Khawarij katakan:   Perdamian diantara umat Islam tidak diputuskan dengan selain apa yang Allah telah turunkan. Jika ada suami-istri saling berselisih, salah satu (suami-istri) mengirimkan seseorang dari keluarganya, Allah (swt) mengizinkan kebebasan pada mereka kepada siapa saja yang datang untuk mendamaikan diantara suami istri tersebut, dan demikian untuk alasan yang lebih tepat untuk alasan yang di perbolehkan untuk memutuskan kepada seseorang untuk mendamaikan keduanya (QS An Nisa 4 : 35 & 65) …. Itu tidak sama sebagaimana yang kamu duga.   Riwayat ini shahih dan berlawanan dengan riwayat yang lemah, karena dia tidak  menujukkan bahwa Ali dan Mu’awiyah berdosa sebagaimana yang di sampaikan pada riwayat yang lemah, sebaliknya beliau membersihkan mereka ( Ali dan Mu’awiyah) dari semua kesalahan.   Sekalipun tidak, itu hanya bisa digunakan sebagai kafir duna kafir tidak jika seseorang menetapkan dengan hukum kufur, tetapi lebih jika mereka menindas orang-orang dan tidak memberikan apa  yang seharusnya kepada orang-orang. Ini adalah dosa, bukan kafir, sebagaimana pokok permasalahan ayat  adalah bukan demikian dan  seseorang yang memimpin dengan hukum kufur adalah kafir.   Bara’ bin Azib berkata pada ayat ( QS Al Maa’idah 5 : 44,45 dan 47) “Ayat ini mengungkapkan tentang semua orang-orang kafir (Muslim, Asbabun Nuzul [QS Al Maa’iddah 5 : 44,45 dan 47])   Maka tidak ada cara menyatakan bahwa ayat-ayat ini adalah berbicara tentang kafir duna kafir, itu adalah tidak mungkin karena kuffar adalah kafir. Itu seharusnya adalah kafir Akbar.   Ketika golongan Khawarij memberlakukan ayat tersebut ditujukan pada situasi bangsa Yahudi, tidak akan ada perselisihan, karena Kufur akan sama menjadi kufur dan tidak akan ada Takwil, pada ayat, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Al Maa’idah 5 : 44)   Ayat ini dengan jelas berbicara tentang ahli kitab, jadi bagaimana bisa bahwa ayat ini berbicara tentang kafir duna kafir.   Jika itu sedang membicarakan tentang keimanan dari ahli kitab, bisa jadi dapat diterima sebagaimana orang-orang yang beriman dari ahli kitab pada masa Rasulullah (saw), atau itu harus digunakan pada keduanya orang Islam dan Kafir, tetapi jika kita melakukan demikian, kita tidak bisa memberlakukan kafir duna kafir sebagiamana yang awalnya berbicara tentang orang-orang kafir.   Kita harus ingat Ibnu Abbas tidak pernah berkata tentang situasi pemerintah toghut, atau menetapkan dengan hukum kufur, bahkan dalam hadis yang dhaif, beliau berbicara tentang kesewenang-wenangan, ini sangat berbahaya yang di atributkan pada seorang sahabat bahwa dia berkata seperti mereka menyatakan bahwa pemerintah thoghut adalah bukan kafir.   

2)       MEREKA MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH  

Mereka membantah bahwa mereka mengucapkan laa ilaha illallah, dengan demikian bagaimana kita bisa menyebut mereka kafir.   Umar Al Asykar berkata: “Bagaimana bisa kamu menyebut mereka kafir? Mereka orang-orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah, dan Rasulullah (saw) melarang Usama bin Zaid, untuk membunuh seseorang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, dan hadis menyatakan tidak mengucapkan pada seseorang yang mengucapakan kepadamu salam, bahwa ia adalah seseorang yang tidak beriman.”   Allah (swt) berfirman: Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran 3 : 7)   Menyatakan kepada kita bahwa tidak segala sesuatu yang terbuka untuk ijtihad, banyak hal ada yang diterangkan  secara jelas dan tidak dapat dibantah, hanya ada beberapa hal yang samar, bahwa jika sesuatu datang secara umum, maka hanya Allah saja yang dapat mengkhususkan sesuatu tersebut. Seperti contoh Allah (swt) berfirman “shalatlah…” ini adalah abstrak (mujmal), Allah menjelaskan pada teks yang lain berapa banyak dalam sehari dan sebagainya, tidak ada seorang Alim yang bisa mencotohkan hal ini dan mengatakan kepada kita bagaiamana cara mendirikan shalat.   Pernyataan yang menyatakan bahwa para penguasa mengucapakan laa ilaaha illallah, bisa di counter pada sudut pandang ini. Dan hadis yang mereka kutip di luar konteks bahwa yang berbunyi: “siapa saja yang mengucapkan laa ilaha illallah meyakini dan hatinya akan masuk surga.”   Ayat yang berbunyi: “ siapa saja yang menentang Allah dan rasulNya akan tinggal di nereka selamanya.”   Inilah sebab golongan Khawarij menjadi bingung, karena mereka yang akan berada di dalam neraka selamanya adalah orang-orang kafir, sehingga mereka mengambil semua kedurhakaan adalah kafir. Sebagaimana Allah (swt) menerangkan di lain ayat, dimana Dia berfirman, Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya…. (QS An Nisa 4 : 116)   Lebih lanjut iman bukan hanya apa yang dikatakannya, itu adalah untuk dikatakan di percaya dan melakukannya. Iman adalah apa yang di ucapkan, dilakukan dan didalam hati, jika ada dari tiga pilar ini hilang atau ditiadakan seperti dengan kata-kata atau dengan perbuatan kufur, maka keseluruhan iman akan hilang. Demikian itu adalah mengapa banyak pemimpin yang mengucapkan laa ilaha illallah, pada saat mereka ‘ditemani’ syirik besar atau kafir besar seperti berlemah lembut di depan berhala atau pada aturan selain dari pada apa yang telah Allah (swt) sampaikan atau mengejek Dien Allah dan lain-lain, mereka akan meninggalkan ikatan Islam dengan sadar ataupun tidak, sungguh Allah (swt) menginformasikan  kepada kita orang-orang yang mengucapkan kalimah (syahadatain) dan menyatakan diri beriman kepada Allah dan masuk Islam, namun mereka adalah musyrik atas ‘kecintaan’ mereka pada thaghut (seperti kecintaan mereka pada pengadilan barat atau hukum buatan manusia, PBB, hukum international atau pada hakim yang memutuskan selain dari apa yang telah Allah (swt) sampaikan), Allah (swt) berfirman, Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghu, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS An Nisa 4 : 60)                                

DAULAH ISLAM 

Negara Islam mempunyai dua pilar yang utama: 

1.      Hukum Islam dan peraturannya 

2.      Kekuatan dan kekuasaan  

Jika 2 pilar tersebut dapat diraih kembali, maka negara Islam niscaya tidak lama lagi akan tegak. 

Beberapa syarat untuk tegaknya pilar-pilar tersebut:   

1. Harus ada propinsi (wilayah tertentu)  

2. Harus ada warga negara  

3. Harus ada pemimpim  

4. Harus ada hukum dan peraturannya   

Negara Kufur  “ Suatu negara yang terdiri dari beberapa wilayah/daerah yang hukum dan peraturannya adalah kufur, meskipun penduduk yamg mendiami mayoritas muslim.” 

Imam Al-Kasaani berkata:  “ Tidak ada perselisihan/pertentangan pendapat diantara ahnaaf (ulama), tentang negara yang menjadi negara Islam yaitu ketika peraturan Islam menjadi dominan (diterapkan), akan tetapi terdapat perselisihan pendapat diantara saudara-saudara kita tentang negara Islam yang kemudian berubah menjadi negara kufur, Imam kita berkata, ”Negara Islam akan menjadi negara kufur jika ada dalam 3 kondisi, yaitu:   

1.       Ketika hukum dan peraturannya menjadi kufur

2.       Ketika daerah perbatasan negara Islam dengan negara kufur tidak ada perjanjian

3.       Ketika di negara Islam tersebut tidak memiliki keamanan lagi untuk orang-orang muslim dan kafir dhimmi.” 

Imam Al Sarkhaasi berkata: “Suatu negara menjadi negara Islam ketika hukum-hukum Islam menjadi dominan (diterapkan)”. (Mabsut vol.10,p.114)   Imam Ibnu Qoyyim berkata: “Jumhur ulama berkata negara Islam adalah negara di mana kaum muslimin dapat pergi dan tinggal di sana dan peraturan-peraturan Islam dapat diterapkan jika masyarakat tinggal di suatu tempat dan Islam diterapkan maka daerah tersebut termasuk ke dalam negara Islam dan jika aturan Islam tidak diterapkan maka tidak bisa disebut dengan negara Islam meskipun negara tersebut dekat dengan negara Islam, Tha’if adalah daerah yang dekat dengan Mekkah tetapi tidak menjadi negara Islam sampai ditaklukkan.” (Kitab Ahkam Ahl Dhimmah vol.1p.366)   Imam Ibnu Muflih berkata;  “ Hanya ada dua negara yaitu negara Islam (Darul Islam) dan negara Kufur (Darul Harb), negara-negara yang diterapkan hukum-hukum Islam adalah negara Islam dan negara yang diberlakukan hukum kufur atas daerahnya adalah negara kufur, sehingga hanya ada dua perkampungan masyarakat (yaitu masyarakat kufur dan masyarakat Islam).” (Al Adaab Al Shari’ah vol.1 p.190) Qadi Abu Ya’la berkata: “Setiap negeri yang menerapkan hukum-hukum kufur adalah negeri kufur”. Imam Al Mawardi berkata : “Darul Harb adalah Darul Kufur di mana hukum-hukum kufur diterapkan di tempat tersebut.” Imam Saukani berkata : “Ketika kita berbicara tentang negara, maka kita dapat menilai dengan melihat sesuatu yang mendominasi negara tersebut, jika aturan tersebut aturan dan larangannya diperuntukkan bagi orang-orang muslim, kemudian di sisi yang lain tidak ada seorang pun dari orang-orang kafir yang bisa menampakkan kekufurannya kecuali dengan apa yang diakuinya dari aturan-aturan Islam maka negara tersebut adalah negara Islam.” Imam Abdullah Abu Butain (Salah satu ulama Najd ) “ Negara ada 2 tipe yaitu negara Islam atau negara kufur, negara Islam adalah suatu negara di mana peraturan-peraturan Islam diberlakukan kepada semuanya walaupun seandainya tidak ada seorang muslim pun di sana tapi hukum-hukum Islam tetap diberlakukan dan jika kebalikannya maka negara tersebut adalah negara kufur”. Sayyid Quthb berkata: “ Negara yang ada di seluruh dunia dalam pandangan Islam dibagi menjadi dua bagian, yang pertama negara Islam (Darul Islam), dan yang kedua negara kufur (Darul Harb), Negara Islam adalah negara di mana hanya syariat Islam yang diterapkan tanpa memperhatikan mayoritas dari penduduknya apakah semuanya muslim atau muslim dan kafir Dhimmi atau semuanya kafir Dhimmi dengan hanya beberapa muslim. Negara Kafir atau Darul Harb adalah negara yang memiliki beberapa wilayah yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum kufur meskipun setiap orang yang ada di wilayahnya muslim.” (Fi Zhilal Al-Qur`an) 

Kenapa Kekuasaan Itu Penting ? 

Imam Abu Yusuf dan Imam Shaibaani berkata:  “ Suatu wilayah atau daerah akan diatributkan kepada kita (Islam) atau mereka (kafir) dengan melihat siapa yang memegang kekuasaan dan dengan melihat macam peraturan yang diterapkan atas wilayah tersebut.”  Allah SWT berfirman:  “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, kepada mereka malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab:”adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah).” Para malaikat berkata:”bukankah bumi Allah itu kuas sehingga kamu dapat berhijrah di negeri itu?” (QS.An Nisa’ (4) :97)  Allah memerintahkan kepada kita dalam Al-Qur`an, bahwa kita diperintahkan untuk hijrah dari tempat di mana kita tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan menuju ke tempat di mana kita akan mempunyai kekuasaan dan kekuatan. Ibn Hazm berkata bahwa Rosulullah saw bersabda:  ” Saya bebas dari setiap orang yang hidup di antara orang-orang musyrik dan gilirannya kembali kepada orang-orang muslim.”  

Tipe-tipe Daulah Islam 

Sekarang ini tidak ada negara Islam, begitupun juga jika kita mengklasifikasikan negara Islam fakta yang ada sekarang tidak ada. Kita saat ini membicarakan negara Islam dan macamnya pada masa lampau, dan masa yang akan datang (yang Insyaallah akan segera berdiri) 

A.     Darul Baghie (Daerah Pemberontakan) 

Daerah ini masih dalam bagiannya negara Islam, bukan dalam bagian negara kufur. Daerah ini dimasukkan ke dalam Darul Baghie, ketika masyarakat yang ada di sana melakukan pemberontakan melawan pemerintahan Islam, seperti daerah Khawarij, Al Haruriyyah yang dikenal sebagai darul baghie, ketika mereka melawan Shahabat Rosulullah.  Ibn Abbas menyebutnya dengan Darul Baghie dan menyebutnya sebagai Kufr duna kufr (kufur dunia).Kebalikan dari daerah ini adalah Darul ‘Adl. Daerah ini merupakan bagian dari Darul Islam (negara Islam), tetapi jika kemudian terdapat pemberontakan terhadap Darul Islam maka disebut Darul Baghie, tetapi tidak meliputi semua bagian dari negara Islam. 

B.    Darul Fusuq/Darul Fasiq (Daerah Dosa) 

Daerah ini disebut Darul Fusuq ketika terjadi beberapa perbuatan fasiq yang berkembang di beberapa bagian daerah dari pemerintahan Islam, misalnya Ja’far bin Mubashir adalah salah seorang yang berkata bahwa “hijrah adalah fardhu dari tempat perbuatan fasiq (bagian daerah pemerintahan Islam).” Mereka membuat qiyas atas hijrah dari negara kufur, tetapi ini merupakan qiyas yang tidak beralasan/tidak tepat, sebagaimana kamu tidak dapat menggunakan qiyas negara Islam sebagai negara kufur. Misal ketika musik mulai menyebar di setiap tempat dan khalifah tidak mensahkannya tetapi tidak juga menindaknya maka hal ini akan menjadi suatu ucapan tentang kekufuran (Kufr duna kufr). Sebagaimana firman Allah SWT : “ Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur`an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir dalam jahannam.”(Qs.An Nisa’ (4) :140) Satu dari macam-macamnya yaitu berupa ejekan mengatakan perkataan-perkataan kotor tentang apa yang telah diketahuinya sebagai suatu yang penting/perlu tetapi mengatakan “saya tidak butuh akan hukum syara’, berhukum kepada thoghut. Jika kamu berada dalam situasi antara semua kefasikan dan kekufuran, maka kamu harus menghindari/menjauhi kejahatan dan kamu harus meninggalkan mereka semuanya.  Allah SWT berfirman: ”Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami maka tinggalkan olah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaiton menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dholim sesudah (akan larangan itu).” (QS. Al An’am (6) : 68) Al-Khaud adalah ketika kamu berbicara tentang sesuatu bahwa mereka tidak layak untuk berkata mengenai hal tersebut, kita tidak pergi ke tempat pertemuan dimana orang-orang berbicara tentang hawa nafsu dan bid’ah. Darul Fisq dijelaskan dalam hadist dari Sa’id Al Khudri bahwa Rosulullah saw bersabda: ” Ada seseorang sebelum kamu yang membunuh 99 orang kemudian ia mendatangi seorang pendeta dan berkata,”Aku telah membunuh 99 orang ,maka apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat, pendeta itu berkata”Tidak, kemudian dia membunuh pendeta itu dan ia melakukan pembunuhan menjadi 100 kali. Setelah itu ia mendatangi seorang pendeta yang lain,”Aku telah membunuh seratus orang, maka apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat? Pendeta itu berkata,”Ya, pergilah kamu ke tempat di mana  masyarakatnya adalah orang-orang yang melakukan ibadah pada Allah dan janganlah kembali ke rumahmu, karena sesungguhnya ia daerah Fisq (kemudian dia mati di jalan itu (dalam keadaan taubat)). (HR.Bukhori) Suatu tempat di mana dia hidup adalah tempat orang-orang fasiq, tempat orang-orang yang melakukan kefasikan, dan dia dituntut atas hal tersebut karena tidak ada taubat, tetapi masih ada taubat untuk segala macam dosa kecuali syirik. Imam Syaukani berkata : “Darul Fisq adalah tempat dimana perbuatan dosa tersebar tetapi bagi muslim yang ada di sana harus meninggalkan tempat tersebut dan orang-orang yang ada di sana harus di hukum dan tempat tersebut akan dikenal sebagai Darul Ma’assi sampai kekufuran berkembang di sana (kemudian akan menjadi Darul Kufr). C.    Darul Dhimmah (Daerah yang dihuni oleh orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan penguasa muslim/khalifah) Darul Dhimmah adalah bukan Darul A’had, sebab Darul A’had berada dalam Darul Kufur .Darul Dhimmah adalah klasifikasi dari negara Islam, ketika terdapat orang-orang kafir dhimmi tetapi daerah tersebut bisa juga dihuni oleh bukan orang-orang kafir dhimmi yaitu orang-orang muslim. Misalnya Khaibar dibawah kepemimpinan Rosulullah saat itu adalah Darul Dhimmah, dijelaskan bahwa: ” Jika seorang amir dari beberapa pasukan mengelilingi musuh untuk beberapa kota kemudian beberapa dari mereka (penduduk kota) berkata mereka akan menjadi muslim dan beberapa dari mereka berkata akan menjadi kafir dhimmi, maka langkah yang terbaik adalah membiarkan mereka untuk menjadi muslim dengan memberlakukan hukum Islam atas mereka dan melihat kesudahan mereka dalam menjalankan urusan dengan hukum Islam (Kitab Al Siyar vol.5) Ahlu Dhimmi adalah seseorang yang menerima atau bersedia hidup di bawah hukum Islam dan diatur olehnya, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh madzhab Imam Hanafi “mengikuti hukum suatu negeri”.  

Dapatkah wanita berpartisipasi dalam jihad?

Allah swt. menjadikan jihad kewajiban atas laki-laki muslim, persoalan apakah wanita dapat berpartisipasi dalam jihad membutuhkan adanya klarifikasi. Seorang muslimah di masa Rasulullah saw. dikisahkan ikut serta seperti halnya laki-laki dalam jihad, perang fisik dengan orang-orang kafir dan terlihat juga keinginan mereka untuk mengorbankan hidup mereka untuk Allah swt.


Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:


”Saya bersumpah, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya berharap bahwa saya dapat berperang untuk Allah (yaitu jihad) dan memperoleh syahid, kemudian kembali dan berperang lagi dan mendapatkan syahid, kemudian kembali dan berperang lagi lalu mendapatkan syahid.” (Al-Bukhori dan Muslim)


Karenanya tidak mengherankan bahwa seorang wanita terlalu lama untuk mencapai ke-syahidan-nya. Ini merupakan dorongan untuk memperoleh pahala yang besar yang telah Allah berikan atas mujahidin. Keikutsertaan wanita dalam jihad telah dicontohkan oleh salah satu Ummul Mukminin, Ummu Salamah r.a., ketika ia mengambil bagian dalam perang khaibar. Dia (Ummu Salamah) berkata, ”Saya berharap bahwa Allah menjadikan jihad kewajiban bagi kita sebagaimana Dia (Allah) mewajibkannya bagi laki-laki”.


Kemudian Allah swt. menurunkan ayat yang berbunyi:


“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu”. (QS. An Nisaa’( 4) : 32).


Ini juga diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa dia bertanya kepada Rasulullah saw., :


”Ya Rasulullah! Kita mengetahui bahwa Jihad adalah perbuatan yang terbaik. Kita tidak berperang (berjihad) karena Allah tidak mewajibkannya bagi kita? “ Beliau menjawab, “Jihad terbaik (bagi wanita) adalah haji yang mabrur (yaitu aktivitas haji yang dilakukan sesuai dengan tradisi kenabian dan diterima/disahkan sebagai amal ibadah oleh Allah atas kaum muslimin.” (HR. Bukhari)


Hadits-hadits tersebut mengindikasikan bahwa tidak ada jihad Qitaal yaitu jihad berperang bagi wanita kecuali dalam keadaan darurat, yakni situasi defensive (mempertahankan diri). Jika seorang istri dari mujahid tinggal di rumah dan mengurusi kebutuhan suaminya, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengannya (suaminya yang menjadi mujahid). Asma’ binti Yazid bertanya kepada Rasulullah saw. atas nama wanita, “Ketika mereka (kaum laki-laki) pergi berjihad, kami berada di samping kiri rumah untuk melindungi perbekalan mereka dan tinggal di rumah untuk mengurusi keluarga. Apakah kami tidak juga berhak mendapat pahala yang sama dari Allah?” Rasulullah saw. menjawab, “Tolong, pergilah dan katakan kepada para wanita yang kamu wakili bahwa dengan melakukan kewajibanmu kepada suamimu dengan cara yang baik, menjaga apa saja yang akan membuatnya senang dan mengikuti mereka dengan setia, maka kamu akan mendapatkan keridhaan Allah yang besar dan Dia akan memberikan kepadamu pahala yang sama sebagaimana pahala yang telah dijanjikan kepada laki-laki.”


Contoh utamanya adalah Sohaila, istri dari Farrukh, orang yang kembali dari jihad setelah 30 tahun, ditemukan bahwa istrinya telah membelanjakan semua simpanannya (30.000 dinar) yang dia tinggalkan untuknya (istrinya) sebelum ia pergi jihad, untuk keperluan biaya pendidikan anaknya Rabi’ah ibn ‘Abdur Rohman. Dia (anaknya) berhasil menjadi salah seorang dari 7 ulama terkenal di Madinah Al-Munawwarah. Di antara murid Sheikh Rabi’ah adalah Imam Malik, Imam Sufyan Ath-Thauri dan Imam Laith Ibn Sa’ad.


Catatan dokumentasi mengatakan bahwa Rasulullah saw. selalu mengajak salah seorang dari istri-istrinya untuk menemaninya dalam medan perang. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a., “Kapan saja Rosulullah saw. bermaksud untuk mengadakan perjalanan (perang/jihad), dia mengundi istri-istrinya dan jatuhlah undian itu kepadaku, sehingga saya pergi menemani Rasulullah dan kejadian itu terjadi setelah turunnya ayat tentang hijab”. (Al-Bukhori).


Dalam hadist riwayat Bukhori juga meriwayatkan, pada masa Yazid Bin Hurmuz, Najda telah menulis kepada Ibnu ‘Abbas r.a. yang sedang menyelidiki 5 perkara, 2 perkara di antaranya berhubungan dengan wanita dan jihad. Najda menulis,….”Katakan kepadaku apakah Rasulullah saw. telah menempatkan wanita untuk berpartisipasi dengannya dalam jihad” (Jika beliau melakukannya), apakah Beliau memberikan kepada mereka bagian dari harta pampasan perang….”


Ibnu Abbas r.a. menulis jawabannya, ….”Anda menulis pertanyaan kepadaku apakah Rasulullah telah menempatkan wanita untuk berpartisipasi dengannya dalam jihad?. Beliau (Rasulullah saw.) memang telah menempatkan mereka (para wanita) dalam peperangan dan sesekali juga dia (Rasul saw.) berperang bersama dengan mereka (para wanita). Mereka mengobati orang-orang yang terluka (dalam perang) dan mereka diberikan suatu imbalan dari harta pampasan perang, tetapi dia (Rasul saw.) tidak memberikan bagian tertentu kepada mereka…”


Ummul Mukminin r.a. dan istri-istri para sahabat r.a. tidak berangkat dalam medan perang dengan maksud untuk berperang secara fisik dengan orang-orang kafir akan tetapi mereka pergi ke medan perang dengan membawa peran-peran yang Allah swt. dan Rasul-Nya telah memberikannya kepada mereka.


Peranan wanita Dalam Medan Perang


Ada banyak bukti yang menunjukkan peranan wanita dalam medan perang, hal ini digambarkan dalam kitab-kitab hadits yang menggambarkan tentang tugas wanita dalam medan perang, diceritakan bagaimana keberanian muslimah dalam medan perang selama masa Rasulullah saw., diantaranya, :


Merawat Orang-Orang Yang Terluka


Diriwayatkan oleh Abu Hazim, Sahl bin Sa’ad bertanya tentang luka Rasulullah saw., Beliau bersabda, “Fathimah, anak perempuan Rasul (pada saat perang), melakukan tugas untuk membersihkan luka dan Ali bin Abi Thalib menuangkan airnya. Ketika Fathimah melihat bahwa luka tersebut ada gangguan perdarahan, maka dia mengambil potongan kain lalu membakarnya, kemudian memasukkan abu tersebut ke dalam luka sehingga darah (pada luka) bisa membeku (dan perdarahan berhenti). Suatu hari gigi taringnya (Ali) patah dan mukanya terluka , topi bajanya patah tepat pada kepalanya.” (Al-Bukhari).

Menyediakan Air Bagi Yang Haus


Diriwayatkan oleh Anas r.a., “Suatu hari dalam perang Uhud ketika sebagian orang mundur dan meninggalkan Rasulullah, saya melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim dengan menyisingkan baju mereka, terdengar letusan di sekitar mereka, mereka tampak terburu-buru dengan membawa air (dalam riwayat lain disebutkan mereka membawa air di punggung mereka). Kemudian menuangkan air tersebut dan meminumkannya kepada orang-orang yang haus dan mereka kembali memenuhi air lagi serta datang kembali untuk menuangkan air dan meminumkannya kepada orang-orang lagi.” (Al-Bukhari)


Menyiapkan Makanan Bagi Para Mujahidin


Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.a., “Ketika terjadi penggalian parit, saya melihat Rasulullah berada dalam keadaan lapar. Saya pulang untuk menemui istriku dan berkata kepadanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu (untuk dimakan) karena saya melihat Rasulullah berada dalam keadaan lapar.” Dia membawakan kepadaku sebuah kantong yang berisi 1 sa dari sejenis gandum dan kita memiliki binatang yang aku sembelih kemudian istriku memasak sejenis gandum tadi dan dia menyelesaikannya tepat waktu, aku pun menyelesaikan pekerjaanku. Kemudian aku memotong daging menjadi potongan-potongan dan menaruhnya ke dalam panci yang terbuat dari tanah (memasaknya) dan kembali menemui Rasulullah. Istriku berkata, ”Jangan permalukan aku di depan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya”. Jadi aku pergi menemuinya dan mengatakan kepada beliau secara diam-diam, “Ya Rasulullah! Saya telah menyembelih hewan betina milik kita dan kami memiliki satu Sha’ Gerts (sejenis gandum). Jadi datanglah bersama beberapa orang teman Anda. Rasulullah mengeraskan suaranya dan mengatakan, “Wahai saudaraku yang sedang menggali parit! Jabir telah menyiapkan makanan, mari kita pergi” Rasulullah berpesan kepadaku, “Jangan angkat daging yang ada di dalam panci (dari tempat pembakarannya) atau adonan mu sampai aku datang”. Kemudian saya datang (ke rumahku) dan Rasulullah datang juga mendahului sebelum yang lainnya datang. Ketika aku datang kepada istriku, dia berkata, “Apakah yang akan Allah tetapkan terhadap kamu?” Saya berkata, “Saya menyampaikan kepada Rasulullah apa yang kamu katakan.” Kemudian dia (istrinya) menyajikan adonan itu kepada Rasulullah dan dia (Rasul) memanggangnya dan memohon keberkahan Allah di dalamnya. Kemudian dia (Rasul) maju ke depan di hadapan potongan-potongan daging yang ada di panci dan pemanggangan dan berdo’a untuk keberkahan di dalamnya. Lalu Beliau berkata (kepada istriku), “Panggillah seorang wanita tukang roti untuk membuat roti bersamamu dan memasak potongan daging yang ada di panci tersebut dan jangan angkat dari tempat pembakaran.” Mereka satu persatu hingga ribuan orang (mengambil dan memakan daging tersebut) dan demi Allah mereka semua telah makan dan ketika mereka selesai makan dan pergi, potongan daging yang berada di panci masih penuh dengan daging seperti tidak berkurang dan adonan rotinya pun seperti tidak ada yang mengambil.


Memanggul Senjata Untuk Para Mujahidin


Diriwayatkan oleh Ummu Ziyaad r.a., “Dalam perang Khaibar saya sendiri dan 5 orang lainnya adalah wanita berada pada perang tersebut. Rasulullah Muhammad saw. mempelajari (keadaan ini) dan mengirimkan mereka untuk kita. Beliau (saw) berkata dengan marah, “Siapa yang mengizinkan kamu untuk keluar dari sini? Siapa yang membawa kamu ke tempat ini?” Kami berkata, “Ya Nabiullah! Kami sekarang bersatu dan kami memiliki pengobatan yang bersama kami, kami bisa membantu para mujahidin dengan menyuplai mereka dengan anak panah, dengan mengobati mereka ketika mereka sakit dan menyiapkan makanan bagi mereka.” Rasulullah kemudian mengizinkan kami untuk tinggal” . (HR. Abu Dawud) .

Memberikan Semangat Kepada Para Mujahidin Untuk Tetap Bertahan


Selama perang Uhud, Saffiyah binti Abdul Mutholib r.a., bibi Rasulullah saw. berdiri dan mengayunkan tombak ke depan sambil berkata, “Apakah kamu mencoba mengalahkan Rasul?” Semoga Allah memberkatinya dan memberikan kedamaian kepadanya.
Juga, selama perang Uhud, ketika Nusaibah binti Ka’ab, anak laki-lakinya Abdullah sedang terluka berat, dia (Nusaibah) membalut lukanya dan memerintahkan padanya,”Pergi dan perangilah orang-orang kafir itu wahai anakku!” Mendengar hal ini Rasulullah saw. tersenyum dan berkata, “Siapakah yang dapat memikul apa yang kamu pikul wahai Ummu Umarah!”.

Aktivitas Jihad Saat Ini


Saat ini kita hidup dalam keadaan Khilafah (Negara Islam) tidak ada, oleh karena itu kaum muslimin tidak berada pada posisi berperang Jihad Ofensif dalam perintah untuk memperluas batas kekuasaan khilafah. Jihad saat ini yang ada dalam tanah-tanah (kaum muslimin) yang telah dikuasai (oleh orang kafir) di mana saudara laki-laki dan perempuan kita yang kita cintai berada dalam situasi di mana mereka tidak punya pilihan kecuali berperang jihad defensif (mempertahankan diri). Oleh karena itu seorang wanita (dalam keadaan itu) juga harus berpartisipasi dalam perang secara fisik ketika berada dalam posisi defensif karena itu kewajiban atas setiap wanita untuk mempertahankan kehormatannya, hidupnya, keluarganya, tanahnya, kepemilikannya, hartanya dan agamanya. Seorang perempuan atau seorang istri tidak memerlukan izin dari siapa pun, tidak juga orang tuanya, tidak juga suaminya dalam kasus ini.


Dia boleh melakukan apa saja yang diambilnya untuk mempertahankan dirinya sendiri jika dia menemukan dirinya berada pada posisi seperti saudara muslimah kita dalam Darul Ghasab seperti saat ini (yaitu Palestina, Chechnya, Irak, Afghanistan, Kashmir, dan lain-lain).Serupa dengan seorang muslimah yang seharusnya seperti sejarah, mereka telah memiliki beberapa peranan (dalam jihad), kita temukan mereka saat berada pada posisi defensif, seperti yang dialami oleh Nusaibah r.a. dan Ummu Sulaim r.a. selama perang Uhud dan perang Hunain yang terjadi secara berturut-turut. Siapa pun wanita muslimah tersebut jika ditemukan pada diri mereka berada dalam medan perang maka mereka harus terjun dan menjadi kewajiban untuk mendukung jihad baik secara lisan maupun finansial.


Wallahu’alam bis showab!

 

“Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rosulullah SAW menjawab, “ Yang mengikutiku dan para shahabatku.” (HR.Tirmidzi, Hadits no.2565. Juga diriwayatkan dengan kalimat yang sama oleh Abu Salamah dan Abu Hurairoh dalam Kitab Al Fitan dari Sunan Ibnu Majah, hadits no.3981)


Dalam sharah Tirmidzi, Imam Ahwazi berkata :


Jawaban dari hadits ini yaitu hadits dari Abdullah bin Amru bahwa, ‘seluruh golongan itu masuk neraka dan satu yang masuk surga’ dan ini menjadi satu bukti dari Rosulullah SAW bahwa Beliau memberitahukan kita hal-hal yang ghaib. Dan golongan yang selamat itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.’

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rosulullah SAW bersabda :


“Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah.” (HR. Sunan Ibnu Majah, Hadits no.3983, Kitab Al Fitan)

Dari hadits-hadits di atas, telah sangat jelas bahwa akan ada banyak golongan di kalangan kaum Muslimin yang didasarkan pada persoalan aqidah. Juga telah jelas bahwa umat Islam akan terbagi ke dalam 73 golongan dan hanya satu golongan yang mengikuti apa yang dibawa Rosulullah saw. Seluruh golongan yang lain akan masuk neraka (walau pun tidak selama-lamanya). Satu-satunya golongan yang selamat akan dikenal sebagai “Al-Firqah An-Najihah” dan juga diberinama “Al-Jamaa’ah” dan “Ahlussunnah wal Jamaa’ah” atau Al-Ghuroba (Orang-orang ‘asing’). Agar menjadi golongan yang selamat, maka umat Islam harus mempelajari dan memahami istilah-istilah tersebut dan kepada siapa istilah tersebut ditujukan. Hal ini adalah persoalan penting dan utama (aulawiyyat) bagi kaum muslimin dewasa ini.

Saat ini, masyarakat mulai mendiskusikan hukum pengeboman terhadap properti, mobil dan tempat-tempat umum lainnya, dan kami mendengar beberapa pendapat yang menarik bahwa pengeboman dan peledakan tersebut bukan “jalan penyelesaian masalah” atau “kebangkitan”.

Itu adalah pendapat yang sangat menarik, tapi tidak fair, ini adalah sebuah penilaian (analisis) yang tidak adil dari para ‘pengamat’ Islam. Peledakan-peledakan tersebut hanyalah sebuah ikhtiar, dan bukanlah jalan hidup atau metode mencapai tujuan. Oleh karena itu, hukum dari ikhtiar tersebut akan sama dengan hukum dari target dan tujuannya.

Pengeboman punya sebuah tujuan. Memiliki buah dan hasil serta dalil. Ini berbeda dengan apa yang orang simpulkan tentang tujuan pengeboman. Ini bukanlah persoalan benar salah ataupun fair tidak fair bagi seseorang menerima bahwa hukumnya semata-mata berdasarkan upaya untuk menyempurnakan tujuan.

Jika kita menghubungkan persoalan ini dengan setiap persoalan agama, ini hanya akan menyebabkan kebingungan dan terjebak dalam diskusi yang menghabiskan waktu dan tiada ujung pangkal.

Tidak ada keraguan lagi, bahwa akibat dari pengeboman pastilah ada pembunuhan dan kerusakan, beberapa membunuh dengan haq dan sebagian tidak. Sebagai contoh, membunuh seorang Muslim tanpa haq (diharamkan), kecuali dengan alasan yang dibolehkan Islam, seperti ; merajam pezina (muhson), membunuh orang murtad dan menghukum tindakan kriminal, dan lain-lain.

Sedangkan bagi orang kafir, hidupnya tidak memiliki kesucian tanpa memiliki perjanjian damai (dengan khalifah) baik sebagai musta’man maupun dzimmi, meskipun aslinya (orang kafir) tidak memiliki kesucian.

Beberapa peledakan yang tidak didasarkan pada kebenaran (haq) tidak menyebabkan apa-apa kecuali fasad dan kehancuran, akan tetapi peledakan yang didasarkan pada kebenaran (haq) memiliki akibat besar bagi ‘kebangkitan’ dan penyelesaian masalah. Sebuah pengeboman bisa jadi dipuji oleh Allah SWT atau sebaliknya, dilaknat Allah SWT.

Oleh karena itu, untuk mengeluarkan istilah dan argumen baru, mengatakan bahwa itu karena korupsi, perpecahan, dan sebagainya hanya akan menambah kebingungan masyarakat. Orang yang mendiskusikan isu ini harus menggunakan ilmu dan menghindarkan kebingungan masyarakat yang mudah tergelincir oleh perasaannya dan argumen yang menakjubkan.

Mereka (orang-orang yang menggelincirkan umat) menyebarkan kebusukan mereka di tengah-tengah masyarakat, seperti menyebarkan ide-idenya , yaitu ; sekularisme, pluralisme, kasih dan damai untuk sesama, dan sebagainya serta mempropagandakan seruan tersebut sehingga jiwa masyarakat terperangkap olehnya.

Sebuah contoh dalam persoalan ini adalah seseorang yang berbicara dan menyeru orang untuk melawan dakwah, menyatakan bahwa dakwah adalah jembatan menuju Jahannam. Ketika seseorang menuduh mujahidin dan mengutuk mereka sebagai teroris, fundamentalis dan esktrimis, maka sebenarnya mereka sendirilah yang menyeru kepada pintu-pintu neraka Jahannam (du’atun ila abwabi jahannam) sebagaimana yang tertera dalam hadits mulia yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Al Yaman. Lalu, dapatkah orang-orang tersebut (dua’tun ila abwabi Jahannam) mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW di hari Kiamat nanti ? Ingatlah
firman Allah SWT :

“Sesungguhnya syetan-syetan itu mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Faathir (35) : 6)

Sementara ada penyeru yang menyeru kepada kebenaran (haq) dan mereka berada dalam jalan menuju surga, dan ada juga yang menyeru kepada kemungkaran dan mereka berada di jalan menuju Jahannam. Pengebom itu memiliki dua tipe tersebut. Kita harus tahu apa tujuan dan arah operasi mereka? Siapa yang menjadi target dan siapa yang akan dibunuh? Apakah tujuannya mencari ridha Allah SWT ? Apakah targetnya orang Islam atau orang kafir ? Apakah tujuannya membunuh kaum Muslimin atau berperang melawan para agresor ?

Ada banyak pintu menuju surga, salah satunya adalah babul Jihad (pintu jihad). Orang-orang yang haq akan mendapatkan “Izzah” dan kehormatan melawan musuh dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menjanjikan mereka surga dan kemuliaan.

Orang-orang yang mengutuk penyerangan-penyerangan tersebut tidak pernah berhenti berpikir, baik tentang tujuan pengeboman maupun targetnya. Masyarakat (dilandasi perasaan dan rasio semata) mengutuk pengeboman-pengeboman yang terjadi dan tidak pernah berpikir mengapa tempat-tempat tersebut menjadi target pengeboman. Masyarakat bahkan mulai bertanya, “Dapatkah kita menggunakan bom bunuh diri di Palestina ?”

Allah SWT memerintahkan kita untuk menakuti dan menggentarkan orang-orang kafir, musuh Allah dan kaum Muslimin. Allah SWT berfirman :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (QS Al-Anfal (8) : 60)

Tidak ada keraguan lagi, bahwa pengeboman terhadap orang-orang kafir di negeri-negeri kaum Muslimin dan negeri-negeri kufur akan menggentarkan mereka, menakuti mereka dan menjerakan mereka dari menyerang kita lagi.

Kita lihat dewasa ini bahwa tidak ada yang mengguncangkan musuh kecuali penyerangan dan pengeboman dan kekerasan, untuk mencari ridha Allah. Di Palestina, orang Yahudi merasa menderita dan seolah-olah berada di neraka karena secara terus-menerus, setiap hari terjadi penyerangan dan operasi. Akan tetapi mereka (Yahudi) tidak pernah merasa khawatir atau ngeri karena demonstrasi yang dilakukan oleh kaum Muslimin di London, atau di Jakarta.

Kalau kita melihat pria-pria pemberani di abad ini dan pahlawan-pahlawan umat di abad ini, seperti : Abdullah Azzam, Khattab, Muhammad Al Shihri, Ahmad Al Haznawi, Sa’id Al Ghaamidi, Syekh Abul Abbas Al Januubi, Syekh Osama bin Laden, Khalid Ayyash dan masih banyak lagi, orang-orang ini tidak pernah menjadi pahlawan besar, kecuali melalui pemahaman tentang jihad.

Terlihat bahwa seseorang yang ingin menyebarkan ide bahwa pengeboman bukan jalan untuk kebangkitan atau pendekatan rasional hanyalah mencoba menyebarkan pandangannya untuk mengembangkan tarbiah dan pendidikan untuk membangkitkan umat.

Memang, kenyataannya kita mengetahui pentingnya tarbiah dan pendidikan, khususnya untuk memurnikan akidah dalam tubuh umat, untuk memurnikan tauhid dan mengajarkan umat untuk menolak thagut, membangun mereka dalam wala’’ dan bara’, akan tetapi tidak menyangkal seruan jihad dan memerangi agresor, mempertahankan hidup, kekayaan (harta) dan kehormatan kaum Muslimin dengan kehidupan dan tubuhnya. Ini tidak dapat dihentikan (seruan untuk menghentikan agresi melawan kaum Muslimin).

Terlihat bahwa mereka ingin kita melawan agresi dengan diskusi penuh kedamaian dan dengan selebaran-selebaran. Sangatlah aneh seseorang yang berpikir demikian. Dapatkah mereka benar-benar meyakini apa yang mereka katakan ? Atau tidakkah mereka mengerti kebodohan seruan mereka dan tentang apa mereka menyeru kita ?

Bukanlah Allah yang menyeru kita kepada kebodohan-kebodohan, ini hanya tentang kecenderungan dan kecintaan kita kepada dunia dan kebencian kita kepada kematian, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang menggambarkan kondisi umat Islam seperti buih di lautan. Sejarah menceritakan kepada kita beberapa fenomena ketika kita melihat sejarah Bani Israel dan janji kemenangan dan desakan setelah itu, agar mereka meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama mereka. Kita mendapatkan kemiripan, ketika kita tidak mau mengubah kondisi kita, ‘kebiasaan-kebiasaan’ buruk yang kita lakukan.

Kejadian di masa lalu ketika kaum Tartar yang ingin menduduki tanah-tanah kaum Muslimin selama bertahun-tahun. Meskipun demikian orang-orang tidak bergerak untuk menarik urat saraf untuk melawan mereka. Kejadian serupa terjadi di Al-Sham (tempat konferensi-konferensi Islam dilaksanakan), ketika terjadi pendudukan oleh orang-orang kafir. Pada waktu itu penguasa di sana mengirim banyak ulama dan memotivasi mereka untuk berjihad, dan tentu saja hal ini tidak membantu kecuali sedikit.

Apakah keanehan ini masih terjadi sekarang, jika masyarakat menjadi penakut dan tidak merespons seruan jihad atau menyeru perang, kemudian apa yang akan mereka lakukan jika ‘tokoh-tokoh’ mereka menanamkan pada mereka kehinaan dan kekalahan ? Jika mereka menyiapkan kebangkitan dengan slogan mereka tentang reformasi dan perdamaian ? Itulah mengapa masyarakat mulai berkata “ Ini bukan saatnya berperang, ini saatnya islah dan reformasi.”

Kita berdoa kepada Allah agar masyarakat mengerti bahwa jihad dan makna jihad memiliki status hukum yang sama. Kita juga berharap agar masyarakat mengerti bahwa mereka-mereka yang berjihad telah memutuskan dan mengerti arti jihad, apakah itu bermanfaat atau tidak. Kita berdoa kepada Allah SWT agar menjaga kita tetap teguh dalam Islam ini dan memiliki ‘keberanian’ melawan kebatilan dan mencegah kita dari kebingungan dan keraguan. Amin.

T A K B I I I I R…..!!!!!!!!!