Lewati navigasi

YANG DIINGINKAN OLEH ORANG-ORANG KAFIR 

Kaum Muslimin tidak perlu untuk membuat analisa politik dari apa yang orang-orang kafir inginkan dari umat Islam dengan membaca surat kabar mereka atau menyaksikan apa yang mereka tayangkan di Televisi. Melainkan Allah (swt) telah mnyokong kita, kaum Muslimin dengan Islam yang telah disampaikan kepada kita, melalui Al Qur’an, tentang semua rencana mereka. Untuk mencegah dari pandangan yang sempit kita harus mengambil manfaat dari jendela yang ‘unik’ ini kedalam sesuatu yang tidak terlihat untuk mengekspos rencana mereka dan dengan tujuan untuk memberikan kepada kita sebuah pandangan yang lebih baik tentang masa depan. Terbukti bahwa media orang-orang kafir tidak pernah mengalami kegagalan untuk merusak kemurnian pemahaman Islam dengan membanjiri kita dengan kebudayaan mereka, ide-ide, teori konspirasi, sejarah yang telah di distorsi dan sebagianya.

  1.    INGIN AGAR ORANG-ORANG ISLAM MENJADI KAFIR SEPERTI MEREKA  

Allah (swt) berfirman:

  

Mereka mengingikan (Wadd) kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)…. (QS Al Baqarah 2 : 89)

  

Disini Allah (swt) menggunakan kata Al Wudd yang berarti bahwa orang-orang kafir akan mencintai kita dengan tujuan agar mereka manjadikan kita (kaum Muslimin) sama seperti mereka yang tidak mempunyai ke-ridho-an dari Allah (swt) pada hari pengadilan nanti. Sebagaimana Rasulullah (saw) tidak pernah berkata kaum Muslimin bahwa mereka tidak seperti orang-orang kafir, tetapi beliau berkata : ‘Islam itu adalah tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya’. Lebih lanjut kaum Muslimin seharusnya tidak akan boleh membungkukkan diri di level orang-orang kafir melainkan harus tetap berdiri tegap pada Dien Islam, tak peduli betapa banyak cobaan dan kesengsaraan yang menimpa kita dan tak peduli pada yang dikonspirasikan oleh orang-orang kafir. Orang-orang Non-muslim selalu akan murka pada tindakan orang-orang Islam sebagai bentuk dari keimanannya dan mereka yang enggan untuk berkompromi sama sekali pada apa yang di beritakan di dalam teks-teks ketuhanan (wahyu – Al Qur’an dan Sunnah).

  2.    MEMERANGI ORANG-ORANG ISLAM SAMPAI MEREKA MENJAUH DARI DIEN (IDEOLOGY)NYA   

Allah (swt) berfirman:

…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)… (QS Al Baqarah 2 : 217)

  

Dengan kata lain kita diinformasikan bahwa nonmuslim akan terus-menerus memerangi umat Islam, sekalipun itu berarti mereka membunuhnya, sebagaimana di Afghanistan dan di Irak, jika mereka tidak menjauh dari Dien Al-Islam dan menjadi non-muslim seperti mereka. Tetapi Allah (swt) memperingati orang-orang Islam : ‘….siapa saja yang  berpaling dari Dien Al-Islam kemudian mati dalam keadaan kafir (tidak beriman) maka amal perbuatan mereka akan sia-sia dalam hidupnya dan nanti di hari akhir mereka orang-orang yang berada di nereka, kekal di dalamnya.’

  3.    AGAR MENDAPATKAN KAUM MUSLIMIN UNTUK MENGIKUTI KEINGINAN MEREKA LEWAT MENGGODA DENGAN SHAHAWAH  

Allah (swt) berfirman dalam Al Qur’an:

 

…sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS An Nisa 4 : 27)

  

Ayat ini di turunkan kepada Nabi Muhammad (saw) tentang seseorang yang ingin menikah tetapi tidak menurut pada tradisi (Sunnah) Rasulullah (saw) tetapi menurut pada hukum dan tradisi buatan manusia. As Sahawah disini adalah perbuatan buruk yang bisa merangsang naluri dan kebutuhan hidup seperti naluri untuk melangsungkan keturunan sampai promosi pelacuran, pornografi, pergaulan bebas, homoseksual, dan perzinahan dan kebutuhan seperti glamorosasi makanan, pakaian dan tempat tinggal yang mewah. Maka tak heran jika kita melihat bahwa industri terbesar di dunia kapitalis adalah industri pornografi, perjudian, obat-obatan terlarang dan alkohol, kosmetik dan fashion dan lain-lain.

  4.    UNTUK MENYERANG DENGAN MENANGKAP MEREKA (KAUM MUSLIMIN) DENGAN SEENAKNYA  Allah (swt) berfirman: 

…orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu… (QS An Nisa 4 : 102)

  

Oleh karena itu ini bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan bahwa orang-orang kafir saat ini menuntut agar kaum Muslimin menyerahkan senjata mereka di Iraq dan tempat lainnya seperti Pakistan. Dengan jelas Allah (swt) mengatakan kepada kaum Muslimin untuk menyiapakan sebanyak mungkin dari senjata yang terbaik untuk menakut-nakuti musuh, memerangi mereka jika memerangi kita dan sebagai kekuatan penghalang. Sesuatu hal yang dilarang bagi umat Islam untuk memberikan rincian senjata mereka kepada orang-orang kafir, membiarkan dengan sedirinya diberikan kepada orang-orang kafir. Padahal bahwa Allah (swt) berkata pada ayat ini bahwa kaum Muslimin harus waspada ketika mereka shalat, menjaga senjata mereka tetap dengan mereka setiap waktu dan bergantian untuk shalat pada saat yang lain menjaganya. Sebagai  tambahan Rasulullah (saw) berkata bahwa ‘senjata adalah perhiasan kaum Muslimin’, itu di sarankan kepada kaum Muslimin laki-laki untuk membawa sebuah senjata dengannya di setiap waktu dengan tujuan untuk menakut-nakuti musuh dan memerangi jika mereka menyerang kita (kaum Muslimin).

  

Kita bisa lihat konsekuensi dan kaum Muslimin yang memberikan senjatanya di Bosnia, ketika UN mengambilnya dari kaum Muslimin dan megizinkan orang-orang kafir Serbia membantai kaum Muslimin dalam skala masa.

  5.    UNTUK MELIHAT KAUM MUSLIM MERASA SEDIH DAN MENDERITA  Allah (swt) berfirman: 

…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi…. (QS Ali Imran 3 : 118)

  

Lebih Lanjut kita bisa melihat bagaimana orang-orang kafir merasa senang ketika kaum Muslimin di pearngi dan di bunuh. Hanya kemarin menunjukan sebuah konfrensi di Wales pelaku fasis Tony Blair mengatakan bahwa ia merasa ‘bangga’ pada apa yang dia (dan US) lakukan di Afghanistan, ketika mengunakan B52 untuk membom sekitar 200.000 kaum Muslimin telah membunuh secara membabi buta dan sekarang ini menghilang! Dia mengatakan bahwa permasalahan di Kashmir adalah karena ‘teroris’, yang berarti Mujahidin Muslim yang mempertahankan kaum Muslimin yang tidak bersalah, wanita dan anak-anak dari pembunuhan yang dilakukan oleh pendudukan Hindu, pada gerombolan yang tidak segan-segan untuk memperkosa wanita Muslim. Lebih dari itu barbar US dan Inggris tidak mempunyai permasalahan politik, pengadaan militer dan dukungan ekonomi terhadap Negara perampok Israel yang dilakukan secara terang-terangan di tanah kaum Muslimin dan kekejaman yang dilakukan untuk melawan kaum Muslimin.

  6.    MEMADAMKAN CAHAYA ALLAH (SWT)  Allah (swt) berfirman: 

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS At Taubah 9 : 32-33)

  

Allah (swt) disini menginformasikan kepada kita bahwa orang-orang kafir akan melakukan apapun untuk merugikan kaum Muslimin. Maka kita lihat pada hari ini bahwa ada sekitar 250.000 orang-orang US dan Inggris memaksa untuk berjaga-jaga dan siap menyambar kaum Muslimin di Timur Tengah. Namun Allah (swt) menjajikan kepada kaum Muslim kemenangan pada akhirnya. Kita mungkin kalah dalam sebuah pertempuran atau lebih tetapi kita tidak akan kalah pada peperang yang terakhir antara kebenaran dan kebatilan. Bukanlah senjata-senjata dan jumlah yang menjamin kita kemenangan, melainkan kemenangan itu di tangan Allah (swt) yang akan di berikan kepada siapa-siapa yang dikehendaki.

  

Oleh karena itu kita harus bersiap sebanyak mungkin seperti mereka yang bisa untuk memerangi para agressor yang meliputi untuk meletakkan kepercayaan mereka secara penuh kepada Allah (swt) atas hasilnya nanti. Senjata kaum Muslimin adalah Iman (kepercayaan teguh), tawakkal (yakin sepenuhnya kepada Allah) seperti halnya persiapan fisik. Kaum Muslimin juga harus menghargai kepada mereka yang berusaha untuk menerapkan Syariah @ Khilafah pada setiap wilayah dan setiap level masyarakat. Ini adalah satu-satunya cara bagi kaum Muslimin untuk hidup dengan kehidupan yang adil, dan jadilah ekonomi, sosial, peraturan, pengadilan kita dan lain-lain untuk diatur berdasarkan Syariah (hukum Islam) yang di manifestasikan dalam Negara Islam (Khilafah Islamiyah). Sekerang 80 tahun lebih kita hdup tanpa penerapan Syariat Islam atas kaum Muslimin di seluruh belahan Bumi. Selama lebih dari 80 tahun dibiarkan terpecah menjadi Negara yang tidak Islami, masing-masing menguasai dengan kekuasaan yang kejam menerapkan hukum yang tidak Islami seperti demokrasi, kediktatoran, Monarki, Kapitalisme, Sosialisme dan sebagianya. Kehadiran Khilafah berarti bahwa kaum Muslimin sekali lagi mempunyai prisai untuk melindungi diri mereka dan dari mereka yang berperang untuk melindungi kehidupan, kekayaan, dan kehormatan kaum Muslimin. Itu juga membentuk sebuah pengertian dengan membentuk kedaulatan Islam yang dapat menyebar dengan menghancurkan rintangan pada jalan yang dilaluinya untuk mengimplementasikan Syari’ah yang memuncak dalam kesatuan negeri kaum Muslimin dibawah satu hukum, tujuan, dan kedaulatan. Ini tentunya akan berarti sebuah super-power baru di dunia, dengan tentara-tentera yang akan mencintai kematian seperti cintanya orang-orang kafir pada dunia ini dan juga akan muncul orang-orang yang cinta kepada perjuangan dan mati karena Allah (swt) untuk meninggikan namaNya setinggi-tingginya. Ini adalah sebuah ketakutan orang-orang kafir yang nyata dan itu sebabnya mengapa mereka menghentikan Taliban ketika mereka mengadopsi ‘proyek’ ini. Disamping usaha-usaha orang-orang kafir, Allah (swt) menjajikan kita di dalam Al Qur’an bahwa Dia akan memberikan kaum Muslimin kemengan dan kedaulatan dengan cara memberikannya kepada mereka yang telah memenuhi perintahNya dan meletakkan kepercayaan mereka padaNya (swt). NB dengan demikian bagaimana bisa seseorang memilih (teman) orang-orang kafir atau berpertisiapsi di dalam parlement mereka?

  7.    MERUBAH KALIMAH ALLAH (SWT)  Allah (swt) berfirman : …mereka hendak merobah kalimat Allah…. (swt).  (QS Al Fath 48 : 15) 

Cara bahwa orang-orang kafir merubah kalimat Allah sebelumnya, di dalam Taurat dan Injil, mereka ingin membuat distorsi pada kalimat Allah (swt) di dalam Al Qur’an. Namun Al Qur’an adalah mu’jizat dengan dengan sendirinya dan tidak bisa di rubah, Allah (swt) berjanji untuk memeliharanya sendiri. Lebih lajut kita melihat para Orientalis (mereka yang belajar Islam dari prespektif barat) di Universitas SOAS dan banyak lagi institut-institut mencoba untuk melatakkan keraguan di benak kaum Muslimin tentang kemurnian Al Qur’an dan kerasulan terakhir Muhammad (saw).

  8.    MENYESATKAN KAUM MUSLIMIN  Allah (swt) berfirman: 

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri,… (QS Ali Imran 3 : 69)

 

Kita melihat orang-orang kafir mencoba kepada kaum Muslimin dengan ide kesamaan beragama (pluralisme) adalah sebuah gagasan yang terkutuk – salah jika kaum Muslimin, orang-orang Nasrani dan yahudi akan mempunyai sebuah tempat tempat ibadah sama dan kitab yang satu, dengan perkataan bahwa ‘kita semua adalah umat dari Ibrahim (as)’, adalah yang menganut monotheist dan bukan polytheist. Lebih lanjut Ibrahim (as) datang beribu-ribu tahun sebelum Yahudi dan Nasrani dan kemudian itu bukanlah Yahudi dan bukan juga Nasrani.

 

Ide Pluraslisme adalah ide yang yang tidak lebih dari usaha untuk merusak umat Islam dan kemurnian keyakinan mereka. Kaum Muslimin yang teguh tidak akan pernah bisa di tipu dengan rencana seperti itu.

  9.    AGAR KEBURUKAN MENIMPA KAUM MUSLIMIN Allah (swt) berfirman: 

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu… (QS Ali Imran 3 : 119-120)

 

Ini seharusnya sudah menjadi pelajaran yang sudah mengkristal kepada siapa saja yang menyukai gerombolan-gerombolan orang-orang kafir bagi kaum Muslimin seperti MCB dan CAIR (di US). Allah (swt) disini mengatakan kepada kita kenyataan perasaan orang-orang kafir yang membenci kaum muslimin untuk mempunyai sesuatu yang baik dan yang gembira pada penderitaan dan siksaan kaum Muslimin seperti di Afghanistan, Chechnya, Palestina, Kasymir dan lain-lain. Melainkan hanya kaum Muslimin yang tulus hatinya yang sungguh-sungguh mempertahankan, melindungi dan bersekutu dengan kaum Muslimin saja bukan pada PBB, USA dan Inggris.

Iklan

Pada hari ini kita berada di suatu masa ketika martabat kaum Muslimin di bawah serangan dan kaum Muslimin telah kehilangan dua cabang martabatnya, dua kewajiban setelah tauhid yaitu menerapakan Al-Khilafah dan Jihad.


Selain itu ada dua pilar yang telah hilang dalam dienul Islam dan dalam umat Muhammad saw. saat ini, yakni pilar pertama tauhid, menolak dan mengguncang penyimpangan dan penyalahgunaan.


Allah swt. sedang menguji kita di abad ini dengan dua ujian besar, dengan dua kewajiban termulia setelah tauhid, dua kewajiban yang hilang, yakni ketidakberadaan khilafah untuk menerapkan Islam, dan tidak adanya jihad (baik jihad ofensif : menyerang dan jihad defensive : bertahan), baik itu sebagai fardhu kifayah maupun fardhu ‘ain.


Saatnya telah datang, ketika hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi kaum Muslimin untuk melaksanakan jihad. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Kaum Muslim jika dia belum mendapatkan kehormatan untuk ambil bagian di medan pertempuran dengan mujahidin, dia harus terlibat atau mendukung jihad secara lisan, mempromosikan jihad dan Mujahidin, dan jika kita kita tidak bisa terlibat menerapkan Khilafah, kita harus berbicara tentang kewajiban adanya khilafah dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menegakkan khilafah.


Abu Huraira meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:


“siapa saja yang mati dan tidak pernah terlibat dalam ghazu (ekspedisi, jihad, berperang dan sebagianya) dan tidak pernah ada dalam dirinya untuk melaksanakannya dia akan mati dalam salah satu cabang nifaq. (Abu Dawud)


Iman adalah perkataan dan perbuatan, tetapi ada sebagian yang tersembunyi, yakni niat. Maka dengan itu kita seharusnya selalu berniat untuk tergabung dalam jihad.


Ubadah ibnu Tsabit melaporkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda :


“siapa saja yang menginginkan untuk bertemu dengan Allah, Allah akan menginnginkan untuk bertemu dengannya, dan siapa saja yang benci untuk bertemu dengan-Nya, Allah akan benci untuk bertemu dengannya.”

Mujahid selalu tergesa-tergesa untuk bertemu dengan Tuhannya, Karena dia akan kehilangan semua murka-Nya dan bertemu dengan-Nya adalah kemuliaan.


KEBOLEHAN AKSI SYAHID


Rassulullah saw. bersabda:

“Allah menyukai kamu ketika kamu terbantai, atas pembantain yang baik, ketika kamu terbunuh, dengan cara yang baik.”

Pada saat ini musuh telah menang atas kita dan kita tidak mempunyai maksud untuk memerangi kembali, hasilnya bahwa ketika salah satu bagian umat berdarah, bagian lainnya akan memerangi. Pada saat sebagian area yang mereka tinggalkan tidak terlindungi karena pada saat itu kaum kuffar telah meracuni kaum Muslimin, hasilnya bahwa kaum Muslimin semuanya teracuni dan mereka memerlukan orang-orang untuk bangkit, dan Allah swt. mencalonkan, memilih orang-orang dari pemuda untuk bangkit.


Mujahidin yang qiyamul lail sepanjang malam dan pada siang hari mereka mencari orang-orang kuffar untuk diperangi, mereka hanya mencari dua hal, kejayaan atau syahid. Telah di sampaikan bahwa Allah berfirman


“tidak ada jalan bagi orang-orang kafir dan seseorang yang terbunuh untuk bertemu di tempat yang sama di hari akhirat nanti.”


Jalan lain adalah kemenangan, apakah dia membunuh atau terbunuh. Allah swt. berfirman :

” Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS At Taubah 9 : 52)


Kita mencari orang-orang kafir hanya untuk menyampaikan kalimat Allah pada mereka, atau untuk menghukum mereka dengan diri kita.


Dalam jihad selalu ada seorang Amirul Jihad, terutama untuk jihad ofensif. Pada jihad defensif, ada sebuah izin pada saat memulai berperang untuk melawan semampu yang kita bisa, tetapi secepatnya kita harus mengorganisir dan menunjuk seorang Amir. Amir mempunyai jabatan, seperti Al-Ghazi (penakluk) ,Al-Mansur dan sebaginya.


Abdullah bin Umar melaporkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:


“Allah swt. telah membuat ketentuan (kekuasaan Islam) di bawah naungan tombakku.”


Dia juga melaporkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda :


“Dan ada kehinaan bagi seseorang yang menentang perintahku (berperang)” dan setelah itu mereka mulai memberikan bay’ah, “bai’at kematian”


Yazid bin Abi Ubaid berkata:


“Aku bertanya pada Salamah ibnu Aqwa’, “ Apa yang telah kamu berikan bai’at kepada Rasulullah pada hari hudaibiyah? Dia berkata: “untuk mati.”” [Bukhari dan Muslim, An-Nisa’i, Tirmizi dan Musnad Imam Ahmad]


Allah swt. berfirman :


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah 9 : 111)


Kita tidak ditargetkan untuk sesuatu yang kecil di dunia, target kita adalah Jannah dan huruun ’ien (bidadari di surga). Allah melakukan jual beli dengan orang-orang beriman, pertama dengan hidup mereka dan kemudian dengan harta mereka, apakah mereka mati dengan pedang, dengan senjata, atau dengan bom. Itu tidak ada bedanya antara seseorang yang mau menjual dirinya kepada tuhannya dengan sebuah rencana, dengan menerima sebuah peluru, menerima tebasan sebuah pedang atau menjadi sebuah peluru hanya untuk Allah semata.


Jika Allah mengatakan bahwa dia penjual untuk kita maka kita harus membelinya atau jika Allah membeli maka kemudian kita menjadi penjualnya, Allah telah berkata bahwa dia membeli orang-orang beriman, maka kita adalah seorang penjual dan itu adalah lebih baik bagi kita karena seorang penjual selalu mendapat keuntungan. Allah memerintahkan kita pada waktu Jum’ah untuk meninggalkan berjualan, tidak membeli, karena berjualan adalah sesuatu yang sulit untuk di tinggalkan, karena itu adalah kedudukan yang lebih baik, kita harus mengambil pelajaran dari ini, bahwa Allah swt. menawarkan untuk membeli hidup kita dengan jannah, kita harus mencari kedudukan yang lebih baik yaitu dengan kesempatan untuk menjual diri kita hanya untuk Allah swt. semata.


Seorang sahabat berkata:


“saya tidak perduli aku mati sepanjang sebagai seorang Muslim, dari sisi apapun aku mati”


Rasulullah saw. Bersabda :


“Syahid tidak akan pernah merasakan sakit pada saat mereka mati kecuali sesakit cubitan.” [An-Nasaai, Tirmizi, Musnad Imam Ahmad]


Rasulullah saw. mengatakan ini kepada kita untuk mendorong kaum Muslimin, Allah telah siap berkata bahwa dia telah menerima untuk membeli kita, kita hanya menawarkan kepada-Nya hidup kita.

 


AKSI SYAHID (AL-AMALIYYAT AL –ISTISYHHADIYYAH)


Bunuh diri adalah tertolak, apakah itu untuk membunuh diri kita sendiri karena seorang wanita, untuk dunia, atau untuk terhindar dari kehinaan dan sebagainya, semua ini adalah mati jahiliyyah. Namun, mengorbankan diri adalah sseuatu yang berbeda, Al-Amaliyyat adalah ‘aksi’, Al-Amal adalah perbuatan, dan bentuk pluralnya adalah A’mal, perbuatan selalu meninggalkan beberapa macam sasaran atau tanda.


Perbedaan antara perbuatan dan aksi (operasi) adalah sama seperti perbedaan antara ‘manusia–Insan’ dan ‘humanity–Insaniyyah’ antara hukum dan hakimiyyah, antara Rabb dan Rububiyyah. Al-Amaliyyat Al-Istisyhhadiyyah– aksi (operasi) syahid, adalah aksi dimana kita mencari mati syahid, dan berarti terbunuh hanya untuk Allah semata. Maka untuk menentukan seseorang yang menginginkan terbunuh, harus melakukan sebuah aksi, untuk meninggalkan sasaran–mayat yang mati, mengalahkan musuh-musuh. Apakah tubuh kita satu atau banyak atau apakah tubuh musuh satu atau banyak.


Hal ini sebaimana telah diriwayatkan bahwa:


“Rasulullah saw. pernah di tanya, “seseorang yang berperang hanya untuk menunjukkan keberanian, seseorang yang berperang untuk keluarganya adalah seseorang yang fii sabilillah (di jalan Allah)? Rasulullah saw. menjawab: “siapa saja yang berperang meninggikan kalimat Allah dia adalah fii sabilillah.”
(Musnad Imam Ahmad)


Pengertian dari aksi syahid (Al-Amaliyyah Al-Istisyhadiyyah) :


“Operasi mati syahid adalah perbuatan khusus yang dilakukan oleh Mujahid, dengan kepastian ataupun dengan sedikit keraguan itu akan menyebabkan musuh terbunuh dan menderita dan bahwa dia dengan pasti ataupun ragu bahwa dia akan mendapatkan mati syahid dengan terbunuh hanya untuk Allah swt. semata.”

Maka perbuatan ini adalah sesuatu yang khusus. Dia, Mujahidin adalah seseorang yang mengetahui bahwa dia melakukannya dan seberapa yakin dia bias tahu bahwa dia akan membunuh orang-orang kafir dan bahwa dia akan terbunuh.


Pada saat ini kita mengatakan bahwa itu adalah bentuk perlawanan dan itu di ketahui setelah ditemukan ledakan, bahwa dalam perang gerilya dia akan menggunakan sebanyak mungkin ledakan dia telah menimbulkan kerusakan yang banyak pada musuh. Inilah yang telah terlihat pada masa perang dunia kedua, bahkan orang-orang Jepang (kamikaze) menggunakannya walaupun tidak ada mati syahid untuk mereka karena mereka bukan orang Islam.


Dalam sebuah aksi syahid, itu tidaklah mungkin bahwa dia harus kembali tanpa cidera, itu adalah penting bahwa dia akan menjadi celaka dan akan mempunyai target untuk terbunuh dalam aksi atau operasi tersebut.

HUJJAH ATAS HAL ITU YANG BENAR


Telah dilaporkan oleh Suhaib Al-Rumi tentang cerita seorang anak muda dan orang-orang yang membuat parit (pembesar-pembesar Najran di Yaman-Cerita Ashabul Ukhdud). Cerita tentang seorang anak muda yang akan pergi dan telah dikumpulkan oleh raja untuk belajar ilmu sihir, dia akan pergi untuk melihat seorang pendeta juga meskipun demikian dia telah diperingati oleh pendeta untuk tidak dating, sebab mereka akan menemukan. Secepatnya mereka meningglakan pesan bahwa anak-anak laki-laki telah datang. Mereka bertujuan untuk membunuh para pemuda tetapi tidak bisa, setiap waktu mereka berusaha untuk melakukan demikian, Allah swt. telah melindungi dan menjaga mereka…


Dia berkata kepada raja:


“Kamu tidak akan bisa membunuhku sampai kamu melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu,” raja bertanya: “apa yang harus aku lakukan?” Dia menjawab “kumpulkan semua orang, dan gantung aku pada sebuah pohon kemudian ambillah sebuah busur kemudian letakkan anak panah dan berkata “dengan nama Allah, tuhan anak ini,” lalu lepaskanlah anak panah dan kemudian kamu akan membunuhku.” Raja telah mengumpulkan orang-orang dan dia mengambil anak panah dan berkata “ dengan nama Allah, tuhan anak ini.” Dia melepaskan anak panah kemudian anak panah itu melesat langsung mengenai kepalanya, anak itu meletakkan tangannya di kepala dan kemudian mati, semua orang mulai berkata, “kami percaya pada tuhan anak muda itu, kami percaya kepada tuhan anak itu, kami percaya kepada tuhan anak muda itu,” raja berkata “kalian percaya kepadanya tanpa seizinku?” dan dia menyuruh untuk menggali sebuah parit dan kemudian meleparkan semua kedalamnya, dan orang-orang tidak merasa ragu (masuk ke dalam parit tersebut).”
(Muslim, Tirmidzi dan Musnad Imam Ahmad)


Sebuah kisah yang di ceritakan oleh Allah swt. dalam surah Al-Buruj. Ibnu Taymiyyah berkata pada cerita itu,

“Anak itu berkata pada raja, “bunuhlah aku”. Dia menyuruh raja untuk membunuhnya untuk kepentingan dien (agama) agar menang, untuk alasan ini 4 imam mahzab menyukai kaum Muslimin yang pergi ke tengah-tengah orang-orang kafir, dan bahkan jika dia mempunyai sedikit keraguan bahwa dia pergi untuk terbunuh, jika itu mempunyai manfaat bagi kaum Muslimin.” (Majmu Fattawa V 28 hal 540)


Demikian juga mengapa ulama berkata bahwa itu dibolehkan untuk mengorbankan diri kita dengan tujuan bermanfaat untuk Kaum Muslimin. Allah swt. berfirman:


“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

(QS Al Baqarah 2 : 207)


Para sahabat menerapkan ayat ini pada seseorang yang memerangi musuhnya dengan nyawanya di medan perang. Umar Bin Khattab, Abu Hurairah, dan sahabat yang lainnya yakin bahwa seseorang yang pergi ketengah-tengah musuhnya dengan dirinya kemudian menyebabkan kehancuran bahkan oleh dirinya sendiri, bahwa ayat ini bisa digunakan untuk dirinya

(Tirmidzi, Ibnu Hibban Tafsir Al Qurtubi V-2 hal. 261)


PARA SAHABAT


Hisyam melaporkan:


“Dia telah membawa dirinya sendiri di antara dua orang tentara dan sebagian orang mulai untuk menolaknya dan mengklaim bahwa dia telah meletakkan dirinya pada kejahatan, Umar Bin Khattab berada di sana dan mengutip ayat :


“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

(QS Al Baqarah 2 : 207) (HR. Baihaqi)


Iman Al Qurtubi berkata tentang ayat ini, bahwa ayat ini tentang seseorang yang pergi ke tengah-tengah musuh dengan dirinya untuk berperang.

(Qurtubi v2 hal 21)

Juga dalam pertempuran, tujuh orang yang telah dipilih Muhammad saw. dari kaum Anshar dengan dua orang dari kaum Muhajirin, beliau saw. berkata kepada mereka:


“mereka akan datang untuk menghadapi kita, siapa saja yang bisa menghalangi mereka dari kita dan dia akan masuk ke dalam jannah dan siapakah yang mau menjadi temanku di dalam jannah?


Seseorang dari kaum Anshor pergi dan berperang dan terbunuh, Rasulullah saw. Berkata :


“siapa saja yang bisa memerangi mereka atas nama kita dan masuk kedalam kerumunan mereka dan dia akan masuk ke dalam jannah dan siapakah yang mau menjadi temanku di surga?”dan terus berlanjut sampai dua orang dari kaum Muhajirin tertinggal dan berkata kepada mereka “kalian tidak adil dengan saudaramu.” (Bahwa semestinya mereka harus pergi juga.)


Itu juga terjadi dalam sebuah peperangan yang dihadiri oleh Rasulullah saw., bahwa Abu Qatada dan Salamah berkumpul bersama untuk memerangi Ubaina ibnu Husn, mereka masing-masing pergi ke tengah-tengah musuh sendiri-sendiri dan berperang melawan mereka. Rasulullah saw. memuji mereka dan berkata:

“penunggang kuda terbaik untuk berperang hari ini adalah Abu Qatada dan petarung pertama yang berjalan kaki adalah Salamah.”


Hadits ini adalah sebuah tameng bahwa dibolehkan kepada seseorang laki-laki untuk berperang sendirian untuk melawan kumpulan musuh, walaupun dengan sedikit keraguan bahwa dia akan terbunuh sepanjang mereka melakukannya dengan ikhlas mencari syahadah.


Abu Ishaq melaporkan:


“Aku berkata kepada Al-Bara’ Bin Azib, “Jika seseorang pergi ke kumpulan orang-orang musyrik dengan dirinya sendiri, apakah laki-laki itu sedang merugikan dirinya sendiri?” Dia menjawab “Tidak, Karena Allah telah mengirimkan seorang Rasul yang berkata :


“Perangilah di jalan Allah, cukup dengan dirimu sendiri…”

(mengutip [QS An Nisa : 84])” (Musnad Imam Ahmad)


Juga telah dilaporkan bahwa:


“Aku pernah mendengar seseorang bertanya kepada Bara’ Ibnu Azib, “jika seseorang memasukkan diriya dalam kumpulan kaum musyrik dengan sendiri, apakah dia sedang merugikan dirinya sendiri?” dia menjawab: “tidak, seseorang yang merugi adalah seseorang yang melakukan sebuah perbuatan dosa dan menyerah dan tidak meminta ampunan.”” (Ibnu Hazm–Al Muhalla v7 hal 294)


Dua sahabat yang lainnya, Abu Ayyub dan Abu Musa Al-Asy’ari tidak pernah menghalangi, tidak menolak juga tidak mencegah kepada seseorang untuk menyusup ke dalam musuh sendirian dan bertahan dengan teguh, memerangi mereka sampai dia terbunuh. Aslamah ibnu Imran melaporkan,


“Kita berada dalam kota Romawi dan mereka telah mengirimkan sebuah pasukan yang besar untuk memerangi kami, dari Kaum Muslimin telah datang tentara lain dengan besaran yang sama atau lebih, sebuah kelompok di bawah komando Abdul Rahman Bin ‘auf dan Khalid bin Walid, seseorang dari kaum Muslimin pergi menghadang tentara musuh (sekitar seribu) dan memasuki mereka dan memanggil mereka untuk berperang.” Orang-orang mulai mengatakan “Subhanallah, orang ini meletakkan dirinya dalam kerugian.” Abu Ayyub Al- Ansari berdiri dan berkata: “Wahai orang-orang kamu telah metakwil dengan ayat ini dengan tidak benar, ayat ini datang dan ditujukan kepada kita, ketika Allah memberikan Islam Izzah dan itu menjadi banyak pendukungnya (pada waktu itu) kami berkata (dalam hati) mari kita tinggal di rumah kita dan menambahkannya (untuk mengumpulkan sebanyak yang mereka bisa untuk melindungi dari harta mereka), Allah swt. telah menrunkan ayat “Belanjakanlah di jalanan Allah dan jangan letakkan dirimu kedalam kehancuran.” Meletakkan dirimu kedalam kehancuran berarti bahwa kita yang tinggal di rumah untuk mengunpulkannya, meninggalkan berperang. Abu Ayyub adalah seorang Mujahid dan pergi untuk berperang meskipun di usianya yang sudah tua dan terkubur dalam tanah Romawi.” (Abu Dawud dan Tirmidzi)

Mu’az bin Afra berkata:

“Wahai Rasulullah, apa yang membuat Allah senang dari perbuatan untuk menyembah-ya ? Dia saw. bersabda: “Bagi dia yang memasuki musuh tanpa senjata apa pun.” Muadz mendengar itu dan dia melemparkan baju besinya dan masuk kedalam musuh dan berperang dengan tangan kosong melawan musuh sampai akhirnya terbunuh.” (Ibnu Hazm melaporkan Hadits dalam Al Muhalla v7 hal 249)


BARA IBN MALIK


Pada suatu hari di Yamamah, mereka berkumpul pada daerah Musailamah, pada waktu itu kebun digunakan untuk disebut sebagai kebun kematian. Kaum Muslimin tidak bisa memasukinya karena selalu dijaga oleh orang-orang kafir dengan ketat. Bara ibnu Malik berkata, “Ingatlah hadits bahwa jika kamu bersumpah, Allah akan memenuhinya,” dan kemudian dia berkata “Berikan akau sebuah perisai dan gunakan tomabak yang telah diikat secara bersamaan dan lemparlah aku di atasnya,” mereka melemparnya dan dia menunjukkan memerangi mereka di dalamnya, samapai dia membuka pintunya. (Baihaqi V4 hal 44 dan Tafsir Qurtubi)


Lebih lanjut telah diriwayatkan bahwa :


“Kuda-kuda yang digunakan untuk melarikan diri ketika mereka melihat gajah-gajah Persia, seseorang dari kaum Muslimin melihat jalan mereka mengambil kemenangan dari gajah-gajah, maka dia membuat lumpur untuk gajah dan melatih kudanya agar terbiasa dengan lumpur. Setelah itu dia mengambil kuda dan lari ke hadapan gajah dengan kudanya, orang-orang berkata: “Lihatlah, mereka pergi untuk membunuhmu.” Dia berkata: “Tidak ada kerugian bagiku bila terbunuh, tetapi marilah kaum Muslimin raihlah kemenangan setelah aku.” (Tabarani v2 P363)


PARA ULAMA


Ada kesepakatan bahwa itu dibolehkan untuk maju sendirian kepada musuh, walaupun kamu mengetahui kamu akan terbunuh.


Ibnu Hajar berkata:


“Para sahabat setuju, bahwa itu di izinkan untuk berperang sendiri ke dalam semua area yang membahayakan dalam jihad fi sabilillah.” [Fathul baari – Sharh Bukhari] & [Masharih Al Ashwaq v-1]

 

Imam Nawawi berkata:


“Aada kesepakatan bahwa kamu bisa mengorbankan hidupmu hanya untuk berjihad.” (v 12 hal 187)


Imam Sirkhasi berkata:


Imam kami (Abu Hanifah) berkata: “Jika seseorang menyerang sendirian, pada sebuah pasukan besar musyrikin dan dia mempunyai sedikit keraguan atau di mengetahui bahwa dia akan melawan sebagian dari mereka, menimbulkan kerugian atas mereka, itu dibolehkan, tetapi jika dia berpikir bahwa dia tidak bisa menimbulkan kerugian pada mereka, itu tidak diizinkan untuk melakukan yang demikian.”


Muhammad ibnu Hasan Al-Syaybani meriwayatkan bahwa Imam Al Jassas berkata:


“Jika seorang laki-laki maju seorang diri pada seribu orang, tidak ada bentuk kejahatan sama sekali jika dia berpikir bahwa dia merasa aman atau bahwa dia bisa merugikan mereka, jika dia tidak mencari keselamatan dan tidak juga dapat merugikan mereka, aku tidak menyukainya karena dia menempatkan dirinya sendiri tanpa ada manfaat bagi kaum Muslimin, tetapi jika dia tidak mencari perlindungan atau menimbulkan kerugian tetapi dia mencari untuk memotivasi kaum Muslimin, dengan tujuan bagi mereka untuk melakukan hal yang sama dan demikian bahwa mereka akan membunuh musuh dan banyak menimbulkan kerusakan, itu diizinkan untuk melakukan yang demikian itu.” (Tafsir Jassas)


Dia juga berkata bahwa itu di bolehkan untuk melakukan yang demikian itu untuk menggetarkan musuh karena itu bermanfaat bagi kaum Muslimin. [Kitab Ahkaam Al Qur’an for Al Jassass v-1 p-327]


Allah swt berfirman:


“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS Ali Imran 3 : 169)

Allah swt. juga berfirman:


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al Baqarah 2 : 207)


Semua ayat ini memuji seseorang yang berperang dan mati di jalan Allah apakah itu di medan pertempuran atau di luar.


Imam Syafi’i berkata:


“Aku tidak melihat kesalahan atau larangan bagi seseorang yang pergi ketengah-tengah kumpulan besar dengan tangan hampa dan memerangi mereka, atau bagi seseorang yang masuk sebuah kerumunan mengetahui bahwa dia akan terbunuh atau hampir bisa di pastikan bahwa dia akan terbunuh, karena itu telah terjadi pada masa Rasulullah saw., seorang laki-laki pergi ketengah-tengah medan perang dan berperang tanpa senjata apapun, dan Rasulullah saw. memujinya ketika dia terbunuh.” (Kitabul Umm v 4 hal 169)

Imam Nawawi berkata:


“Itu adalah sebuah bukti dibolehkan bagi seorang laki-laki masuk ke tengah medan perang dan berperang, dengan dirinya sendiri melawan sekumpulan besar kaum musyrikin, berhadapan dengan mereka dan menjadi syahid, tanpa rasa tidak suka untuk itu dan itu adalah opini dari para jumhur.” (Sharh Muslim V 13 Hal 46)


Ibnu Mufli berkata:


Imam Ahmad berkata : “Jika seorang memutuskan untuk pergi (sendiri) kehadapan musuh, dan dia mengetahui bahwa dia tidak akan membuat kerusakan apapun, kita tidak seharusnya tidak menolongnya untuk melakukan itu, namun jika menghadapi 100 orang dan dia bisa merugikan bagi mereka atau bermanfaat bagi kaum Muslimin … (kemudian itu dibolehkan).” (kitab Al-Furu’)


Imam Qurtubi berkata:


“Para Ulama berbeda pendapat tentang seseorang yang pergi kehadapan musuh seorang diri dengan tangan kosong, Qasim bin Mukhaimirih, Qasim bin Muhammad dan Abdul Maalik dari ulama kami berkata “itu tidak dibolehkan bagi seorang laki-laki pergi sendiri berhadapan dengan musuh yang besar jika dia mempunyai beberapa kekuatan bahwa dia bisa menimbulkan kerugian bagi mereka dengan niat yang benar, jika dia tidak punya apapun dia sedang merugikan dirinya sendiri. Jika dia mencari syahid dan niatnya ikhlas karena Allah maka biarkan dia melakukannya. Jika seseorang menghadapi ratusan tentara atau sesuatu yang serupa, dan dia mengetahui atau dengan sedikit keraguan bahwa dia akan terbunuh tidak dapat di pungkiri dan bahwa dia pergi untuk membuat kerusakan besar atas mereka, atau efek lainnya atau dia pergi untuk meninggalkan korban dibelakangnya bahwa itu akan bermanfaat bagi kaum Muslimin, itu dibolehkan. (Dia melanjutkan dan mengutip perkataan Imam Syaybani) “Jika seseorang berhadapan sendirian dengan seribu orang tidak menjadi masalah atas hal itu, jika dia mencari keselamatan dan atau untuk membuat penderitaan yang besar, dalam hal ini bahwa itu tidak makruh. Tetapi jika dia meletakkan niatnya untuk memberikan manfaat bagi kaum Muslimin atau untuk mendorong kaum Msulimin, dalam masalah ini itu diizinkan, atau jika dia mencari untuk menakut-nakuti musuh untuk menunjukkan kekuatan kaum Muslimin itu diizinkan. Untuk menghancurkan hidupmu dengan tujuan agar Dien Allah menjadi menang dan untuk melemahkan orang-orang kafir, atau untuk membuat mereka, posisi mereka menderita itu dipuji oleh Allah. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… (QS At Taubah 9 : 111) dan banyak ayat lain dimana Allah memuji mereka atas pengorbanan diri mereka semata-mata karena Allah, dan kewajiban yang sama adalah meyeru kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar (Qurtubi v 2 hal 264)


Imam Qurtubi melanjutkan dan berkata:

 

“Hukum yang benar menurut ku adalah itu diizinkan untuk pergi sampai kepada musuh bagi seseorang yang tidak mempunyai kekuatan, dari 4 arah mati angin. Jika dia mencari syahadah, kedua jika dia mencari dengan syahadah untuk menimbulkan kerugian pada musuh atau untuk mengganggu mereka atau untuk memotivasi kaum Muslimin, untuk membuat mereka merasa berani, atau untuk menteror musuh untuk membuat mereka tahu ‘jika seorang Muslimin saja bisa melakukan itu lalu bagaimana dengan sisa yang lainnya’.”

Imam ibnu Al ‘Arabi berkata sama dengan empat poin yang telah disebutkan di atas kemudian mengutip perkataan Ibnu Taimiyah :


“Jika seseorang mengatakan aku akan membunuh dengan tujuan hanya karena Allah, ini adalah perkataan yang abstrak, jika dia melakukan demikian untuk Allah dan itu mudah bagi dia untuk membunuh, dia sedang melakukan perbuatan yang baik, itu sama saja sebagaimana seseorang yang muncul melawan semua tentara musuh dengan seorang diri, sebuah cara yang bermanfaat bagi kaum Muslimin dan dia… itu adalah jalan yang sahabat gunakan, (…dia kemudian melaporkan apa yang Imam Khallal katakan dari Umar Bin Khattab bahwa dia melihat seorang laki-laki pergi melawan musuh seorang diri, orang-orang mulai mengatakan bahwa dia sedang merugikan dirinya sendiri, beliau berkata: “Itu tidak benar, Allah swt. berfirman: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah 9 :111). (Tafsir Ibnu ‘Arabi V1 hal 166)


TAKBIIIIR……!

Dapatkah wanita berpartisipasi dalam jihad?

Allah swt. menjadikan jihad kewajiban atas laki-laki muslim, persoalan apakah wanita dapat berpartisipasi dalam jihad membutuhkan adanya klarifikasi. Seorang muslimah di masa Rasulullah saw. dikisahkan ikut serta seperti halnya laki-laki dalam jihad, perang fisik dengan orang-orang kafir dan terlihat juga keinginan mereka untuk mengorbankan hidup mereka untuk Allah swt.


Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:


”Saya bersumpah, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya berharap bahwa saya dapat berperang untuk Allah (yaitu jihad) dan memperoleh syahid, kemudian kembali dan berperang lagi dan mendapatkan syahid, kemudian kembali dan berperang lagi lalu mendapatkan syahid.” (Al-Bukhori dan Muslim)


Karenanya tidak mengherankan bahwa seorang wanita terlalu lama untuk mencapai ke-syahidan-nya. Ini merupakan dorongan untuk memperoleh pahala yang besar yang telah Allah berikan atas mujahidin. Keikutsertaan wanita dalam jihad telah dicontohkan oleh salah satu Ummul Mukminin, Ummu Salamah r.a., ketika ia mengambil bagian dalam perang khaibar. Dia (Ummu Salamah) berkata, ”Saya berharap bahwa Allah menjadikan jihad kewajiban bagi kita sebagaimana Dia (Allah) mewajibkannya bagi laki-laki”.


Kemudian Allah swt. menurunkan ayat yang berbunyi:


“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu”. (QS. An Nisaa’( 4) : 32).


Ini juga diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa dia bertanya kepada Rasulullah saw., :


”Ya Rasulullah! Kita mengetahui bahwa Jihad adalah perbuatan yang terbaik. Kita tidak berperang (berjihad) karena Allah tidak mewajibkannya bagi kita? “ Beliau menjawab, “Jihad terbaik (bagi wanita) adalah haji yang mabrur (yaitu aktivitas haji yang dilakukan sesuai dengan tradisi kenabian dan diterima/disahkan sebagai amal ibadah oleh Allah atas kaum muslimin.” (HR. Bukhari)


Hadits-hadits tersebut mengindikasikan bahwa tidak ada jihad Qitaal yaitu jihad berperang bagi wanita kecuali dalam keadaan darurat, yakni situasi defensive (mempertahankan diri). Jika seorang istri dari mujahid tinggal di rumah dan mengurusi kebutuhan suaminya, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengannya (suaminya yang menjadi mujahid). Asma’ binti Yazid bertanya kepada Rasulullah saw. atas nama wanita, “Ketika mereka (kaum laki-laki) pergi berjihad, kami berada di samping kiri rumah untuk melindungi perbekalan mereka dan tinggal di rumah untuk mengurusi keluarga. Apakah kami tidak juga berhak mendapat pahala yang sama dari Allah?” Rasulullah saw. menjawab, “Tolong, pergilah dan katakan kepada para wanita yang kamu wakili bahwa dengan melakukan kewajibanmu kepada suamimu dengan cara yang baik, menjaga apa saja yang akan membuatnya senang dan mengikuti mereka dengan setia, maka kamu akan mendapatkan keridhaan Allah yang besar dan Dia akan memberikan kepadamu pahala yang sama sebagaimana pahala yang telah dijanjikan kepada laki-laki.”


Contoh utamanya adalah Sohaila, istri dari Farrukh, orang yang kembali dari jihad setelah 30 tahun, ditemukan bahwa istrinya telah membelanjakan semua simpanannya (30.000 dinar) yang dia tinggalkan untuknya (istrinya) sebelum ia pergi jihad, untuk keperluan biaya pendidikan anaknya Rabi’ah ibn ‘Abdur Rohman. Dia (anaknya) berhasil menjadi salah seorang dari 7 ulama terkenal di Madinah Al-Munawwarah. Di antara murid Sheikh Rabi’ah adalah Imam Malik, Imam Sufyan Ath-Thauri dan Imam Laith Ibn Sa’ad.


Catatan dokumentasi mengatakan bahwa Rasulullah saw. selalu mengajak salah seorang dari istri-istrinya untuk menemaninya dalam medan perang. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a., “Kapan saja Rosulullah saw. bermaksud untuk mengadakan perjalanan (perang/jihad), dia mengundi istri-istrinya dan jatuhlah undian itu kepadaku, sehingga saya pergi menemani Rasulullah dan kejadian itu terjadi setelah turunnya ayat tentang hijab”. (Al-Bukhori).


Dalam hadist riwayat Bukhori juga meriwayatkan, pada masa Yazid Bin Hurmuz, Najda telah menulis kepada Ibnu ‘Abbas r.a. yang sedang menyelidiki 5 perkara, 2 perkara di antaranya berhubungan dengan wanita dan jihad. Najda menulis,….”Katakan kepadaku apakah Rasulullah saw. telah menempatkan wanita untuk berpartisipasi dengannya dalam jihad” (Jika beliau melakukannya), apakah Beliau memberikan kepada mereka bagian dari harta pampasan perang….”


Ibnu Abbas r.a. menulis jawabannya, ….”Anda menulis pertanyaan kepadaku apakah Rasulullah telah menempatkan wanita untuk berpartisipasi dengannya dalam jihad?. Beliau (Rasulullah saw.) memang telah menempatkan mereka (para wanita) dalam peperangan dan sesekali juga dia (Rasul saw.) berperang bersama dengan mereka (para wanita). Mereka mengobati orang-orang yang terluka (dalam perang) dan mereka diberikan suatu imbalan dari harta pampasan perang, tetapi dia (Rasul saw.) tidak memberikan bagian tertentu kepada mereka…”


Ummul Mukminin r.a. dan istri-istri para sahabat r.a. tidak berangkat dalam medan perang dengan maksud untuk berperang secara fisik dengan orang-orang kafir akan tetapi mereka pergi ke medan perang dengan membawa peran-peran yang Allah swt. dan Rasul-Nya telah memberikannya kepada mereka.


Peranan wanita Dalam Medan Perang


Ada banyak bukti yang menunjukkan peranan wanita dalam medan perang, hal ini digambarkan dalam kitab-kitab hadits yang menggambarkan tentang tugas wanita dalam medan perang, diceritakan bagaimana keberanian muslimah dalam medan perang selama masa Rasulullah saw., diantaranya, :


Merawat Orang-Orang Yang Terluka


Diriwayatkan oleh Abu Hazim, Sahl bin Sa’ad bertanya tentang luka Rasulullah saw., Beliau bersabda, “Fathimah, anak perempuan Rasul (pada saat perang), melakukan tugas untuk membersihkan luka dan Ali bin Abi Thalib menuangkan airnya. Ketika Fathimah melihat bahwa luka tersebut ada gangguan perdarahan, maka dia mengambil potongan kain lalu membakarnya, kemudian memasukkan abu tersebut ke dalam luka sehingga darah (pada luka) bisa membeku (dan perdarahan berhenti). Suatu hari gigi taringnya (Ali) patah dan mukanya terluka , topi bajanya patah tepat pada kepalanya.” (Al-Bukhari).

Menyediakan Air Bagi Yang Haus


Diriwayatkan oleh Anas r.a., “Suatu hari dalam perang Uhud ketika sebagian orang mundur dan meninggalkan Rasulullah, saya melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim dengan menyisingkan baju mereka, terdengar letusan di sekitar mereka, mereka tampak terburu-buru dengan membawa air (dalam riwayat lain disebutkan mereka membawa air di punggung mereka). Kemudian menuangkan air tersebut dan meminumkannya kepada orang-orang yang haus dan mereka kembali memenuhi air lagi serta datang kembali untuk menuangkan air dan meminumkannya kepada orang-orang lagi.” (Al-Bukhari)


Menyiapkan Makanan Bagi Para Mujahidin


Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.a., “Ketika terjadi penggalian parit, saya melihat Rasulullah berada dalam keadaan lapar. Saya pulang untuk menemui istriku dan berkata kepadanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu (untuk dimakan) karena saya melihat Rasulullah berada dalam keadaan lapar.” Dia membawakan kepadaku sebuah kantong yang berisi 1 sa dari sejenis gandum dan kita memiliki binatang yang aku sembelih kemudian istriku memasak sejenis gandum tadi dan dia menyelesaikannya tepat waktu, aku pun menyelesaikan pekerjaanku. Kemudian aku memotong daging menjadi potongan-potongan dan menaruhnya ke dalam panci yang terbuat dari tanah (memasaknya) dan kembali menemui Rasulullah. Istriku berkata, ”Jangan permalukan aku di depan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya”. Jadi aku pergi menemuinya dan mengatakan kepada beliau secara diam-diam, “Ya Rasulullah! Saya telah menyembelih hewan betina milik kita dan kami memiliki satu Sha’ Gerts (sejenis gandum). Jadi datanglah bersama beberapa orang teman Anda. Rasulullah mengeraskan suaranya dan mengatakan, “Wahai saudaraku yang sedang menggali parit! Jabir telah menyiapkan makanan, mari kita pergi” Rasulullah berpesan kepadaku, “Jangan angkat daging yang ada di dalam panci (dari tempat pembakarannya) atau adonan mu sampai aku datang”. Kemudian saya datang (ke rumahku) dan Rasulullah datang juga mendahului sebelum yang lainnya datang. Ketika aku datang kepada istriku, dia berkata, “Apakah yang akan Allah tetapkan terhadap kamu?” Saya berkata, “Saya menyampaikan kepada Rasulullah apa yang kamu katakan.” Kemudian dia (istrinya) menyajikan adonan itu kepada Rasulullah dan dia (Rasul) memanggangnya dan memohon keberkahan Allah di dalamnya. Kemudian dia (Rasul) maju ke depan di hadapan potongan-potongan daging yang ada di panci dan pemanggangan dan berdo’a untuk keberkahan di dalamnya. Lalu Beliau berkata (kepada istriku), “Panggillah seorang wanita tukang roti untuk membuat roti bersamamu dan memasak potongan daging yang ada di panci tersebut dan jangan angkat dari tempat pembakaran.” Mereka satu persatu hingga ribuan orang (mengambil dan memakan daging tersebut) dan demi Allah mereka semua telah makan dan ketika mereka selesai makan dan pergi, potongan daging yang berada di panci masih penuh dengan daging seperti tidak berkurang dan adonan rotinya pun seperti tidak ada yang mengambil.


Memanggul Senjata Untuk Para Mujahidin


Diriwayatkan oleh Ummu Ziyaad r.a., “Dalam perang Khaibar saya sendiri dan 5 orang lainnya adalah wanita berada pada perang tersebut. Rasulullah Muhammad saw. mempelajari (keadaan ini) dan mengirimkan mereka untuk kita. Beliau (saw) berkata dengan marah, “Siapa yang mengizinkan kamu untuk keluar dari sini? Siapa yang membawa kamu ke tempat ini?” Kami berkata, “Ya Nabiullah! Kami sekarang bersatu dan kami memiliki pengobatan yang bersama kami, kami bisa membantu para mujahidin dengan menyuplai mereka dengan anak panah, dengan mengobati mereka ketika mereka sakit dan menyiapkan makanan bagi mereka.” Rasulullah kemudian mengizinkan kami untuk tinggal” . (HR. Abu Dawud) .

Memberikan Semangat Kepada Para Mujahidin Untuk Tetap Bertahan


Selama perang Uhud, Saffiyah binti Abdul Mutholib r.a., bibi Rasulullah saw. berdiri dan mengayunkan tombak ke depan sambil berkata, “Apakah kamu mencoba mengalahkan Rasul?” Semoga Allah memberkatinya dan memberikan kedamaian kepadanya.
Juga, selama perang Uhud, ketika Nusaibah binti Ka’ab, anak laki-lakinya Abdullah sedang terluka berat, dia (Nusaibah) membalut lukanya dan memerintahkan padanya,”Pergi dan perangilah orang-orang kafir itu wahai anakku!” Mendengar hal ini Rasulullah saw. tersenyum dan berkata, “Siapakah yang dapat memikul apa yang kamu pikul wahai Ummu Umarah!”.

Aktivitas Jihad Saat Ini


Saat ini kita hidup dalam keadaan Khilafah (Negara Islam) tidak ada, oleh karena itu kaum muslimin tidak berada pada posisi berperang Jihad Ofensif dalam perintah untuk memperluas batas kekuasaan khilafah. Jihad saat ini yang ada dalam tanah-tanah (kaum muslimin) yang telah dikuasai (oleh orang kafir) di mana saudara laki-laki dan perempuan kita yang kita cintai berada dalam situasi di mana mereka tidak punya pilihan kecuali berperang jihad defensif (mempertahankan diri). Oleh karena itu seorang wanita (dalam keadaan itu) juga harus berpartisipasi dalam perang secara fisik ketika berada dalam posisi defensif karena itu kewajiban atas setiap wanita untuk mempertahankan kehormatannya, hidupnya, keluarganya, tanahnya, kepemilikannya, hartanya dan agamanya. Seorang perempuan atau seorang istri tidak memerlukan izin dari siapa pun, tidak juga orang tuanya, tidak juga suaminya dalam kasus ini.


Dia boleh melakukan apa saja yang diambilnya untuk mempertahankan dirinya sendiri jika dia menemukan dirinya berada pada posisi seperti saudara muslimah kita dalam Darul Ghasab seperti saat ini (yaitu Palestina, Chechnya, Irak, Afghanistan, Kashmir, dan lain-lain).Serupa dengan seorang muslimah yang seharusnya seperti sejarah, mereka telah memiliki beberapa peranan (dalam jihad), kita temukan mereka saat berada pada posisi defensif, seperti yang dialami oleh Nusaibah r.a. dan Ummu Sulaim r.a. selama perang Uhud dan perang Hunain yang terjadi secara berturut-turut. Siapa pun wanita muslimah tersebut jika ditemukan pada diri mereka berada dalam medan perang maka mereka harus terjun dan menjadi kewajiban untuk mendukung jihad baik secara lisan maupun finansial.


Wallahu’alam bis showab!

 

“Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rosulullah SAW menjawab, “ Yang mengikutiku dan para shahabatku.” (HR.Tirmidzi, Hadits no.2565. Juga diriwayatkan dengan kalimat yang sama oleh Abu Salamah dan Abu Hurairoh dalam Kitab Al Fitan dari Sunan Ibnu Majah, hadits no.3981)


Dalam sharah Tirmidzi, Imam Ahwazi berkata :


Jawaban dari hadits ini yaitu hadits dari Abdullah bin Amru bahwa, ‘seluruh golongan itu masuk neraka dan satu yang masuk surga’ dan ini menjadi satu bukti dari Rosulullah SAW bahwa Beliau memberitahukan kita hal-hal yang ghaib. Dan golongan yang selamat itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.’

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rosulullah SAW bersabda :


“Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah.” (HR. Sunan Ibnu Majah, Hadits no.3983, Kitab Al Fitan)

Dari hadits-hadits di atas, telah sangat jelas bahwa akan ada banyak golongan di kalangan kaum Muslimin yang didasarkan pada persoalan aqidah. Juga telah jelas bahwa umat Islam akan terbagi ke dalam 73 golongan dan hanya satu golongan yang mengikuti apa yang dibawa Rosulullah saw. Seluruh golongan yang lain akan masuk neraka (walau pun tidak selama-lamanya). Satu-satunya golongan yang selamat akan dikenal sebagai “Al-Firqah An-Najihah” dan juga diberinama “Al-Jamaa’ah” dan “Ahlussunnah wal Jamaa’ah” atau Al-Ghuroba (Orang-orang ‘asing’). Agar menjadi golongan yang selamat, maka umat Islam harus mempelajari dan memahami istilah-istilah tersebut dan kepada siapa istilah tersebut ditujukan. Hal ini adalah persoalan penting dan utama (aulawiyyat) bagi kaum muslimin dewasa ini.

Saat ini, masyarakat mulai mendiskusikan hukum pengeboman terhadap properti, mobil dan tempat-tempat umum lainnya, dan kami mendengar beberapa pendapat yang menarik bahwa pengeboman dan peledakan tersebut bukan “jalan penyelesaian masalah” atau “kebangkitan”.

Itu adalah pendapat yang sangat menarik, tapi tidak fair, ini adalah sebuah penilaian (analisis) yang tidak adil dari para ‘pengamat’ Islam. Peledakan-peledakan tersebut hanyalah sebuah ikhtiar, dan bukanlah jalan hidup atau metode mencapai tujuan. Oleh karena itu, hukum dari ikhtiar tersebut akan sama dengan hukum dari target dan tujuannya.

Pengeboman punya sebuah tujuan. Memiliki buah dan hasil serta dalil. Ini berbeda dengan apa yang orang simpulkan tentang tujuan pengeboman. Ini bukanlah persoalan benar salah ataupun fair tidak fair bagi seseorang menerima bahwa hukumnya semata-mata berdasarkan upaya untuk menyempurnakan tujuan.

Jika kita menghubungkan persoalan ini dengan setiap persoalan agama, ini hanya akan menyebabkan kebingungan dan terjebak dalam diskusi yang menghabiskan waktu dan tiada ujung pangkal.

Tidak ada keraguan lagi, bahwa akibat dari pengeboman pastilah ada pembunuhan dan kerusakan, beberapa membunuh dengan haq dan sebagian tidak. Sebagai contoh, membunuh seorang Muslim tanpa haq (diharamkan), kecuali dengan alasan yang dibolehkan Islam, seperti ; merajam pezina (muhson), membunuh orang murtad dan menghukum tindakan kriminal, dan lain-lain.

Sedangkan bagi orang kafir, hidupnya tidak memiliki kesucian tanpa memiliki perjanjian damai (dengan khalifah) baik sebagai musta’man maupun dzimmi, meskipun aslinya (orang kafir) tidak memiliki kesucian.

Beberapa peledakan yang tidak didasarkan pada kebenaran (haq) tidak menyebabkan apa-apa kecuali fasad dan kehancuran, akan tetapi peledakan yang didasarkan pada kebenaran (haq) memiliki akibat besar bagi ‘kebangkitan’ dan penyelesaian masalah. Sebuah pengeboman bisa jadi dipuji oleh Allah SWT atau sebaliknya, dilaknat Allah SWT.

Oleh karena itu, untuk mengeluarkan istilah dan argumen baru, mengatakan bahwa itu karena korupsi, perpecahan, dan sebagainya hanya akan menambah kebingungan masyarakat. Orang yang mendiskusikan isu ini harus menggunakan ilmu dan menghindarkan kebingungan masyarakat yang mudah tergelincir oleh perasaannya dan argumen yang menakjubkan.

Mereka (orang-orang yang menggelincirkan umat) menyebarkan kebusukan mereka di tengah-tengah masyarakat, seperti menyebarkan ide-idenya , yaitu ; sekularisme, pluralisme, kasih dan damai untuk sesama, dan sebagainya serta mempropagandakan seruan tersebut sehingga jiwa masyarakat terperangkap olehnya.

Sebuah contoh dalam persoalan ini adalah seseorang yang berbicara dan menyeru orang untuk melawan dakwah, menyatakan bahwa dakwah adalah jembatan menuju Jahannam. Ketika seseorang menuduh mujahidin dan mengutuk mereka sebagai teroris, fundamentalis dan esktrimis, maka sebenarnya mereka sendirilah yang menyeru kepada pintu-pintu neraka Jahannam (du’atun ila abwabi jahannam) sebagaimana yang tertera dalam hadits mulia yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Al Yaman. Lalu, dapatkah orang-orang tersebut (dua’tun ila abwabi Jahannam) mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW di hari Kiamat nanti ? Ingatlah
firman Allah SWT :

“Sesungguhnya syetan-syetan itu mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Faathir (35) : 6)

Sementara ada penyeru yang menyeru kepada kebenaran (haq) dan mereka berada dalam jalan menuju surga, dan ada juga yang menyeru kepada kemungkaran dan mereka berada di jalan menuju Jahannam. Pengebom itu memiliki dua tipe tersebut. Kita harus tahu apa tujuan dan arah operasi mereka? Siapa yang menjadi target dan siapa yang akan dibunuh? Apakah tujuannya mencari ridha Allah SWT ? Apakah targetnya orang Islam atau orang kafir ? Apakah tujuannya membunuh kaum Muslimin atau berperang melawan para agresor ?

Ada banyak pintu menuju surga, salah satunya adalah babul Jihad (pintu jihad). Orang-orang yang haq akan mendapatkan “Izzah” dan kehormatan melawan musuh dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menjanjikan mereka surga dan kemuliaan.

Orang-orang yang mengutuk penyerangan-penyerangan tersebut tidak pernah berhenti berpikir, baik tentang tujuan pengeboman maupun targetnya. Masyarakat (dilandasi perasaan dan rasio semata) mengutuk pengeboman-pengeboman yang terjadi dan tidak pernah berpikir mengapa tempat-tempat tersebut menjadi target pengeboman. Masyarakat bahkan mulai bertanya, “Dapatkah kita menggunakan bom bunuh diri di Palestina ?”

Allah SWT memerintahkan kita untuk menakuti dan menggentarkan orang-orang kafir, musuh Allah dan kaum Muslimin. Allah SWT berfirman :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (QS Al-Anfal (8) : 60)

Tidak ada keraguan lagi, bahwa pengeboman terhadap orang-orang kafir di negeri-negeri kaum Muslimin dan negeri-negeri kufur akan menggentarkan mereka, menakuti mereka dan menjerakan mereka dari menyerang kita lagi.

Kita lihat dewasa ini bahwa tidak ada yang mengguncangkan musuh kecuali penyerangan dan pengeboman dan kekerasan, untuk mencari ridha Allah. Di Palestina, orang Yahudi merasa menderita dan seolah-olah berada di neraka karena secara terus-menerus, setiap hari terjadi penyerangan dan operasi. Akan tetapi mereka (Yahudi) tidak pernah merasa khawatir atau ngeri karena demonstrasi yang dilakukan oleh kaum Muslimin di London, atau di Jakarta.

Kalau kita melihat pria-pria pemberani di abad ini dan pahlawan-pahlawan umat di abad ini, seperti : Abdullah Azzam, Khattab, Muhammad Al Shihri, Ahmad Al Haznawi, Sa’id Al Ghaamidi, Syekh Abul Abbas Al Januubi, Syekh Osama bin Laden, Khalid Ayyash dan masih banyak lagi, orang-orang ini tidak pernah menjadi pahlawan besar, kecuali melalui pemahaman tentang jihad.

Terlihat bahwa seseorang yang ingin menyebarkan ide bahwa pengeboman bukan jalan untuk kebangkitan atau pendekatan rasional hanyalah mencoba menyebarkan pandangannya untuk mengembangkan tarbiah dan pendidikan untuk membangkitkan umat.

Memang, kenyataannya kita mengetahui pentingnya tarbiah dan pendidikan, khususnya untuk memurnikan akidah dalam tubuh umat, untuk memurnikan tauhid dan mengajarkan umat untuk menolak thagut, membangun mereka dalam wala’’ dan bara’, akan tetapi tidak menyangkal seruan jihad dan memerangi agresor, mempertahankan hidup, kekayaan (harta) dan kehormatan kaum Muslimin dengan kehidupan dan tubuhnya. Ini tidak dapat dihentikan (seruan untuk menghentikan agresi melawan kaum Muslimin).

Terlihat bahwa mereka ingin kita melawan agresi dengan diskusi penuh kedamaian dan dengan selebaran-selebaran. Sangatlah aneh seseorang yang berpikir demikian. Dapatkah mereka benar-benar meyakini apa yang mereka katakan ? Atau tidakkah mereka mengerti kebodohan seruan mereka dan tentang apa mereka menyeru kita ?

Bukanlah Allah yang menyeru kita kepada kebodohan-kebodohan, ini hanya tentang kecenderungan dan kecintaan kita kepada dunia dan kebencian kita kepada kematian, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang menggambarkan kondisi umat Islam seperti buih di lautan. Sejarah menceritakan kepada kita beberapa fenomena ketika kita melihat sejarah Bani Israel dan janji kemenangan dan desakan setelah itu, agar mereka meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama mereka. Kita mendapatkan kemiripan, ketika kita tidak mau mengubah kondisi kita, ‘kebiasaan-kebiasaan’ buruk yang kita lakukan.

Kejadian di masa lalu ketika kaum Tartar yang ingin menduduki tanah-tanah kaum Muslimin selama bertahun-tahun. Meskipun demikian orang-orang tidak bergerak untuk menarik urat saraf untuk melawan mereka. Kejadian serupa terjadi di Al-Sham (tempat konferensi-konferensi Islam dilaksanakan), ketika terjadi pendudukan oleh orang-orang kafir. Pada waktu itu penguasa di sana mengirim banyak ulama dan memotivasi mereka untuk berjihad, dan tentu saja hal ini tidak membantu kecuali sedikit.

Apakah keanehan ini masih terjadi sekarang, jika masyarakat menjadi penakut dan tidak merespons seruan jihad atau menyeru perang, kemudian apa yang akan mereka lakukan jika ‘tokoh-tokoh’ mereka menanamkan pada mereka kehinaan dan kekalahan ? Jika mereka menyiapkan kebangkitan dengan slogan mereka tentang reformasi dan perdamaian ? Itulah mengapa masyarakat mulai berkata “ Ini bukan saatnya berperang, ini saatnya islah dan reformasi.”

Kita berdoa kepada Allah agar masyarakat mengerti bahwa jihad dan makna jihad memiliki status hukum yang sama. Kita juga berharap agar masyarakat mengerti bahwa mereka-mereka yang berjihad telah memutuskan dan mengerti arti jihad, apakah itu bermanfaat atau tidak. Kita berdoa kepada Allah SWT agar menjaga kita tetap teguh dalam Islam ini dan memiliki ‘keberanian’ melawan kebatilan dan mencegah kita dari kebingungan dan keraguan. Amin.

T A K B I I I I R…..!!!!!!!!!

Neni Utami Adiningsih, seorang penggagas Forum Studi Pemberdayaan Keluarga (Family Empowerment Studies Forum), dalam Harian Republika tanggal 22 Desember 2004 menyatakan, bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia mengalami peningkatan dari 38,75 % pada tahun 1970-1980, menjadi 51,65 % pada tahun 1980-1990.
Dengan asumsi bahwa peningkatan terus terjadi, karena berbagai sebab yang bersumber pada keluarga, maka pada tahun 1990-2000 tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia berpeluang mencapai 64,55 % dan pada tahun 2007 diperkirakan telah mencapai 73,58 %.
Bila angka-angka ini terus merangkak naik, maka tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki Indonesia akan semakin menurun. Akibatnya akan semakin banyak laki-laki yang menganggur, dan menggantungkan nafkahnya pada perempuan (istri).
Uniknya, banyak pihak mengetahui bahwa peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan, antara lain disebabkan terjadinya kekerasan oleh laki-laki terhadap perempuan dalam rumah tangga. Oleh karena itu para perempuan Indonesia berbondong-bondong ke luar rumah untuk mencari penghasilan sendiri, agar lebih dihormati oleh laki-laki (suami), dan sekaligus untuk mengurangi jumlah jam tinggal di rumah yang berresiko mengalami kekerasan dari laki-laki.
Padahal, karena terjadi peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan, maka meningkat pula jumlah laki-laki yang menganggur. Tanpa kemampuan emosional yang baik (karena tidak menerapkan nilai-nilai Islam), maka laki-laki pengangguran ini sangat berpotensi melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Sehingga antara kekerasan dalam rumah tangga, peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan, penurunan partisipasi angkatan kerja laki-laki, peningkatan pengangguran laki-laki, dan kekerasan dalam rumah tangga menjadi siklus yang berbahaya. Dalm konteks keluarga muslim, siklus semacam ini berbahaya bagi perkembangan umat Islam, merapuhkan keluarga-keluarga muslim, dan mengurangi kontribusi muslim bagi masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam kembali kepada nilai-nilai Islam (Al Qur’an dan Al Hadist). Sudah saatnya laki-laki diberi tanggungjawab sebagai pemimpin, sebagaimana diamanatkan Allah SWT dalam QS.4:34, “Arrijaalu qawwaamuunaa ‘alan nisaa-i” (laki-laki itu pemimpin bagi perempuan). Sesuai dengan tanggungjawabnya sebagai pemimpin, tidak ada “ruang” bagi laki-laki untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Sesuai dengan tanggungjawabnya, seorang laki-laki harus melindungi dan menyayangi istri (perempuan) dan keluarganya (anak-anaknya).
Berdasarkan nilai-nilai Islam, maka seorang laki-laki wajib bergerak ke luar rumah, untuk mencari nafkah yang akan dipersembahkan bagi istri dan keluarganya. Tidak layak bagi laki-laki yang telah diberi amanat sebagai pemimpin oleh Allah SWT bersantai-santai di rumah, sedangkan istrinya bekerja keras mencari nafkah di luar rumah. Juga tidak layak bagi laki-laki (dengan alasan apapun) melakukan kekerasan terhadap istri dan keluarganya, karena ia telah diberi amanat oleh Allah SWT sebagai pemimpin, bukan sebagai “penjagal”. Bila seorang laki-laki tidak menjalankan amanat dari Allah SWT sebagaimana tertuang dalam QS.4:34 maka Allah SWT tentu akan memberi konskuensi (sanksi) yang berat padanya.
Dengan demikian sudah selayaknya seorang istri berada di rumah untuk menjadi ibu bagi putra-putrinya. Bersama-sama dengan suami, seorang istri akan bekerjasama menyiapkan generasi umat Islam berikutnya, yang harus lebih baik kualitasnya dari kedua orangtuanya. Bila ini terjadi, umat Islam akan semakin baik dari generasi ke generasi, sehingga dapat memberi kontribusi yang terus meningkat bagi masyarakat pada umumnya. Sesuai dengan missi kehadiran umat Islam di dunia (alam semesta), yaitu rahmatan lil’alamiin (manfaat optimal bagi alam semesta).

Alvin Toffler (1991) menyatakan, bahwa dunia telah mengalami tiga gelombang perubahan besar, yaitu: Pertama, era pertanian (terdiri dari zaman batu dan zaman besi); Kedua, era industri, dan; Ketiga, era informasi.
Demikianlah dunia bergerak dan berubah dengan cepat, yang sayangnya cenderung tak tentu arah. Hal ini disebabkan manusia semakin antroposentris, sehingga semakin sombong, atau merasa paling tahu atas semua hal, termasuk tata nilai kehidupan. Satu hal yang manusia lupa, bahwa sikap antroposentris merupakan sikap tidak cerdas.
Gordon Dryden dan Jeannette Vos (2001) menyatakan, bahwa dunia sedang bergerak sangat cepat. Manusia hidup di tengah revolusi kehidupan. Tetapi sayang, di setiap negara hanya sedikit sekali orang yang tahu benar cara menghadapi perubahan. Mereka yang tidak tahu cara menghadapi perubahan segera terjebak dalam demoralisasi dan keputus-asaan.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al Qur’an, bahwa yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akalnya (lihat QS.5:58).

Pengertian Tauhid

Dari segi bahasa ‘mentauhidkan sesuatu’ berarti ‘menjadikan sesuatu itu esa’. Dari segi syari’ tauhid ialah ‘mengesakan Allah didalam perkara-perkara yang Allah sendiri tetapkan melalui Nabi-Nabi Nya yaitu dari segi Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ Was Sifat’.

Pensyariatan Tauhid

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Az Zariyat 51:56)

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah 2:21)

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut … (QS An Nahl 16:36)

Tauhid Sebagai Kewajiban Terbesar

Tauhid merupakan materi dakwah pertama para Rasul.

Tauhid merupakan terminal pertama dan langkah terawal bagi mereka-mereka yang ingin menempuh jalan kepada Allah.

Apabila tauhid wujud dalam diri seseorang secara sempurna, maka tauhid akan mencegah seseorang itu masuk neraka.

Nabi saw bersabda:

Tidak seorangpun bersaksi bahawa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul Nya benar-benar dari hatinya kecuali Allah akan mengharamkan atasnya neraka. (Hadis Riwayat Bukhari)

Apabila tauhid ada dalam diri seseorang (walaupun seberat biji sawipun), ia akan mencegah dari kekal di neraka selamanya.

Mufti Thaghut Adalah Thaghut

 Pertama dan terakhir kewajiban seorang Muslim adalah Tauhid; dan pilar pertama Tauhid adalah kufur bi thaghut, atau menolak thaghut. Tidak diragukan lagi, seseorang tidak bisa menjadi seorang Muslim kecuali dia menolak semua bentuk thaghut, apakah itu dalam bentuk konsep, objek nyata atau seseorang (seperti penguasa yang tidak menerapkan hukum Islam, atau ulama yang membolehkan apa yang Allah larang).At-Thaghut telah didefenisikan oleh para Shahabat dan ulama terdahulu yang mengikuti Najhu us Salaf (di jalan orang-orang salaf) sebagai berikut: “Sesuatu yang disembah, ditaati, atau diikuti selain daripada Allah.”

Imam Malik bin Anas r.h. berkata:

“At-Thaghut adalah sesuatu yang disembah di samping Allah swt.”

(Diriwayatkan oleh Al-Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an oleh Imam al-Qurthubi)

Imam Ibnu Qayim r.h. berkata:

“At -thaghut adalah seseorang yang menghormati seseorang melibihi batasan yang seharusnya, apakah seseorang itu menyembah, menaati atau mengikuti.” (Diriwayatkan dalam Thalaathatul Usul)

Syeikhul Islam, Muhammad bin Abdul Wahhab r.h. berkata:

“Dan Thaghut, secara umum, adalah sesuatu yang disembah selain daripada Allah, dan dia setuju untuk disembah, diikuti atau ditaati.”

(Risalatun fii Ma’naa at-Thaghut oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahaab)

Seseorang bisa menghabiskan separuh hidupnya untuk membicarakan Islam, Jihad, Haji, Shalat, Dakwah, Qur’an, Sunnah, Shiyaam dan sebagainya, tetapi jika dia tidak menolak thaghut ini tidak ada gunanya. Ini karena menolak thaghut adalah syarat pertama untuk menjadi Muslim. Ini mancakup bagian pertama dalam kalimat Tauhid: 

  1. Laa ilaaha (an-Nafie’ menolak thaghut dan Tuhan-tuhan palsu)
  2. Illallah (Al-Ithbaat’ menetapkan untuk beriman)

 At Takhalii qablat Tahalii adalah sesuatu yang sangat masyhur di antara ‘ulaama dan tullabul ‘ilm yang berarti: “manolak sebelum menetapkan”. Seseorang tidak bisa menetapkan beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasul-Nya, kitab-Nya sampai dia menolak semua bentuk kekufuran, syirik, bid”ah.

Kunci untuk memahami Kalimah Tauhid

 Allah swt. berfirman:

““barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”“ (QS Al Baqarah 2: 256)

Memahami kalimah  adalah kondisi pertama dari Tauhid dan sebuah kewajiban bagi setiap kaum Muslimin. Allah swt. telah menginformasikan kepada kita pada ayat di atas bahwa hanya dengan menolak thaghut kemudian beriman kepada Allah, selanjutnya akan mencapai sukses di akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

“Seseorang yang mati dan memahami laa ilaaha illaallah akan masuk surga.” (HR Muslim)

Selanjutnya, rahasia untuk memahami kalimat adalah dalam menolak thaghut. Ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita untuk mempalajari bagaimana cara untuk menolak thaghut “ jika kita ingin mempunyai pemahaman yang tepat untuk memahami Laa ilaaha illallah.

Bagaimana menolak Thaghut

Ada lima cara untuk menolak Thaghut: 

1.       Mendeklarasikan Thaghut itu Bathil

Cara pertama menolak thaghut memerlukan keyakinan  bahwa semua tawaghit adalah batal dan tidak berguna sedikit pun untuk ditaati atau pun disembah. Sebagian orang mungkin tidak menyembah thaghut, tetapi mereka tidak mempercayai bahwa itu adalah sesuatu yang salah secara mutlak. Thaghut adalah kufur sebagaimana seorang Muslim membutuhkan untuk percaya bahwa Islam satu-satunya yang benar sedangkan agama yang lain adalah salah, dan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang benar dan semua Tuhan yang lain adalah batil. Allah swt. berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.”(QS Al Hajj 22: 62) 

2.      Menjauh dari Thaghut  

Allah swt. berfirman telah mengutus Rasul kepada seluruh umat manusia dengan risalah yang sama: menyembah dan menaati Allah semata, dan manjauhi thaghut:

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”  (QS An Nahl 16: 36)Perintah untuk manjauh mempunyai implikasi yang besar daripada “tidak mendukung”. Ini karena sebuah perintah untuk menjauhi adalah lebih besar daripada perintah untuk tidak melakukan (dalam ushul fiqh). Seperti contoh, Allah swt. memerintahkan kita untuk menjauhi alkohol; untuk alasan yang lebih besar adalah tidak dibolehkan untuk membawa sebotol bir. Sama halnya dengan Allah memerintahkan kita untuk menjauhi thaghut. Jika mendekati thaghut saja tidak dibolehkan, apalagi untuk membiarkan seseorang untuk menjadi asistennya, sekutu, menteri ataupun mufti, selanjutnya, Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang menyembah (menaati atau mengikuti) tawaghit adalah tawaghit.” (HR Muslim no. 182) Berdasarkan hadits ini, kita bisa mengambil sebuah prinsip: seseorang yang menyembah, mengikuti, atau menaati thaghut adalah thaghut.Dengan demikian, mufti thaghut adalah thaghut, sekutu thaghut adalah thaghut, pembantu thaghut adalah thaghut, pendukung thaghut adalah thaghut, menteri thaghut adalah thaghut, perwakilan thaghut adalah tahghut, polisi thaghut adalah thaghut, dan tentara thaghut adalah thaghut. Ini sangat mirip pada prinsip umum: “seseorang yang bersekutu dengan orang kafir adalah kafir” dan “siapa saja yang bergabung dengan tentara kafir adalah kafir.” (berdasarkan surah Al-Ma”idah : 51).Umar bin Khattab berkata: “Thaghut adalah syaitan.” Untuk membuat prinsip di atas menjadi lebih mudah dipahami dan lebih tidak bisa disangkal. Istilah thaghut bisa diganti dengan syaitan. Bukanlah itu adalah kufur akbar, atau bahkan syirik, untuk menjadi mufti syaitan dari syaitan (yang bisa berbentuk jin dan manusia)? Bukankah itu murtad untuk bergabung dengan tentara atau polisi syaitan? Bukankah kufur untuk menjadi representatif dari syaitan? Hanya seseorang yang tidak mempunyai pemahaman yang baik saja tentang laa ilaaha ilallah yang akan menjawab tidak.

 Ini adalah sesuatu yang mengejutkan bagi orang-orang Murji’ah (orang yang memisahkan iman dari perbuatan) yang membuat beberapa keringanan untuk para mufti thaghut dan memberikan mereka “manfaat yang meragukan” tetapi tidak membuat sebuah keringan bagi ulama haq yang mempunyai walaa’ dengan kaum Muslimin dan mempunyai baraa’ah kepada Kuffar. Mereka menghabiskan berjam-jam untuk berbicara tentang “kabaikan” dari mufti thaghut dan orang-orang yang bersekutu dengan penguasa murtad, namun mereja tidak bisa menemukan sebuah hal baik pun untuk mengatakan tentang orang-orang yang menaati perintah Allah dan menjauhi thaghut. Pada puncaknya, mereka mempunyai keberanian untuk menyalahkan dan mengkritik orang-orang, mentakfir atas orang-orang yang membenarkan keberadaan thaghut, kemudian mendukungnya dengan membuat fatwa. Irjaa ini, penyimpangan dan kemunafikan perlu dihilangkan dari umat Muslim.

Seseorang yang men-takfir kepada pendukung, mufti, atau menteri syaitan (thaghut) tidak akan pernah disalahkan oleh seorang Muwahid (seseorang yang memiliki tauhid yang lurus). 

  1. Mendeklarasikan kebencian kepada Thaghut  

Kita harus mendeklarasikan bahwa semua thaghut adalah musuh kita sebagaimana mereka adalah musuh-musuh Allah. Jika seseorang tidak mendeklarasikan bahwa mereka adalah batil, menjauhi mereka dan mendeklarasikan kebencian kepada mereka, berarti dia tidak menolak thaghut. Secara alami, jika seseorang memahami bahwa thaghut adalah musuhnya, dia tidak akan bersekutu dengannya atau menjadi mufti dari rezim kufur-nya. Allah swt. berfirman:

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”“ (QS Al-Mumtahanah 60: 4)

Yaa Allah swt ! Berikanlah kerbekahanmu kepada Ibrahim a.s. dan juga atas keluarga Ibrahim! Sungguh mereka adalah Muwahidin yang benar, mereka menjauh dari thaghut dan mendeklarasikan kebencian terhadap mereka.

Anbiyaa’ dan Salihiin tidak mentolerir ulama untuk berada pada pintu penguasa tiran. Selanjutnya, tidak dibolehkan untuk berada di pintu penguasa thaghut yang telah bersekutu dengan orang-orang yang memerangi kaum Muslimin dan menolak syari’ah. 

  1. Membenci Thaghut  

Setelah kita mendeklarasikan thaghut adalah batil, menjauh darinya dan mendeklarasikannya untuk menjadi musuh kita, kita seharusnya kemudian membenci thaghut. Dalam Islam, tidak ada konsep “menyukai musuh”. Faktanya, ini telah dilarang untuk mencintai musuh kita dan melakukannya adalah sebuah kebodohan:

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”.” (QS Al Mumtahanah 60: 4)

Adalah sesuatau yang dilarang untuk menunjukkan kecintaan atau rasa kasih kepada thaghut, atau pada tentara-tentaranya, pendukungnya, asistennya, mufti, mentri-mentrinya dan seterusnya.

  1. Mendeklarasikan thaghut adalah kafir (Takfir)

 Setelah mendeklarasikan thaghut adalah bathil, menjauhinya, mendeklarasikan kebencian kepada mereka dan membenci thaghut, seseorang kemudian harus men-takfir (menyatakan kafir) kepada thaghut (syaitan). Adalah sesuatu yang mustahil apabila thaghut itu muslim, karena thaghut adalah apa yang disembah atau ditaati selain daripada Allah.

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”“ (QS Al Baqarah 2: 256)

Seseorang yang tidak mendeklarasikan Syaitan (Thaghut) itu kafir maka dia Kafir. Ini karena Allah swt. mendeklarasikan Syaitan itu kafir dalam Al-Qur”an. Lebih lanjut, Allah swt. juga mendeklarasikan seseorang yang menyembah thaghut adalah kafir :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An Nisa 4: 60)

 

Adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh syaitan untuk membuat kita menjadi kafir seperti mereka, dengan menggoda kita untuk mendekati thaghut yang seharusnya dijauhi. Selanjutnya ini menjadi esensi kepada kita untuk memahami Tauhid dan bagaimana cara untuk menolaknya, untuk menolak thaghut adalah kunci untuk memahami kalimat tauhid dan mencapai surga.

Mencari Ilmu dari Ulama Pemerintahan

 Adalah sesuatu yang tidak baik untuk membaca buku-buku ulama pemerintahan, mufti thaghut atau Ulama yang berlawanan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Allah SWT berfirman : Ÿwur (#þqãZx.ös? ’n<Î) tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß ãNä3¡¡yJtGsù â‘$¨Y9$# $tBur Nà6s9 `ÏiB Èbrߊ «!$# ô`ÏB uä!$uŠÏ9÷rr& ¢OèO Ÿw šcrçŽ|ÇZè? ÇÊÊÌÈ  

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Huud 11: 113)

Siapakah orang yang lebih salah dari orang yang membela Syaitan atau orang-orang yang membuat keringanan atas ke-kufuran-nya? Jika seseorang tidak menolak thaghut (dalam realitas, tidak hanya secara teori) bagaimana bisa kita mempercayai dia untuk masalah dien kita? Tauhid adalah persoalan yang utama yang harus diperhatikan.

Semoga Allah swt. menunjuki kita untuk mengaplikasikan apa yang kita pelajari, bagi orang-orang yang tidak ingin seperti keledai yang membawa kitab :

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS Al Jumu”ah 62: 5)