Skip navigation

KHILAFATUL MUSLIMIN

DENGAN AKAN DIADAKANNYA PEMEKARAN KEMAS’ULAN KHILAFATUL MUSLIMIN KABUPATEN KLATEN MENJADI 5 KEMAS’ULAN YAITU KEMAS’ULAN KLATEN 1, KLATEN 2, LEMAS’ULAN SUKOHARJO, & kEMAS’ULAN DIY SERTA PELANTIKAN AMIR UMMUL QURO’ KABUPATEN KLATEN YANG AKAN DIADAKAN PADA

HARI : RABU

TGL : 9 APRIL 2008

Pkl : 21.00 WIB

Tempat : Kantor Kemas’ulan Khilafatul Muslimin, Belang Wetan, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah.

Pelantikan oleh Kholifah/ Amirul Mu’minin.

Maka diharapkan kehadiran seluruh kaum muslimin untuk bisa menghadirinya dan berdialog mengenai sistem yang haq ini. demikianlah undangan ini dibuat.

YANG DIINGINKAN OLEH ORANG-ORANG KAFIR

Kaum Muslimin tidak perlu untuk membuat analisa politik dari apa yang orang-orang kafir inginkan dari umat Islam dengan membaca surat kabar mereka atau menyaksikan apa yang mereka tayangkan di Televisi. Melainkan Allah (swt) telah mnyokong kita, kaum Muslimin dengan Islam yang telah disampaikan kepada kita, melalui Al Qur’an, tentang semua rencana mereka. Untuk mencegah dari pandangan yang sempit kita harus mengambil manfaat dari jendela yang ‘unik’ ini kedalam sesuatu yang tidak terlihat untuk mengekspos rencana mereka dan dengan tujuan untuk memberikan kepada kita sebuah pandangan yang lebih baik tentang masa depan. Terbukti bahwa media orang-orang kafir tidak pernah mengalami kegagalan untuk merusak kemurnian pemahaman Islam dengan membanjiri kita dengan kebudayaan mereka, ide-ide, teori konspirasi, sejarah yang telah di distorsi dan sebagianya.

1.    INGIN AGAR ORANG-ORANG ISLAM MENJADI KAFIR SEPERTI MEREKA

Allah (swt) berfirman:

Mereka mengingikan (Wadd) kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)…. (QS Al Baqarah 2 : 89)

Disini Allah (swt) menggunakan kata Al Wudd yang berarti bahwa orang-orang kafir akan mencintai kita dengan tujuan agar mereka manjadikan kita (kaum Muslimin) sama seperti mereka yang tidak mempunyai ke-ridho-an dari Allah (swt) pada hari pengadilan nanti. Sebagaimana Rasulullah (saw) tidak pernah berkata kaum Muslimin bahwa mereka tidak seperti orang-orang kafir, tetapi beliau berkata : ‘Islam itu adalah tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya’. Lebih lanjut kaum Muslimin seharusnya tidak akan boleh membungkukkan diri di level orang-orang kafir melainkan harus tetap berdiri tegap pada Dien Islam, tak peduli betapa banyak cobaan dan kesengsaraan yang menimpa kita dan tak peduli pada yang dikonspirasikan oleh orang-orang kafir. Orang-orang Non-muslim selalu akan murka pada tindakan orang-orang Islam sebagai bentuk dari keimanannya dan mereka yang enggan untuk berkompromi sama sekali pada apa yang di beritakan di dalam teks-teks ketuhanan (wahyu – Al Qur’an dan Sunnah).

2.    MEMERANGI ORANG-ORANG ISLAM SAMPAI MEREKA MENJAUH DARI DIEN (IDEOLOGY)NYA

Allah (swt) berfirman:

…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)… (QS Al Baqarah 2 : 217)

Dengan kata lain kita diinformasikan bahwa nonmuslim akan terus-menerus memerangi umat Islam, sekalipun itu berarti mereka membunuhnya, sebagaimana di Afghanistan dan di Irak, jika mereka tidak menjauh dari Dien Al-Islam dan menjadi non-muslim seperti mereka. Tetapi Allah (swt) memperingati orang-orang Islam : ‘….siapa saja yang  berpaling dari Dien Al-Islam kemudian mati dalam keadaan kafir (tidak beriman) maka amal perbuatan mereka akan sia-sia dalam hidupnya dan nanti di hari akhir mereka orang-orang yang berada di nereka, kekal di dalamnya.’

3.    AGAR MENDAPATKAN KAUM MUSLIMIN UNTUK MENGIKUTI KEINGINAN MEREKA LEWAT MENGGODA DENGAN SHAHAWAH

Allah (swt) berfirman dalam Al Qur’an:

…sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS An Nisa 4 : 27)

Ayat ini di turunkan kepada Nabi Muhammad (saw) tentang seseorang yang ingin menikah tetapi tidak menurut pada tradisi (Sunnah) Rasulullah (saw) tetapi menurut pada hukum dan tradisi buatan manusia. As Sahawah disini adalah perbuatan buruk yang bisa merangsang naluri dan kebutuhan hidup seperti naluri untuk melangsungkan keturunan sampai promosi pelacuran, pornografi, pergaulan bebas, homoseksual, dan perzinahan dan kebutuhan seperti glamorosasi makanan, pakaian dan tempat tinggal yang mewah. Maka tak heran jika kita melihat bahwa industri terbesar di dunia kapitalis adalah industri pornografi, perjudian, obat-obatan terlarang dan alkohol, kosmetik dan fashion dan lain-lain.

4.    UNTUK MENYERANG DENGAN MENANGKAP MEREKA (KAUM MUSLIMIN) DENGAN SEENAKNYA

Allah (swt) berfirman:

…orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu… (QS An Nisa 4 : 102)

Oleh karena itu ini bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan bahwa orang-orang kafir saat ini menuntut agar kaum Muslimin menyerahkan senjata mereka di Iraq dan tempat lainnya seperti Pakistan. Dengan jelas Allah (swt) mengatakan kepada kaum Muslimin untuk menyiapakan sebanyak mungkin dari senjata yang terbaik untuk menakut-nakuti musuh, memerangi mereka jika memerangi kita dan sebagai kekuatan penghalang. Sesuatu hal yang dilarang bagi umat Islam untuk memberikan rincian senjata mereka kepada orang-orang kafir, membiarkan dengan sedirinya diberikan kepada orang-orang kafir. Padahal bahwa Allah (swt) berkata pada ayat ini bahwa kaum Muslimin harus waspada ketika mereka shalat, menjaga senjata mereka tetap dengan mereka setiap waktu dan bergantian untuk shalat pada saat yang lain menjaganya. Sebagai  tambahan Rasulullah (saw) berkata bahwa ‘senjata adalah perhiasan kaum Muslimin’, itu di sarankan kepada kaum Muslimin laki-laki untuk membawa sebuah senjata dengannya di setiap waktu dengan tujuan untuk menakut-nakuti musuh dan memerangi jika mereka menyerang kita (kaum Muslimin).

Kita bisa lihat konsekuensi dan kaum Muslimin yang memberikan senjatanya di Bosnia, ketika UN mengambilnya dari kaum Muslimin dan megizinkan orang-orang kafir Serbia membantai kaum Muslimin dalam skala masa.

5.    UNTUK MELIHAT KAUM MUSLIM MERASA SEDIH DAN MENDERITA

Allah (swt) berfirman:

…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi…. (QS Ali Imran 3 : 118)

Lebih Lanjut kita bisa melihat bagaimana orang-orang kafir merasa senang ketika kaum Muslimin di pearngi dan di bunuh. Hanya kemarin menunjukan sebuah konfrensi di Wales pelaku fasis Tony Blair mengatakan bahwa ia merasa ‘bangga’ pada apa yang dia (dan US) lakukan di Afghanistan, ketika mengunakan B52 untuk membom sekitar 200.000 kaum Muslimin telah membunuh secara membabi buta dan sekarang ini menghilang! Dia mengatakan bahwa permasalahan di Kashmir adalah karena ‘teroris’, yang berarti Mujahidin Muslim yang mempertahankan kaum Muslimin yang tidak bersalah, wanita dan anak-anak dari pembunuhan yang dilakukan oleh pendudukan Hindu, pada gerombolan yang tidak segan-segan untuk memperkosa wanita Muslim. Lebih dari itu barbar US dan Inggris tidak mempunyai permasalahan politik, pengadaan militer dan dukungan ekonomi terhadap Negara perampok Israel yang dilakukan secara terang-terangan di tanah kaum Muslimin dan kekejaman yang dilakukan untuk melawan kaum Muslimin.

6.    MEMADAMKAN CAHAYA ALLAH (SWT)

Allah (swt) berfirman:

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS At Taubah 9 : 32-33)

Allah (swt) disini menginformasikan kepada kita bahwa orang-orang kafir akan melakukan apapun untuk merugikan kaum Muslimin. Maka kita lihat pada hari ini bahwa ada sekitar 250.000 orang-orang US dan Inggris memaksa untuk berjaga-jaga dan siap menyambar kaum Muslimin di Timur Tengah. Namun Allah (swt) menjajikan kepada kaum Muslim kemenangan pada akhirnya. Kita mungkin kalah dalam sebuah pertempuran atau lebih tetapi kita tidak akan kalah pada peperang yang terakhir antara kebenaran dan kebatilan. Bukanlah senjata-senjata dan jumlah yang menjamin kita kemenangan, melainkan kemenangan itu di tangan Allah (swt) yang akan di berikan kepada siapa-siapa yang dikehendaki.

Oleh karena itu kita harus bersiap sebanyak mungkin seperti mereka yang bisa untuk memerangi para agressor yang meliputi untuk meletakkan kepercayaan mereka secara penuh kepada Allah (swt) atas hasilnya nanti. Senjata kaum Muslimin adalah Iman (kepercayaan teguh), tawakkal (yakin sepenuhnya kepada Allah) seperti halnya persiapan fisik. Kaum Muslimin juga harus menghargai kepada mereka yang berusaha untuk menerapkan Syariah @ Khilafah pada setiap wilayah dan setiap level masyarakat. Ini adalah satu-satunya cara bagi kaum Muslimin untuk hidup dengan kehidupan yang adil, dan jadilah ekonomi, sosial, peraturan, pengadilan kita dan lain-lain untuk diatur berdasarkan Syariah (hukum Islam) yang di manifestasikan dalam Negara Islam (Khilafah Islamiyah). Sekerang 80 tahun lebih kita hdup tanpa penerapan Syariat Islam atas kaum Muslimin di seluruh belahan Bumi. Selama lebih dari 80 tahun dibiarkan terpecah menjadi Negara yang tidak Islami, masing-masing menguasai dengan kekuasaan yang kejam menerapkan hukum yang tidak Islami seperti demokrasi, kediktatoran, Monarki, Kapitalisme, Sosialisme dan sebagianya. Kehadiran Khilafah berarti bahwa kaum Muslimin sekali lagi mempunyai prisai untuk melindungi diri mereka dan dari mereka yang berperang untuk melindungi kehidupan, kekayaan, dan kehormatan kaum Muslimin. Itu juga membentuk sebuah pengertian dengan membentuk kedaulatan Islam yang dapat menyebar dengan menghancurkan rintangan pada jalan yang dilaluinya untuk mengimplementasikan Syari’ah yang memuncak dalam kesatuan negeri kaum Muslimin dibawah satu hukum, tujuan, dan kedaulatan. Ini tentunya akan berarti sebuah super-power baru di dunia, dengan tentara-tentera yang akan mencintai kematian seperti cintanya orang-orang kafir pada dunia ini dan juga akan muncul orang-orang yang cinta kepada perjuangan dan mati karena Allah (swt) untuk meninggikan namaNya setinggi-tingginya. Ini adalah sebuah ketakutan orang-orang kafir yang nyata dan itu sebabnya mengapa mereka menghentikan Taliban ketika mereka mengadopsi ‘proyek’ ini. Disamping usaha-usaha orang-orang kafir, Allah (swt) menjajikan kita di dalam Al Qur’an bahwa Dia akan memberikan kaum Muslimin kemengan dan kedaulatan dengan cara memberikannya kepada mereka yang telah memenuhi perintahNya dan meletakkan kepercayaan mereka padaNya (swt). NB dengan demikian bagaimana bisa seseorang memilih (teman) orang-orang kafir atau berpertisiapsi di dalam parlement mereka?

7.    MERUBAH KALIMAH ALLAH (SWT)

Allah (swt) berfirman :

…mereka hendak merobah kalimat Allah…. (swt).  (QS Al Fath 48 : 15)

Cara bahwa orang-orang kafir merubah kalimat Allah sebelumnya, di dalam Taurat dan Injil, mereka ingin membuat distorsi pada kalimat Allah (swt) di dalam Al Qur’an. Namun Al Qur’an adalah mu’jizat dengan dengan sendirinya dan tidak bisa di rubah, Allah (swt) berjanji untuk memeliharanya sendiri. Lebih lajut kita melihat para Orientalis (mereka yang belajar Islam dari prespektif barat) di Universitas SOAS dan banyak lagi institut-institut mencoba untuk melatakkan keraguan di benak kaum Muslimin tentang kemurnian Al Qur’an dan kerasulan terakhir Muhammad (saw).

8.    MENYESATKAN KAUM MUSLIMIN

Allah (swt) berfirman:

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri,… (QS Ali Imran 3 : 69)

Kita melihat orang-orang kafir mencoba kepada kaum Muslimin dengan ide kesamaan beragama (pluralisme) adalah sebuah gagasan yang terkutuk – salah jika kaum Muslimin, orang-orang Nasrani dan yahudi akan mempunyai sebuah tempat tempat ibadah sama dan kitab yang satu, dengan perkataan bahwa ‘kita semua adalah umat dari Ibrahim (as)’, adalah yang menganut monotheist dan bukan polytheist. Lebih lanjut Ibrahim (as) datang beribu-ribu tahun sebelum Yahudi dan Nasrani dan kemudian itu bukanlah Yahudi dan bukan juga Nasrani.

Ide Pluraslisme adalah ide yang yang tidak lebih dari usaha untuk merusak umat Islam dan kemurnian keyakinan mereka. Kaum Muslimin yang teguh tidak akan pernah bisa di tipu dengan rencana seperti itu.

9.    AGAR KEBURUKAN MENIMPA KAUM MUSLIMIN

Allah (swt) berfirman:

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu… (QS Ali Imran 3 : 119-120)

Ini seharusnya sudah menjadi pelajaran yang sudah mengkristal kepada siapa saja yang menyukai gerombolan-gerombolan orang-orang kafir bagi kaum Muslimin seperti MCB dan CAIR (di US). Allah (swt) disini mengatakan kepada kita kenyataan perasaan orang-orang kafir yang membenci kaum muslimin untuk mempunyai sesuatu yang baik dan yang gembira pada penderitaan dan siksaan kaum Muslimin seperti di Afghanistan, Chechnya, Palestina, Kasymir dan lain-lain. Melainkan hanya kaum Muslimin yang tulus hatinya yang sungguh-sungguh mempertahankan, melindungi dan bersekutu dengan kaum Muslimin saja bukan pada PBB, USA dan Inggris.

Status Pegawai Negeri Pemerintahan Thaghut

Oleh: Ust Abu Sulaiman Aman Abdurrahman (Fakallahu ‘Asrah)

Ikhwani fillah, materi kali ini adalah tentang status orang-orang yang atau dinas-dinas yang ada di pemerintahan thaghut ini. Apakah pekerjaan yang ada di semua dinas-dinas thaghut ini pekerjaan-pekerjaanya kafir, ataukah ada rincian.Pada masalah ini, ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya merupakan kekufuran, dan ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya dosa besar, dan ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya tidak masuk ke dalam dua kategori ini. Kita akan merincinya dan menyebutkan contoh-contohnya.

1.     Pekerjaan yang bersifat kekafiran

Di antara pekerjaan atau dinas yang merupakan kekufuran adalah dinas yang mengandung salah salah satu di antara hal-hal berikut ini:

a)     Dinas yang mengandung pembuatan hukum.

Orang yang membuat hukum atau dia bagian dari lembaga yang membuat hukum, maka pekerjaannya dan orang-orang yang tergabung di dalamnya adalah orang-orang kafir. Seperti orang-orang yang ada di lembaga legislatif dari kalangan anggota-anggota parlemen, karena di antara tugas parlemen itu adalah membuat hukum, maka pekerjaan ini adalah merupakan pekerjaan kekufuran dan orangnya adalah orang kafir. Adapun dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu.” (An Nisa: 60)Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang membuat hukum yang dirujuk selain Allah disebut thaghut, orang yang merujuk kepada selain hukum Allah disebutkan dalam ayat itu bahwa imannya bohong dan hanya klaim, dan yang dirujuk tersebut, yaitu si pembuat hukum ini yang Allah katakan sebagai thaghut, sedangkan kita tahu bahwa thaghut itu lebih kafir daripada orang kafir.Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat yang lain: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At Taubah: 31)Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis:a)     Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahibb)     Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahibc)     Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaahd)     Mereka telah musyrike)     Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab.Imam At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan ‘Adiy ibnu Hatim (seorang hahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan: “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”, Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami telah mempertuhankan mereka atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka? Maka Rasul mengatakan: “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”. Lalu ‘Adiy menjawab: “Ya”, Rasul berkata lagi: Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib).Jadi bentuk peribadatan di sini adalah ketika alim ulama itu membuat hukum di samping hukum Allah, kemudian hukum tersebut diikuti dan ditaati oleh para pengikutnya, maka si alim ulama atau pendeta tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala cap mereka sebagai Arbab atau sebagai orang yang memposisikan dirinya sebagai tuhan selain Allah, sedangkan orang yang memposisikan dirinya sebagi pembuat hukum atau sebagai tuhan selain Allah, maka dia itu adalah orang kafir. Maka berarti pekerjaan ini adalah pekerjaan kekafiran.Dan dalil yang lain adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Apakan mereka memiliki sekutu-sekutu yang menetapkan bagi mereka dari dien (hukum/ajaran) ini apa yang tidak Allah izinkan”. (Asy Syura: 21)Dalam ayat ini Allah mencap para pembuat hukum selain Allah sebagai syuraka (sekutu-sekutu) yang diangkat oleh para pendukungnya sebagai sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan orang yang memposisikan dirinya sebagai sekutu bagi Allah adalah orang kafir.Ini adalah pekerjaan pertama yang merupakan kekafiran; yaitu orang yang pekerjaannya adalah membuat hukum atau menggulirkan atau menggodok undang-undang, seperti para anggota dewan perwakilan dan yang serupa dengannya atau apapun namanya.

b)    Pekerjaan yang tugasnya bersifat pemutusan dengan selain hukum Allah. 

Orang yang bekerja dimana pekerjaannya adalah memvonis dan menuntut dengan selain hukum Allah, seperti para jaksa dan hakim. Mereka menuntut dan memutuskan di persidangan, si jaksa yang memuntut dan si hakim yang memutuskan, sedangkan kedua-duanya adalah memutuskan dengan selain hukum Allah. Pekerjaan semacam ini, pemutusan dengan selain hukum Allah ini merupakan pekerjaan kekafiran dan orangnya telah Allah cap secara tegas dan jelas sebagai orang kafir, dzalim, dan fasiq dalam satu surat: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (Al Maidah: 44) “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (Al Maidah: 45) “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (Al Maidah: 47) Sedangkan kita mengetahui bahwa para hakim dan para jaksa ketika memutuskan atau ketika menuntut mereka memutuskan dan menuntutnya dengan selain hukum Allah, yaitu dengan hukum jahiliyyah (hukum thaghut), maka pekerjaannya adalah pekerjaan kekafiran. 

c)    Pekerjaan yang bersifat nushrah (pembelaan/perlindungan) bagi sistem thaghut ini. 

Ini adalah sebagaimana yang sudah dijabarkan dalan materi Anshar Thaghut, seperti; tentara, polisi, atau badan-badan intelejen. Maka dzat dari pekerjaan ini adalah kekafiran karena mereka nushrah terhadap thaghutnya dan terhadap sistemnya itu sendiri, maka berarti ini pekerjaan kekafiran dan orangnya adalah sebagai orang kafir, sebagaimana yang Allah katakan dalam firman-Nya: “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan (wali-wali) syaitan itu” (An Nisa: 76) Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencap mereka sebagai orang kafir karena mereka berperang di jalan thaghut. Dan dalam surat yang lain Allah mengatakan: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta”. (Al Hasyr: 11) Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan ukhuwah kufriyyah antara orang munafiq dengan orang-orang Yahudi, padahal kita tahu bahwa orang munafiq dihukumi secara dunia sebagai orang muslim, akan tetapi ketika dia menampakkan kekafiran dengan cara membantu orang-orang Yahudi, maka dia vonis kafir. Orang munafiq dalam ayat ini dihukumi kafir karena berjanji akan membantu orang Yahudi dalam memerangi Rasulullah, padahal janji mereka di hadapan orang Yahudi itu bohong, akan tetapi Allah memvonis mereka sebagai orang kafir karena menjanjikan akan melakukan kekafiran, yaitu membela orang Yahudi dalam memerangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga orang yang berjanji untuk melakukan kekafiran tapi janjinya bohong, maka tetap dia itu sebagai orang kafir. Ini adalah dalil, bahwa membantu orang kafir di atas kekafiran adalah merupakan kekafiran dan orangnya adalah orang kafir. Oleh karena itu dinas yang bersifat pembelaan dan perlindungan bagi sistem thaghut merupakan dinas kekafiran dan pekerjannya itu adalah pekerjaan yang membuat kafir pelakunya. 

d)    Setiap pekerjaan yang bersifat tawalliy kepada hukum thaghut. 

Orang yang dzat pekerjaannya tawalliy (loyalitas) kepada sistem thaghut, dia melaksanakan hukum-hukum thaghut secara langsung, seperti aparat thaghut yang bekerja di departemen kehakiman, dinas mereka langsung tawalliy kepada hukum thaghut. Dinas seperti ini adalah dinas kekafiran. Dan dinas yang seperti ini juga adalah kejaksaan. Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelis thaghut ini. Dia tawalliy penuh kepada sistem ini karena kegiatan-kegiatan angota DPR/MPR tidak akan terlaksana tanpa ada pengaturan dari mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah: “Kami akan mematuhi kamu dalam sebagian urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka”. (Muhammad: 25-26). Orang yang mengatakan kepada orang kafir atau thaghut “kami akan mentaati kalian dalam sebagian urusan kekafiran” telah Allah vonis kafir, sedangkan orang-orang yang tawalliy tadi, mereka mengikuti sepenuhnya kekafiran ini, mengikuti thaghut sepenuhnya dalam melaksanakan hukum-hukum kekafiran (hukum thaghut).  

e)    Orang yang bersumpah untuk loyal kepada thaghut (sistem/hukum/undang-undang) 

Setiap orang yang bersumpah untuk loyal kepada undang-undang, apapun dinasnya, walaupun dia kerja di dinas pendidikan umpamanya, atau dinas pertanian, atau dinas perhutanan, akan tetapi jika dia bersumpah untuk loyal kepada undang-undang atau kepada sistem thaghut, maka apapun bentuk pekerjaannya jika dia melakukan sumpah, maka dia kafir dengan sebab sumpahnya, bukan dengan sebab pekerjaannya. Ini berbeda dengan dengan jenis pekerjaan yang sebelumnya, dimana yang menyebabkan kekafiran adalah dzat pekerjaannya, seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir. Sedangkan di sini, orang menjadi kafir bukan dengan sebab dari sisi pekerjaannya, tapi dari sisi sumpahnya, apapun bentuk dinasnya jika selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir. Jika saja Allah memvonis murtad orang yang menyatakan akan taat, setia dan akan mengikuti hanya dalam sebagian kekafiran, maka apa gerangan dengan orang yang menyatakan dalam sumpahnya; kami akan setia dan taat sepenuhnya kepada Undang Undang Dasar atau Pancasila atau kepada Negara Kafir Republik Indonesia…??? ini lebih kafir daripada orang yang Allah vonis murtad dalam surat Muhammad tadi. Jika saja mengikuti sebagiannya saja Allah vonis murtad, maka apa gerangan dengan orang yang mengatakan akan setia dan mengikuti sepenuhnya…?!! Ini adalah di antara pekerjaan-pekerjaan atau dinas-dinas yang Allah vonis kafir pelakunya, dan pekerjaan ini merupakan pekerjaan kekafiran di dinas thaghut tadi. 

 

2.      Pekerjaan yang bersifat keharaman 

Jika pekerjaan selainnya yang tidak ada kelima unsur tadi; tidak ada pembuatan hukum, tidak ada pemutusan dengan selain hukum Allah, tidak ada pembelaan atau tidak ada tawalliy, tidak ada janji setia kepada hukum thaghut, maka dinas-dinas yang tidak ada kelima unsur tadi harus dilihat apakah dinas tersebut dinas kedzaliman yang merupakan keharaman ataukah bukan (dinas yang mubah). Apabila dinas tersebut adalah dinas keharaman lalu tidak ada lima hal tadi, seperti di perpajakan atau bea cukai atau keimigrasian yang merupakan kedzaliman, atau di bank-bank riba, maka ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang haram. Ini bukan pekerjaan kekafiran kecuali kalau ada sumpah. Orang yang bekerja sebagai PNS di bea cukai, dzat pekerjaannya adalah haram karena kedzaliman, dan jika ada sumpah maka dia kafir dari sisi sumpahnya, jika tidak ada sumpah, maka pekerjaannya itu adalah pekerjaannya saja yang haram. 

 

3.      Pekerjaan yang mubah 

Seandainya tidak ada kelima hal tadi, terus pekerjaannya juga bukan pekerjaan yang haram, maka itu adalah pekerjaan yang mubah (yang boleh-boleh saja) seperti di kesehatan, di pertanian, di kelautan, atau dimas-dinas yang bukan merupakan kekufuran dan bukan merupakan keharaman.  Para ulama mengatakan bahwa jika dinas tersebut milik thaghut maka minimal hukumnya makruh, tidak dikatakan mubah karena minimal dia dekat dengan thaghut. Hukumnya makruh tapi dengan syarat dia tetap menampakkan keyakinannya. Dalil dalam hal itu adalah hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Shahih-nya pada Kibal Ijarah bab “Apakah seorang boleh mengupahkan dirinya bekerja pada orang musyrik di negeri harbiy”: Dari Khabab radliyallahu ‘anhu, berkata: “Saya adalah pandai besi, kemudian saya bekerja untuk Al ‘Ash Ibnu Wail, sehingga terkumpul hak upah saya di sisinya, kemudian saya mendatanginya untuk meminta upah itu darinya”, maka ia (Al ‘Ash ibnu Wail) berkata: “Tidak, demi Allah. Saya tidak akan membayar upahmu sampai kamu kafir kepada Muhammad !”, maka saya berkata: “Demi Allah, tidak akan saya lakukan sampai kamu mati kemudian dibangkitkan sekalipun”, ia berkata: “Apa saya akan mati kemudian dibangkitkan ?”, saya berkata: “Ya !”, dan ia berkata: “Ya, berarti di sana saya akan memiliki harta dan anak, kamudian saya akan membayar upahmu”. Di sini Khabab menampakkan keyakinannya. Jadi dalam dinas-dinas seperti kesehatan dan yang lainnya yang sifatnya mubah-mubah saja dengan syarat tetap menampakkan keyakinan di tengah mereka, karena jika tidak menampakkan maka ia berdosa karena dia meninggalkan hal yang wajib yaitu idzharuddin karena mencari pekerjaan yang bersifat dunia ini. Akan tetapi jika seandainya dinas-dinas yang mubah ini di dalamnya ada sumpahnya, maka dia kafir karena sebab sumpahnya bukan karena dzat pekerjaannya. Dan yang harus dikertahui juga adalah jika dia bekerja di dinas-dinas yang mubah tadi lalu dia sebelumnya bersumpah, maka dia kafir karena sumpahnya, karena secara hukum thaghut ketika diangkat menjadi PNS maka dia diambil sumpahnya sesuai dengan undang-undang yang berlaku di dinas kepegawaian yaitu bahwa semua PNS di Indonesia ini harus bersumpah ikrar setia. Secara hukum, PNS ini disumpah[1], akan tetapi antara disumpah atau tidak itu urusan dia dengan dengan Allah, jika kita tidak tahu apakah dia itu mengikrarkan sumpah atau tidak, maka dia tidak bisa dikafirkan karena dzat pekerjaannya bukan pekerjaan kekufuran, kecuali bila kita mendengar saksi dari dua orang laki-laki muslim yang adil atau pengakuan dari dia langsung, maka kita nasihati agar dia berlepas diri dari sumpahnya. Ini berbeda dengan tentara atau polisi atau aparat lainnya dimana kita bisa langsung mengkafirkan mereka, juga seperti anggota MPR/DPR karena dzat pekerjaannya merupakan kekafiran, kita tidak bisa menghukuminya sebagai orang muslim sampai dia keluar dari pekerjannya dan melepaskan segala atribut pekerjaannya. Jika orang bekerja di dinas-dinas keharaman atau yang mubah tadi, lalu dia pernah bersumpah dan setelah kita nasihati, lalu dia menyatakan keberlepasan diri daripada sumpahnya, dia bertaubat daripada sumpah kekufurannya, dia ikrarkan dua kalimah syahadat, maka dia dihukumi sebagai orang muslim walaupun dia tidak keluar daripada kedinasannya, karena kekafirannya disebabkan oleh sumpahnya, bukan karena dinasnya. Jadi, di sini dibedakan antara kekafiran yang disebabkan oleh dzat pekerjaannya dengan kekafiran yang diakibatkan oleh oleh sumpah untuk setia dan loyal kepada thaghut. Dalam realita masyarakat banyak terdapat PNS, tapi kita tidak mengetahui secara individu dari mereka apakah si fulan ini sumpah ataukah tidak, maka kita tidak bisa mengkafirkannya meskipun pada hakikat sebenarnya dia itu telah bersumpah, karena yang mengetahui dia mengaikrarkan sumpah atau tidak hanya Allah sedangkan kita tidak tahu. Kita melihat dzat pekerjaannya bukan kekufuran, maka dia tidak boleh dikafirkan, karena kita menghukumi secara dhahir sedangkan urusan bathin maka itu urusan Allah. Kemudian, bagi orang yang telah bekerja di dinas kekafiran akan tetapi dia sudah pensiun atau sudah berhenti dari pekerjaannya, baik berhentinya karena dipecat atau karena mengundurkan diri atau karena selesai masa jabatannya, maka bagi orang-orang semacam ini; jika selama dia menampakkan keislaman, lalu tidak muncul dari sikap atau dari ucapan dia hal-hal yang menunjukan bahwa dia itu masih menginginkan perbuatannya itu atau masih membanggakannya atau membolehkannya atau menganjurkan agar orang masuk ke dalamnya, maka orang seperti itu kita hukumi secara dunia dia itu muslim, sedangkan masalah bathinnya itu urusan dia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini adalah ketika menyikapi orang-orang semacam itu, karena ketika kita mengkafirkan orang-orang yang bekerja di dinas-dinas kekafiran adalah karena pekerjaannya, jika dia sudah berhenti dan meninggalkan pekerjaannya apapun faktor yang membuat dia berhenti, maka apabila tidak muncul dari ucapannya atau perbuatannya hal-hal yang menunjukan bahwa dia masih menginginkannya atau membanggakannya dan dia menampakkan keislaman maka dia dihukumi muslim kembali secara hokum dunia, adapaun masalah bathinnya maka perhitungannya itu di sisi Allah. Ini sebagaimana dalam hadits dari Imam Muslim yang diriwayatkan dari Abu Malik Al Asyja’iy: “Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah ta’ala”, karena kadar minimal adalah meninggalkannya. Ini adalah materi tentang status pekerjaan-pekerjaan yang ada di dinas-dinas pemerintahan thaghut ini. Diantaranya ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya merupakan kekufuran, dan ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya dosa besar, dan ada pekerjaan yang sifatnya tidak masuk ke dalam dua kategori ini atau pekerjaan ini bersifat mubah. Dan terakhir, ketika para shahabat memperlakukan keluarga atau anak isteri anshar tahghut, seperti kelompok Musailamah Al Kadzdzab adalah sebagai orang kafir. Mungkin ada pertanyaan kenapa kita sekarang tidak memperlakukan anak isteri anshar thaghut ini sebagai orang kafir…? Ini karena bahwa anak isteri anshar thaghut bisa dikatakan kafir bila dalam konteks muwajahah (konfrontasi) antara kelompok Islam dengan kelompok kafir, itu juga dengan dua syarat: pertama, kaum muslimin memiliki kekuatan dan mendominasi penuh terhadap orang kafir tersebut. Kedua: ada kemungkinan untuk bergabung kepada kelompok Islam tersebut. Dikarenakan pada waktu itu kekuatan kaum muslimin sangat mendominasi, maka jika seandainya mereka (keluarga anshar thaghut) mau membelot lalu bergabung dengan kaum muslimin mereka bisa, dan ketika mereka tidak melakukannya dimana waktu itu dalam konteks sedang muwajahah, maka mereka dihukumi kafir murtad. Sebagaimana Rasulullah sebelumnya saat Futuh Mekkah, maka orang yang ada di kota Mekkah semuanya diperlakukan sebagai orang kafir. Saat itu kekuatan kaum muslimin berada di atas kekuatan orang kafir, dan orang yang mengaku muslim yang ada ditengah mereka bisa bergabung dengan kaum muslimin jika mau. Dan ketika tidak bergabung maka dihukumi kafir oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Berbeda halnya jika dua syarat ini atau salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi seperti saat sekarang ini dimana kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki dominasi, maka dari itu kita tidak mengkafirkan anak isteri anshar tahghut, dan ini seperti isteri Fir’aun, dimana Allah mengatakan tentangnya dalam surat At Tahrim bahwa isteri Fir’aun adalah seorang mukmin. Kenapa mukmin dan tidak dihukumi seperti isteri Musailamah umpamnya, karena kaum muslimin pada saat itu Nabi Musa tidak memiliki dar (wilayah) dan tidak mendominasi kekuatannya dan juga tidak bisa membelot atau bergabung dengan kaum Nabi Musa. Jadi jika dua syarat ini tidak terpenuhi, maka kita memperlakukan orang yang menampakkan keislaman di tengah orang-orang kafir sebagai orang muslim. Orang muslim dimana saja adalah orang muslim, baik itu di darul harbiy ataupun di darul Islam.



* Seperti yang ada pada Sumpah Pegawai Negeri Sipil RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 1975 pasal 6 yang berbunyi: “Demi Allah, Saya Bersumpah: Bahwa saya untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah; Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab; Bahwa saya akan senantiasa menjungjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai Negeri serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan; Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu menurut sifatnya atau menurut perintah saya haruus merahasiakan; 

Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara.”

Kebangkitan Dan Keruntuhan Khilafah

Ust. Abdul Qodir Hasan Baraja’

Bismilahirrohmanir Rohim.

Islam dengan misinya yang diumumkan sejak Rosulullah SAW berada di Mekah sebagai “ RAHMATAN LIL’ALAMIN”Artinya: Dan kami mengutusMu (Hai Muhammad) hanyalah sebagai Rahmat bagi sekalian alam.

Dan pernyataan beliau bahwa ; beliau adalah utusan Allah kepada seluruh manusia, merupakan suatu pencanangan dimulainya era globalisasi berdasarkan konsep Islam yang bersifat universal, walaupun pada saat pengumuman itu, ajaran Islam belum sempurna.

Kini zaman menampakkan dirinya melalui istilah Milenium ketiga/ zaman globalisasi bersama konsep universal buatan manusia merupakan rahmat/ karunia Allah SWT bagi kaum muslimin pengemban misi Rahmatan Lil’alamin ; yang wajib disyukuri dan harus terus diantisipasi demi upaya mewujudkan kejayaan Islam, teraplikasinya sistem Islam dalam kehidupan nyata dan terbentuknya masyarakat yang cinta damai serta sejahtera lahir & batin.

Alam semesta beserta segala isinya adalah milik Allah : Dia pencipta tunggal bagi keseluruhan yang ada, yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui: maka hanya dengan menuruti segala kehendak-Nya lah, keadilan kesejahterahan terwujud serta kedzaliman dan kerusakan tercegah.

Misi “RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” telah terbukti di masa lampau mengakhiri segala kebejatan moral manusia melalui penetapan ajaran Allah dan Rosul-Nya secara menyeluruh.

Sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan Rosulullah saw selama + 23 (duapuluh tiga tahun) dari Mekah ke Madinah Al Munawaroh adalah kepemimpinan terbaik paling sukses yang pernah ada dipermukaan bumi ini; kepemimpinan Islam, yang mewajibkan seluruh kaum Muslimin tunduk di bawah satu kepemimpinan dan mengharamkan perpecahan dalam berbagai sekte dan golongan.

Perpecahan dalam Islam, yang mengakibatkan golongan-golongan/ sekte-sekte/ partai-partai/ firkoh-firkoh yang tidak dapat dipersatukan dalam satu jama’ah sebagai wadah wihdatul ummah dibawah satu kepemimpinan, jelas dinyatakan Allah sebagai satu kemusyrikan sesuai firman-Nya:

Artinya:

Dan janganlah kalian menjadi orang-orang musyrik ; yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka lalu mereka menjadi bergolongan-golongan setiap golongan hanya bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri.Oleh karena itu semua golongan Islam yang pada saat ini berjumlah 1001 macam, wajib berupaya agar dapat dipersatukan di bawah satu kepemimpinan Islam di tingkat Internasional.

Tanpa upaya kearah tersebut, maka potensi umat Islam hilang dan merupakan dosa.

Sesungguhnya bibit-bibit perpecahan dalam Islam sudah ada semenjak Rosulullah saw masih hidup melalui provokasi orang-orang munafik namun dapat diatasi.

Setelah Rosulullah saw wafat, kepemimpinan beralih kepada Khalifah Abu Bakar As-Siddik sebagai Khalifatur Rosul kemudian diteruskan oleh Kholifah yang kedua, ketiga dan keempat perpecahan ummat Islam masih dapat diatasi dan potensi ummat Islam tetap terjamin dalam mempertahankan kewibawaan kaum Muslimin. Keempat Khalifah tersebut selama kurang labih 30 tahun adalah para pemimpin dalam sistem Islam yang melanjutkan kepemimpinan Rosulullah saw yang disebut sistem Khilafah Islamiyah. Kepemimpinan sistem Khilafah inilah merupakan satu-satunya sistem yang mungkin mampu menjaga keutuhan ummat Islam dalam satu Wihdatul Ummah, di bawah seorang Imam/ Khalifah/ Amirulmu’minin; sedang sistem-sistem lainnya adalah mustahil dapat mempersatukan ummat Islam.

Kaum Muslimin / Muslimat yang berbahagia !

Islam telah menentukan istilah kepemimpinannya sendiri bagi kepemimpinan seluruh kaum Muslimin diatas permukaan bumi ini sesuai firman Allah:

Artinya : Hai orang-orang yang beriman ! Tho’atilah Allah dan Rosululloh serta Ulil Amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu hendaknya kalian kembalikan kepada Allah dan Rosul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu adalah ( cara ) yang lebih utama dalam mengambil keputusan.(QS. 4 : 59 )

Tentunya semua kaum muslimin dapat memahami, bahwa jika Allah telah mewajibkan tho’at Allah, Rosul dan Ulil Amri, maka di manapun kelompok orang yang beriman berada, mereka tidak dapat membuat ketentuan sendiri untuk tidak mentaati Ulil Amri; sebab jika seorang mu’min meninggal, maka ia tidak boleh menjawab bahwa ia tidak butuh pada Ulil Amri ataupun tidak mentaati Ulil Amri, padahal Allah telah mewajibkanya. Akankah kaum muslimin menjawab bahwa belum saatnya mentaati Ulil Amri?! Sebagai Imam/ Kholifah/ Amirul Mu’minin? Demi keutuhan Jamaah dan tercegahnya perpecahan?

Betapa indahnya jika setiap mu’min/ mu’minah dipermukaan bumi ini menyadari pentingnya mempunyai Ulil Amri untuk dapat menyempurnakan ibadah kepada Allah dan agar umat Islam mempunyai suara di tingkat Internasional sehingga tak dapat diremehkan oleh siapapun juga. Sebuah misi yang dinyatakan sebagai “Rahmatal lil ‘Alamin perlu diupayakan secara damai, sebagaimana Rasulullah sebelum hijrah terlebih dahulu mengutus Mus’ab bin Umair untuk menda’wahkan misi Islam ke negeri Madinah; sehingga mayoritas penduduk Madinah menerima baik da’wah yang disampaikannya. Pada saat Rasulullah bersama shohabat beliau diperintahkan untuk berhijrah, situasi kota Madinah pun siap untuk menyambut kedatangan beliau bersama kaum Muhajirin sehingga orang-orang yang non muslimpun bersedia tunduk di bawah kepemimpinan Islam.

Memang sudah menjadi sunatullah bahwa suatu misi ummat hanya akan meraih kemenangan jika misi tersebut mendapatkan dukungan umatnya, dan selama belum mendapatkan dukungan dari mayoritas ummat, maka kemenangan belum dapat diharapkan di atas dunia. Perlu mendapat perhatiaan khusus bahwasanya yang menjadi fokus hijrahnya Rasululloh saw bersama shohabat beliau ke Madinah bukan masalah pelaksanaan syari’ah, akan tetapi yang menjadi persoalan pokoknya adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat/ dukungan mayoritas ummat yang ada pada saat itu, sementara syari’ah baru sempurna setelah + 10 tahun kemudian. Upaya untuk mendapatkan dukungan mayoritas ummat itulah yang harus di maksimalkan dengan terlebih dahulu menunjuk seorang pemimpin sebagai Imam/ Kholifah ummat Islam. Maka Khilafah Islamiyah milik kaum muslimin atau Khalifatul Muslimin berkewajiban membentuk perwakilan-perwakilannya di seluruh dunia, terutama di setiap kampung di negeri ini sebagi sponsor Madinah, sehingga terbentuk masyarakat Madani yang kita cita-citakan bersama kebebasan dan kemerdekaan ummat non muslim melaksanakan peribadatan masing-masing.

Kaum Muslimin/ Muslimat yang saya hormati.Sungguh kejayaan yang dicapai kaum muslimin di masa dahulu hanyalah karena mereka mampu mempertahankan keutuhan ummat di bawah sistem khilafah dengan membuktikan sam’an wa tho’atan kepeda Ulil Amri mereka. Apabila sistem kepemimpinan Islam tidak lagi mempertahankan kesatuan kaum muslimin maka di saat itu pulalah potensi ummat Islam mulai melemah, wibawa mereka mulai memudar dan ummat terpecah belah menjadi berkeping-keping dan bergolong-golongan menuju kehancuran. Semestinya hal tersebut tidak boleh terjadi; di mana ancaman Allah dan Rosul terhadap perpecahan itu sudah cukup jelas; dan secara rasionil dapat dipahami bahwa perpecahan suatu ummat tak mungkin menghasilkan kekuatan kecuali hanya akan menghasilkan kelemahan dan kehancuran. Poin inilah yang seharusnya terlebih dahulu diupayakan oleh orang-orang yang tulus ikhlas, agar taasshub golongan, kebanggaan suku/ ras dan watak-watak jahiliah lainnya dapat ditekan, demi terciptanya kembali Wihdatul Ummah meraih kejayaan Islam. Untuk hal tersebut tidak ada jalan lain kecuali timbul kesadaran kaum muslimin tersendiri untuk mempersatukan diri di bawah satu sistem kepemimpinan Islam yaitu Sistem Khilafah Islamiyah sebagai khilafatul muslimin tanpa menyebut-nyebut golongan apapun. Apabila ummat Islam tidak hidup di bawah sistem Khilafah, maka kaum muslimin berarti hidup di bawah sistem non Islami. Demi menghindari hal tersebut, konon khabarnya Almarhum Imam S.M Kartosuwiryo telah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949, dengan cita-cita berdirinya kekhalidi muka bumi ini/ Kholifah fil ardi, di mana pada kenyataannya saat ini kekholifahan kaum muslimin atau Khilafatul Muslimin telah hancur semenjak tahun 1924 di Turki di bawah kekhalifahan Utsmaniyah atas konspirasi Barat yang anti kesatuan Islam.

Kiranya perlu kesadaran kaum Muslimin mensponsori kembali kepemimpinan Islam yakni tegaknya Khilafatul Muslimin, guna meneruskan apa yang telah dicita-citakan oleh para pendahulu kita di negeri ini, tanpa melupakan mereka sebagai Assabiquna Awwalun agar mendapat do’a restu dari orang-orang terdahulu yang tulus ikhlas, sehingga terwujud kesatuan kaum muslimin Internasional di bawah satu kepemimpinan ulil amri orang-orang yang beriman yang wajib mereka dengar dan mereka taati. Dengan demikian pelaksanaan zakat dan pembagian tugas lain-lainnya dapat dikoordinir secara benar dan baik sesuai ajaran.

Berlanjutnya perpecahan secara berlarut-larut yang membawa kehancuran Islam adalah suatu kenyataan yang sangat di-idam-idamkan oleh syetan musuh kebenaran/ Alhaq. Untuk hal tersebut maka sudah pernah diadakan kongres Khilafah di Kairo Mesir selama satu pekan dari tanggal 1-7 Dzulkaidah 1344 H dan juga pernah diadakan kongres ummat Islam sedunia di Mekkah, pada tahun 1926 namun mereka tak sampai kepada memutuskan adanya seorang Kholifah/Amirul Mu’minin sebagai Ulil Amri ummat Islam sedunia. Kiranya kegagalan tersebut tidak perlu terulang lagi untuk ke sekian kalinya.

Maukah dan mampukah ummat Islam mendukung “KHILAFATUL MUSLIMIN” yang melalui kongres Mujahidin kali ini akan kita tingkatkan kegiatannya keseluruh dunia? Jawabannya adalah terletak pada kesadaran kaum muslimin sendiri yang akan menentukan kemudian apakah khilafatul muslimin akan meraih kesuksesan ataupun tidak sebab tanpa dukungan ummat maka kerja para pengurus khilafatul muslimin hanya akan sukses dalam pikiran dan ucapan belaka. Mungkin masih banyak orang yang berpendapat, bahwa kepemimpinan Islam (Ulil Amri) hanya sah kalau sudah menang dan jika kalah maka kepemimpinannya tidak sah lagi. Pendapat sedemikian ini adalah pendapat yang keliru, karena benar dan salah itu tidak diukur dengan kemenangan ataupun kekalahan, sedang kenyataaan, …..jelas bukan standar kebenaran.

Perwakilan khilafatul muslimin harus dibentuk di seluruh dunia dan untuk mewujudkannya secara dan damai dan legitimet perlu terlebih dahulu kita meraih dukungan mayoritas ummat, sebagaimana dicontohkan oleh Rosulullah saw sebelum beliau hijrah ke Madinah, ya’ni ketika Bai’at Aqobah yang kedua Rosulullah meminta dari setiap bani yang ada agar menentukan seorang mas’ul yang akan mewakili anggota/ ummatnya masing-masing, sehingga terdapat 12 orang orang mas’ul saat itu yang harus bertanggung jawab terhadap ummatnya masing-masing, jadi bukan Rosulullah sendiri yang menentukan mas’ulul ummahnya.

Maka hendaklah para warga di setiap perwakialn khilafatul muslimin bermusyawarah untuk menunjuk seorang mas’ulnya yang mereka percayai sehingga setiap mas’ul benar-benar mewakili ummatnya.

Jika sekiranya dalam satu kabupaten/ kotamadya terdapat 50 ataupun 100 mas’ul, maka 50 atau 100 orang mas’ul itulah yang berkewajiban memilih satu di antara mereka menjadi seorang Amir Ummil Quro’ yang akan bertanggung jawab terhadap seluruh mas’ul yang terdapat dalam wilayahnya. Selanjutnya, jika terdapat umpamanya 20 ataupun 30 Amir Ummil Quro’ dalam satu propinsi, maka mereka pulalah yang berhak dan berkewajiban menunjuk salah seorang di antara para Amir itu, menjadi seorang Amir lagi di tingkat propinsi yang disebut Amirul Wilayah, di mana kemudian para Amiirul Wilayah itulah nantinya yang akan menentukan seorang Amirud Daulah. Apabila di atas dunia ini terdapat 50 atau 1000 Amirud Daulah , tentunya merekalah yang akan menentukan siapa yang sepatutnya menjadi Amirul Mu’minin di atas permukaan bumi ini/ di tingkat Internasional yang benar-benar legitimet karena memang berakar dari bawah dan telah mendapatkan dukungan dari mayoritas ummatnya. Demikianlah pemilu kaum muslimin dalam rangka mewujudkan ke” KHOLIFAHAN ISLAM “ secara damai tanpa menghabiskan biaya milyaran.

Demikianlah kekholifaan Islam terbentuk secara alami atas kehendak ummatnya sendiri; maka Khilafatul Muslimin memiliki ahlul hilli wal aqdi di tingkat masing-masing maka merekalah yang berhak menentukan kapan seharusnya kepemimpinan diganti secara damai. Oleh karena itu, Khilafatul Muslimin tidak merasa perlu berbicara tentang kepolisian/ ketentaraan dan rencana peperangan dalam mensponsori terwujudnya seorang Kholifah/ Amirul Mu’minin/ Imam umat Islam sedunia sebagai Ulil Amri mereka ; kecuali hanya memikirkan bagaimana caranya agar umat Islam memahami tanggung-jawabnya dalam merealisir ajaran Allah dan Rosul-Nya benar-benar menjamin kebebasan ummat lain untuk melaksanakan peribadatan agama mereka masing-masing, sesuai ajaran Al-Kitab yang mereka miliki.

Legitimasi yang didapatkan oleh seorang pemimpin dari ummatnya melalui perwakilan-perwakilan yang mereka pilih sendiri; tentu akan dapat mempertahankan keutuhan ummat Islam dan mencegah perpecahan yang telah diharamkan Allah dan Rosul-Nya, serta akan mampu pula mencegah pertikaian ummat beragama dan kerusuhan-kerusuhan lainnya Insya Allah.

Kaum Muslimin/ Muslimat yang kami hormati !Sungguh ; ….. perpecahan di kalangan kaum muslimin adalah sesuatu yang sangat melelahkan dan membosankan ; tidak akan pernah menyelesaikan persoalan ummat, tidak akan mampu mempererat Ukhuwah dan tidak akan mungkin menurunkan keberkahan baik dari langit maupun dalam perut bumi serta mustahil dapat mewujudkan kedamaian dan kesejahterahan ummat manusia ; dimana dengan terealisirnya kembali kekhalifahan Islam yang membawa misi Rahmatan lil’alamin/ misi yang akan membuktikan kasih sayangnya terhadap alam semesta, kita mungkin dapat berharap dan optimis terhadap terealisirnya keadilan dan kesejahteraan bersama ummat manusia, dengan membuktikan tunduk kepada Yang Maha Pencipta Robbul’alamin.…maka “ PERPECAHAN “harus segera diakhiri !!!

Rosulullah saw pernah mensinyalir bahwa sistem kepemimpinan Islam ( Khilafah Islamiyah ) atau Khilafah ala minhajun Nubuwwah itu akan mengalami pasang surut dengan berbagai kebijaksanaan yang dilancarkan oleh para khilafahnya, sehingga walaupun mereka mengaku sebagai Khalifah / Amirul Mu’minin sebenarnya mereka telah menyimpangkan sistem kekhalifahan menjadi sistem kerajaan sebagaimana telah disabdakan dalam hadis beliau sbb:

Artinya :Kenabian di tengah-tengah kalian akan terjadi menurut kehendak Allah kemudian Allah mengangkatnya jika ia kehendaki untuk mengangkatnya, lalu terjadilah masa kekhalifahan yang mengikuti jejak-jejak kenabian menurut kehendak Allah kemudian Allah mengangkatnya jika ia kehendaki untuk mengangkatnya ; lalu terjadilah masa kerajaan yang menggigit menurut kehendak Allah kemudian Allah mengangkatnya; selanjutnya terjadilah masa kerajaan yang menindas menurut kehendak Allah ; kemudian Allah mengangkatnya jika ia kehendaki untuk mengangkatnya ; barulah terjadi lagi masa kekhalifahan yang mengikuti jejak-jejak kenabian ( khilafah ala minhajinubuwwah ) ; lalu Rosulullah saw diam .( Riwayat Ahmad dan Baihaqi dan Nu’man Bin Basyir ).Kaum Muslimin / Muslimat yang kami hormati

Menurut hadits tersebut di atas dapat kita pahami bahwa zaman kenabian telah berlalu, mereka telah menyelesaikan tugas mereka masing-masing dalam mengemban misi yang haq sebagai utusan Allah, di samping mereka juga adalah hamba Allah : mereka telah memimpin ummat untuk hanya menyembah Allah SWT/ mentho’ati-Nya tanpa reserve dan masa merekapun telah berlalu atas kehendak Allah jua, setelah diakhiri oleh Rosulullah terakhir Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin ummat manusia seluruhnya selama + 23 tahun. Adapun kaum muslimin selama Rosulullah saw masih hidup tetap berada dalam satu kesatuan jama’ah berujud wihdatul ummah di bawah satu kepemimpinan yaitu beliau sendiri sebagai pemimpinnya.

Untuk selanjutnya kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Rosulullah saw selama 23 tahun itulah, maka perlu adanya seorang khalifah yang kita kenal sebagai Khalifah yang pertama adalah Khalifah Abu Bakar As-Shidiq r.a dan selanjutnya khalifah kedua , ketiga , keempat selama 30 tahun, sebagaimdisabdakan oleh beliau saw ;

Artinya :

Kekhalifahan pada ummatku adalah selama 30 tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan. Menurut tarikh setelah khalifah yang keempat ( Ali bin Abi Thalib r.a ) wafat ; maka Muawiyah bin Abi Shofyan melanjutkan kepemimpinan ummat dengan sistem kerajaan dengan menunjuk anaknya sendiri ( Yazid ) sebagai putra Mahkota pengganti ayahnya.

Berlanjutlah sistem kerajaan ini secara turun temurun sehingga sampai pada kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1924 M sesuai dengan apa yang telah diramalkan oleh Rosulullah sebagai Mulkan Aadlon dan Mulkan Jabariyyatan. Ummat Islam pun semakin berpecah belah dan pemimpin-pemimpin Islam telah terbiasa mengambil bagiannya sendiri-sendiri dalam batas-batas wilayah yang sempit, sehingga tidak lagi merupakan satu kesatuan yang utuh di bawah satu kepemimpinan ummat ( Imam, Kholifah, Amirul Mu’minin) sebagaimana mustinya sesuai dengan contoh Nabi Muhammad saw, di mana beliau sendiri sebagai Imamnya selama 23 tahun; kemudian dilanjutkan oleh Al-Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyyun sebagai Ulil Amri mereka. Kepemimpinan sedemikian inilah yang wajib hukumnya diteruskan dan tidak boleh hilang dari kalangan kaum muslimin di manapun mereka berada dilihat dari kacamata Ad-Dien sesuai Aqidah Islamiyyah dan bukan hanya dilihat dari kacamata politik semata.

Oleh karena itu Islam dengan misinya Rahmatan lil Alamin tidak boleh dirahasiakan; wajib didzohirkan dipermukaan bumi di bawah satu kepemimpinan dalam satu Jama’ah sebagai wadah wahdatul ummah dengan sistem Khilafah Islamiyyah, yakni kembali lagi pada sistem Khilafah ala Minhajin Nubuwwah sebagaimana telah disinyalir dalam hadits tersebut di atas.

Kiranya cukup jelas, bahwa yang disebut satu kesatuan dalam Islam (menurut Syari’at) ialah adanya seorang Imam? Kholifah bagi keseluruhan ummat Islam di muka bumi ini dengan sistem yang dikenal yaitu sistem Khilafah bukan sistem-sistem yang lainnya, dan bukan pula berkumpulnya berbagai golongan dalam satu aliansi untuk membagi tugas tanpa adanya seorang pemimpin/ Kholifah/ Imam dalam wadah wihdatul ummah.

Artinya :

Dan berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah dan jangan kalian bercerai berai.Ayat tersebut dengan jelas melarang adanya golongan-golongan/firqoh-firqoh/sekte-sekte yang berdiri sendiri-sendiri tanpa dapat dipersatukan dibawah satu Imam sebagai Ulil Amri mereka. Bersabda Rasulullah saw :

Artinya :

Aku perintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah telah memerintahkannya kepadaku (yaitu); berjama’ah, mendengar, tho’at, hijrah dan berjuang di jalan Allah. Maka barang siapa yang keluar dari AL- JAMA’AH sekedar sejengkal berarti benar-benar ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka ia tergolong orang-orang yang berlutut di nereka Jahanam. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah ! Bagaimana jika ia tetap berpuasa dan sholat ? Rasulullah menjawab : Sekalipun dia shoum dan mengaku bahwa ia adalah seorang muslim. Maka panggilah oleh kalian kaum muslimin itu sebagaimana Allah telah menamakan mereka Al-Muslimin almu’minin; ibadallohi Azza Wa Jalla. (Riwayat Ahmad)Al-Jama’ah dimaksud tentunya JAMA’ATUL MUSLIMIN disertai seorang Imam/ Kholifah sebagai ulil amri dari orang-orang yang beriman dan bukan Jama’ah dari sebagai ataupun segolongan tertentu dari kaum muslimin ataupun jama’ah minal muslimin dengan kepemimpinannya sendiri-sendiri dan berakibat tetap saja setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri.

Artinya :

Sesungguhnya ummat Islam ini adalah ummat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah oleh kalian akan daKu (Allah).Kaum muslimin/muslimat yang kami hormati Setelah selama + 76 th kami tidak mendengar adanya kekholifahan Islam sebagai wadah WIHDATUL UMMAH dan telah kami tawarkan kepada beberapa orang yang kami anggap pantas untuk mempermaklumkan terhadap dunia tentang kekholifahan Islam; ternyata harapan kami tersebut terpulang kembali kepada kami; dan dengan segala kerendahan hati sembari mengetahui kelemahan diri kamipun merasa tidak sanggup mentekel perso’alan besar tersebut namun untuk sekedar mensponsorinya buat sementara waktu daripada ketiadaan Ulil Amri, terpaksa kamipun memberanikan diri untuk mengeluarkan sebuah “MA’LUMAT” tertanggal 13 Rabi’ul Awwal 1418 H/18 Juli 1997 M sebagaimana telah kami sebar luaskan dan telah pula kami sosialisasikan di berbagai daerah melalui ceramah-ceramah umum dan dialog terbuka serta Alhamdulillah cukup mendapatkan tanggapan baik dan dan sambutan ummat yang menggembirakan melalui bai’at yang mereka lakukan secara tulus ikhlas atas kesadaran dari setiap pribadi muslim dan muslimat. Insya Allah akan kita teruskan untuk mensosialisasikannya keseluruh dunia sehingga terwujudnya musyawarah kekhalifahan Islam Internasional agar mendapatkan Ulil Amri bagi kaum muslimin sedunia yang benar-benar legitimet.

Kaum Muslimin / Muslimat yang kami hormati !

Bukankah sangat mengherankan, jika ummat Islam yang telah diwajibkan bersatu justru memilih alternatif lain untuk tetap mempertahankan faksinya masing-masing sehingga sukar dan tidak dapat dipersatukan ?

Semoga kesadaran kaum Muslimin/ Muslimat di-era globalisasi dewasa ini dapat mewujudkan kembali kesatuan mereka di bawah sistem Islam ya’ni sistem Khilafah Islamiyyah yang akan membawa misi RAHMATAN LIL’ALAMIN agar setiap makhluk di permukaan bumi ini mendapatkan keadilan dan kesejahterahan lahir & batin atas rahmat kasih sayang Allah SWT ………..Amin.

Kaum Muslimin / Muslimat yang kami hormati !

Apabila sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa sponsor Khilafatul muslimin ini termasuk salah seorang yang berambisi menjadi pemimpin, maka orang yang ambisius tidak boleh lagi diberi kesempatan memimpin dan haruslah diganti dengan orang-orang yang jujur dan tulus ikhlas dan telah membuktikan komitmennya terhadap perjuangan tegaknya Syari’ah Islam ; bukan orang yang hanya pandai ngomong dan berteori di depan meja. Adapun saya secara pribadi benar-benar merasa belum pantas menjadi pemimpin ummat sebagai Khalifah / Amirul Mu’minin.

Melalui konferensi ini, saya saya hanya berharap kiranya kaum muslimin/ muslimat dapat menghindari diri dari sifat-sifat ta’as-shub golongan apapun alasannya untuk dapat mengutamakan AL-JAMA’AH WAL JAMA’AH dengan tulus ikhlas dan penuh kerelaan hati.

Artinya :Sekiranya Rabbmu (Hai Muhammad) menghendaki pasti dapat menjadikan ummat manusia menjadi satu ; tetapi mereka senantiasa dalam perselisiahan kecuali siapa yang dirahmati oleh Rabmu dan untuk itulah Allah mencipatakan mereka. Kalimat Rabbmu telah sempurna ditetapkan yaitu : Aku (Allah) pasti akan memenuhi neraka Jahanam dari semua jin dan manusia ( yang tidak bersedia patuh pada ketentuanNya ).

Sungguh,….. Maha benar Alloh ; bahwasanya hanya orang-orang yang mendapatkan rohmat-Nya semata, yang dapat menjadi satu ummat (ummatan wahidatan) bersatu dalam wadah wihdatul ummah yang tidak membesar-besarkan perselisihan penyebab perpecahan antara orang-orang yang sama beriman kepada Allah dan hari kemudian. Karena itulah maka Allah telah memerintahkan, agar orang-orang yang mengaku beriman, benar-benar memegang teguh tali Allah secara keseluruhan tanpa dibenarkan untuk berpecah-belah dalam menegakan Ad-Dien mengemban misi “RAHMATAN LIL ‘ALAMIN. (As-Syura : 13)

Kaum muslimin/muslimat yang berbahagia !Sekiranya ada sebuah pertanyaan dalam diri kita. Adakah kita ingin bersatu ?

Memang itulah kewajiban kita sebagai muslim. Maka bersatu itu tidak sukar bagi orang yang mau bersatu dan tulus ikhlas; sebab bersatu itu hanya sukar bagi orang yang tidak bersedia bersatu dan tetap membanggakan golongan. Jadi seponsor perpecahan adalah orang yang berkata bahwa kita belum dapat bersatu dan sebaliknya sponsor persatuan itu adalah mereka yang berkata bahwa kita saat ini juga wajib bersatu untuk dapat menta’ati Allah, Rasul dan Ulil Amri dari orang-orang yang beriman. Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Sepak bola – Agama Baru  

Membuang-buang tenaga dan waktu, menghamburkan uang, mempertunjukan kasih sayang, mendukung dan mempedulikan, mengikuti dan meniru, berdebat dan membantah, berkelahi dan mempertahankan… kita akan dimaafkan untuk berfikir bahwa kita berbicara tentang sesuatu yang penting, ini hanyalah sebagian dari aktifitas rutin para pendukung sepak bola.  

Sepak bola adalah olah raga yang paling popular di dunia dan dengan adanya Piala Dunia yang sedang berlangsung, jutaan orang akan menghabiskan waktu untuk merefleksikan pada agama baru mereka yang ditemukan. Orang-orang akan mengambil waktu kerja untuk meyakinkan bahwa mereka menyaksikannya; mereka akan menunda pekerjaan mereka, merubah rutinitas mereka dan bahkan meninggalkan makanan jika itu perlu dilakukan. Demam sepak bola menarik perhatian masyarakat luas, memberikan waktu mereka dan mengusahakannya.  

Orang-orang akan menghabiskan banyak uang untuk agama mereka ini, melakukan perjalanan ke negara lain untuk mendukung tim mereka, membayar tiket, membeli kostum sepak bola, bendera dan atribut-atribut lain yang menyimbolkan tim mereka. Mereka akan menghabiskan berjam-jam untuk menontonnya di TV, mendengarkan semua komentar dan diskusi tentangnya, melihat siaran ulang dan bahkan menyorotnya. Mereka akan duduk di tengah-tengah yang lain berdebat dan mendiskusikan apa saja tentang sepak bola selama berjam-jam, membicarakan tim jagoan mereka, mereka akan mendiskusikan strategi, taktik dan kesalahan; mereka akan mengamati pertandingan sebelumnya untuk memprediksi hasil pada pertandingan berikutnya. Diskusi ini merangsang orang-orang menjadi sangat tekun dan emosional, sering berujung pada perselisihan. Mereka akan suka dan tidak menyukai pada orang lain hanya berdasarkan pada siapa yang mereka dukung, juga sering berkelahi dan merugikan orang-orang yang berlawanan dengannya. Sesuatu yang menyakitkan bagi mereka untuk melihat tim mereka kalah, kemudian menyebakan mereka meneteskan air mata, disamping mereka memuji dan merayakannya ketika mereka menang, membawa kesenangan dan kepuasan hati mereka.  

Ini adalah realitas dari suporter sepak bola, sebuah buritan orang-orang yang percaya pada agama barunya dan sebuah penggemar yang sangat bersemangat.  

Piala Dunia dimana-mana di seluruh dunia benar-benar melawan antara yang satu dengan lainnya dalam sebuah turnamen yang diselenggarakan empat tahun sekali. Secara alami, penduduk negeri-negeri yang berpartisipasi diharapkan menyediakan dukungan bagi tim mereka. Warga negara dari negera-negara ini bersatu bersama-sama untuk kemabali pada tim nasional mereka dengan harapan memperoleh sebagian kebanggan nasional dan kredebilitas internasional. Rasa naioanalisme meluas diantara orang-orang dan jelas terlihat.  

Fakta yang menyedihkan dari masalah ini adalah banyak kaum Muslimin yang telah terpedaya pada agama baru ini dan mereka membawa bendera nasional mereka, memberikan waktu dan usahanya, menunjukkan suport pada salah satu negara. Mereka berdiri dengan bangga di belakang bendera ini dan apa saja yang menjadi atributnya, dengan sangat bersemangat mendeklarasikan ini terbuka tidak menyadari apa yang benar-benar ada. Mereka mengabiskan waktu berharga mereka yang bisa dihabiskan untuk sesuatu yang lebih baik untuk mengikuti acara sepak bola. Mereka menghabiskan tenaga dan usaha untuknya, mereka mengikuti dan meniru pemain bola apakah dengan nama mereka atau penampilan mereka juga anak-anak yang tumbuh mengambil banyak dari mereka sebagai aturan model. Ini sama dengan Muslim yang tidak bisa bahkan 10 menit untuk shalat atau membaca Al-Qur’an, mereka tidak mempedulikan kepentingan Ummat Muslim dan bahkan tidak mempedulikan hatta menaikan alis mata pada pembunuhan Muslim atau penjajahan negeri Muslim. Mereka mengabaikan Islam dan tidak mempedulikan untuk mempelajarinya, mereka sangat terpikat pada agama baru mereka ini karena itu adalah apa yang memberikan mereka kesenangan juga kegembiraan. Mereka bahkan dengan rela mendukung negara yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah Muslim dan rela berteman dengan orang-orang seperti mereka untuk berbagi kesenangan. Mereka menyimpan semua perbedaan dan hanya satu hal masalah bagi mereka adalah tim yang mereka dukung sebagaimana ini adalah apa yang mendasari persaudaraan mereka.   

Allah SWT berfirman : 

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid, 57: 20)  

Kompetisi ini apakah mereka berupa Piala Dunia, Olimpiade atau lainnya telah didesain untuk memperkuat rasa nasionalisme, agar konsep ini tetap hidup dalam benak masyarakat. Satu-satunya keadaan yang lain dimana ini memunculkan kebanggan nasional diantara orang yang bangkit pada saat perang dan ancaman dari luar, pada saat seluruh negeri di bawah bendara nasional dan berdiri bersama-sama untuk melawan musuh. Kompetisi seperti ini adalah sebuah undangan tiruan dari sebuah perang situasi dimana orang-orang telah dihimbau untuk berpihak pada negeri mereka. Bendera nasional menjadi sebuah simbol dari kebanggan dan kehormatan yang membedakan antara yang satu dengan yang lain. Divisi dari orang-orang yang berdasarkan pada kedaulatan negara mereka diperkuat dengan menciptakan kebencian dan permusuhan diantara mereka.  Ini adalah salah satu dari rencana tentara salib kolonial untuk mengabdikan gagasan ini dalam benak orang-orang sehingga mereka terus menerima dugaan kedaulatan negara. Mereka bertujuan utuk membangun kebanggan nasional ke dalam hati masyarakat meyakinkan diri mereka lebih baik dari yang lainnya memberikan mereka sebuah alasan dengan bukti ini.  Kepura-puraan ini tidak lain hanyalah semata-mata permainan yang membuktikan tidak lain kecuali kebodohan dan kemunduran sebuah bangsa. Nasionalisme yang ditanamkan dalam benak Muslim bertujuan untuk menjaga kita untuk tidak bersatu dan pada perbedaan satu sama lain, namun ini adalah konsep yang berlawanan dengan keimanan kita. Ide negera nasional (nation state) dan pembagian masyarakat berdasarkan tempat tinggal adalah bukan dari Islam. Identitas dari seorang Muslim adalah percaya pada Al-Islam dan ini adalah apa yang meninggikan kita untuk hidup dan mati untuknya. Perbedaan antara orang-orang yang tidak berdasarkan pada warna kulit, nasionalisme atau ras; tetapi itu murni berdasarkan pada tingkat Imaan dan taqwa pada Allah SWT.  Allah SWT berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujarat, 49: 13)  Rasulullah SAW dengan tegas membenci nasionalisme dan siapa saja yang menyeru untuk itu pada saat beliau berkata :  “Dia tidak termasuk dari golonganku yang menyeru pada nasionalisme, berperang untuk nasionalisme dan mati untuk nasionalisme” [Sunan Abu Daud]  Sepak bola adalah dien (agama) dimana orang-orang hidup dan rela mati untuknya. Pesan dari dien ini adalah pemainnya yang mengikuti dan meniru; Aqidah dari seorang yang beriman pada agama ini adalah berdasarkan pada kesetiaan, dukungan, ketaatan dan menyembah salah satu tim mereka ; walaa’ mereka adalah dengan orang-orang yag mendukung sesama tim mereka, dan bara’ah mereka adalah kepada lawan mereka. Ziarah mereka adalah menghadiri pertandingan di rumah atau di lapangan. Jihad mereka adalah menyerang lawan yang menjadi pesaing tim mereka. Dakwah mereka adalah untuk menyebarkan, membela dan membenarkan tim mereka, mengajak orang lain untuk untuk mendukung mereka.  

Laa Haula wa laa quwwata illa billah…!

Enam Bukti Bahwa Para Penguasa Murtad    

Ini adalah sebuah kebiasan baru yang terjadi di saat telah dekat hari penghakiman, bahwa orang-orang datang dan mambuat alasan untuk pemimpin-pemimpin, mereka mengutip dari Ibnu Abbas yang berkata kafirr duna kafir pada ayat dimana Allah berfirman,  …Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.  (QS Al Maidah 5 : 44)   

Ini adalah ayat yang digunakan banyak orang untuk membuktikan bahwa penguasa adalah bukan kafir. Namun ayat ini sangat jelas, bahwa siapa saja yang melakukannya demikian adalah kafir, mereka berharap untuk dapat memutar balikan ayat ini, dan menyandarkan pada Ibnu Abbass bahwa dia pernah berkata bahwa kafir yang dimaksudkan ayat ini adalah, kafir duna kafir, dan oleh karena itu mereka menyimpulkan bahwa pemimpin saat ini adalah bukan kafir.   Kafir berarti kebalikan dari iman, begitu juga ketika Allah (swt) berfirman bahwa “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Kita tidak bisa sekarang mngatakan bahwa mereka adalah muslim, atau mereka itu adalah kurang kafir dari kafir   Lebuh lanjut, alasan mengapa orang-orang-menyebut mereka kufur adalah bukan karena ayat ini, bagaimanapun itu adalah sesuatu yang mudah terbukti bahwa mereka kafir bahkan tanpa ayat ini sekalipun. Penguasa-penguasa yang ada adalah kafir karena beberapa alasan:   

1.      MELANGGAR PILAR PERTAMA DARI TAUHID   

Mereka yang tidak memenuhi dua pilar tauhid, seseorang yang tidak mempunyai pilar tauhid berarti kafir, pilar yang pertama adalah KUFUR BIT THAGHUT, para penguasa tidak menolak thoghut, dan kemudian mereka menjadi musyrik dan kafir.   Semua orang yang beriman kepada Allah tanpa menolak kekufuran dan thaghut berarti bukan umat Islam. Allah Berfirman, …barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus… (QS Al Baqarah 2 : 256)   

Iman para penguasa tanpa menolak thaghut adalah seperti imannya para Quraisy, Quraisy percaya kepada Allah, dan menyatakan bahwa Dia adalah sang pencipta, tetapi mereka tidak menolak thoghut, dan Muhammad (saw) memerangi Quraisy karena mereka tidak menolak thoghut, pada saat mereka beriman pada Allah (swt).   Mereka yang tidak menolak thaghut seperti PBB (Perseriktan Bangsa Bangsa), PBB adalah sebuah konstitusi yang berdasar pada hal-hal tertentu, ini adalah organisasi kufur yang berdasarkan pada kedaulatan manusia, siapapun yang memberikan kedaulatan selain dari pada Allah (swt) adalah thoghut, semua penguasa yang dengan senang hati meminta untuk menjadi anggota PBB dan dengan senang hati membayar untuk memelihara keanggotaannya dan mereka dengan senang hati bertahan pada aturan dan hukum kufur mereka, mereka bertahan pada kekufuran menjadikannya otoritas atas mereka dan seluruh kaum muslimin, mereka menerima untuk lima Negara kafir untuk menjadi dewan keamanan untuk mendapatkan sebuah penyerahan atas mereka. Allah (swt) berfirman: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu… (QS An Nisa 4: 60)   

Allah (swt) berkata disini bahwa siapa saja yang mengacu atau condong kepada thoghut dalam perselisihan, seharusnya tidak menyatakan diri sebagai muslim, dan ayat ini adalah berbicara tentang seorang muslim yang tidak kafir, yang tidak mau condong kepada Muhammad (saw) dan menggantinya pada seorang yahudi, Ka’ab Ibnu Asyraf dalam perselisihannya, dan Allah menyebut dia munafik dan kafir.   Semua penguasa yang setuju untuk duduk dengan seluruh orang-orang kafir dan  musyrikin  dari seluruh dunia di PBB, ini adalah kafir Akbar dan membuat mereka menjadi kafir.   

2.      AL ISTIHZAA’- MENGEJEK DIEN DAN PERINTAH ALLAH (SWT)  

 Ini adalah penyakit yang paling berbahaya yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Itu datang dari luar Islam. Ada  banyak buku yang mengejek Dien Islam. Ada sebuah buku yang berjudul “Bagaimana Adam diciptakan”, itu berarti menyatakan bahwa evolusi bertentang dengan Islam. Bahkan ada banyak buku yang membuat gambar ejekan untuk Muhammad (saw), dan buku ini legal dan dizinkan di negeri kaum muslimin. – Mereka mengejek Ulama – Mengejek para muslimah yang menjaga Auratnya – Mengejek para Da’i – Mengejek mereka yang berjuang untuk Islam – Mereka mengejek Ahl Al Islam 

Rasulullah bersabda: 

Siapa saja yang mengejek umat ku, dan sahabat-sahabatku tidak mempunyai kesucian dalam hidupnya.   Banyak saudari-saudari di negeri muslim dilarang untuk masuk Universitas jika mereka menutupi auratnya, dan banyak orang muslim laki-laki yang dilarang belajar pengobatan kecuali mereka mencukur jenggot mereka.   

Banyak orang yang mengejek bahasa Arab – bahasa Al Quran, di negeri Muslim, mereka menyebutkan “bahasa arab adalah bahasa yang kuno, dan mereka akan mengatakan bahwa lebih baik menjadi orang buta huruf dari pada belajar bahasa arab, dan mereka berkata bahwa satu-satunya cara agar Al Quran mudah di kenal dan dengan menerjemahkannya kedalam bahasa latin, Inggris, Indonesia dan Perancis, karena bahasa inggris adalah bahasa yang paling terhormat dan bahasa Arab adalah yang terhina”, ini adalah pengingkaran terhadap Dien, dan seseorang yang berkata maka (seperti Toha Nussein) ia murtad.   

Mereka menghina Hudud, mereka berkata itu adalah barbar dan berkata bahwa jika bangsa Arab melakukan demikian, potong tangan, merejam bagi pelaku zina laki-laki, mereka mengklaim itu karena mereka adalah ‘ketinggalan zaman, bandit, haus darah dan lain-lain.’ Mereka berkata bahwa Al Qur’an sudah tidak relevan lagi untuk diterapakan untuk masyarakat di muka bumi saat ini, dan lebih baik membaca koran dari pada Al Qur’an’, orang yang berkata demikian adalah murtad. Ada buku yang berbicara tentang pembersihan hati Rasulullah (saw) harus di ingkari meskipun bertentangan dengan Al Qur’an.   

Semua buku-buku ini legal di negeri muslim, dan ini merupakan bukti pengingkaran terhadap Dien oleh para penguasa. Allah (swt) menyebut orang-orang kafir di dalam Al Qur’an karena mereka menertawakan dien Allah (swt): Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (QS At Taubah 9 :64-66)  Ayat ini tentang orang-orang yang berbicara sedikit penyakit tentang Hafiz Qur’an, mereka berkata, para Hafiz adalah orang-orang yang berperut besar dan Allah (swt) menyebut mereka Kafir. Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan. niscaya mereka akan berkata: “Apakah yang menghalanginya?” lngatlah, diwaktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS Huud 11 : 8 )   Lebih lanjut, penguasa yang memberi izin untuk program TV di negeri-negeri muslim, membirakan ide-ide kufur dan pemikiran memberlakukan kebebasan semu untuk berbicara, mereka membiarakan Al Qur’an untuk di bacxakan setelah semua dengan ketelanjangan dan keharaman di tanyangkan di TV, mereka membiarakan iklan alkohol dan ketelanjangan. Mereka mempunyai program untuk menghina wanita yang menutupi auratnya, dan imam-imam, dan program-program yang mengejek para hafiz dan ‘fundamentalis’, dan bahkan program-program yang melukiskan para sahabat dan Tabi’in sebagai bandit. Seseorang yang melegalisasi bentik-bentuk ejekan ini adalah kafir.   Mereka membolehakan segala keharaman dan kerusakan di TV dan kemudian istirahat untuk Shalat, atau mereka menyebutkan waktu salat seperti mencampurkan Islam dengan segala kefasikan, fujur dan kekufuran mereka.   Mereka membirakan program-program TV, untuk menghina khimar dan Jilbab, menghina para ulama. Mereka membiarkan iklan riba’ dan segala bentuk keharaman. Mereka memenjarakan seseorang yang menghina para penguasa tetapi menangis ‘kebebasan untuk berbicara’ bagi seorang yang menghina Allah (swt). Ini adalah salah satu bentuk dari mereka yang berbuat kekufuran, bahwa mereka mengejek Dien Islam.  

 3.      AL MUWALAAT MUSYRIKIN DAN KAFIRIN – BERGABUNG DENGAN KUFFAR

MELAWAN UMAT ISLAM   

Allah (swt) berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka … (QS Al Maidah 5 : 51)   

BAGAIMANA JIKA PARA PENGUASA BERSEKUTU DENGAN KUFFAR? 

Allah (swt) berfirman: Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong (QS An Nisa 88-89)   Ayat ini berbicara tentang umat islam di mekkah yang menjadi murtad dengan bergabung dengan tentara Quraisy melawan umat Islam di perang Badar berasal dari kecintaan terhadap negeri mereka dan orang-orang mereka, ketika mereka datang ke Madinah  umat Islam membunuh mereka, ini adalah sebuah aliansi kecil dengan Quraisy dan mereka telah menjadi beriman pada laa ilaha illallah, namun mereka di bunuh karena kekufuran mereka.   Israel mempunyai pakta keamanan dengan Turki, Mesir dan Qatar. Saudi Arabia mempunyai pakta keamanan dengan USA, mereka mempunyai sekutu dengan orang-orang kafir melawan semua memerangi tetangga umat Islam di daerahnya. Orang Iraq tidak pernah masuk kedalam Saudi Arabia, dan sebaliknya mereka membolehkan USA untuk  dan memerangi kaum muslimin di Iraq. Allah (swt) berfirman: Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (QS Al Maidah 5 :52-53)   

4.       AL ISTIBDAAL – MENGADOPSI (ATURAN) SELAIN DIEN ISLAM (MENERAPKAN DEMOKRASI)   

Mereka berkata bahwa mempertahankan demokrasi, berarti bahwa mereka menerima kedaulatan di tangan manusia, Allah (swt) berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. … (QS An Nisa 4 : 58)   Allah (swt) berfirman : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam… (QS Ali Imran 3 : 19)   Pada saat nabi Yusuf (as), Allah (swt) berfirman: … Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah … (QS Yusuf 12 :37-38)  Dia menyebutkan percampuran dien syirk. Ayat-ayat ini adalah penolakan secara jelas tentang demokrasi. Lebih lanjut yang di sampaikan Abu Huraira bahwa Rasulullah (saw) pernah berkata: Siapa saja yang mengatakan laa ilaha illallah dan menolak jalan hidup selain itu, hidupnya dan kekayaannya akan terlindungi….   Hadis ini mewajibkan kita menolak segala sesuatu selain dien (Islam), dan demokrasi adalah sesutau yang sangat berlawanan sebgaiamana anda akan mengambil sesuatu  selain dien jika memeluk demokrasi. Allah (swt) berfirman: Barangsiapa mencari agama selain Dien Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (dien itu) daripadanya (QS Ali Imran 3 : 85)   

5.      SYIRIK RUBUBIYAH – MENGARAHKAN SEBAGIAN DARI ALLAH (SWT) MENGHUBUNGKAN DENGAN DIRI MEREKA   

Dien Allah (swt) adalah dien yang tidak diterapkan di semua negeri muslim saat ini, melainkan para penguasa menggantikan Allah (swt) sebagai pemimpin dan pembuat undang-undang, parlemen yang membuat hukum-hukum dan melegalkan apa saja yang Allah larang, atau sebaliknya melarang apa yang Allah (swt) wajibkan. Di negeri muslim hari ini, tidak ada negeri yang mewajibkan Khimar dan Jilbab bagi para wanita, lebih buruk dari itu bahkan mereka menghukum siapa saja yang memakainya di beberapa Negara.   Di tanah kaum muslimin, kita akan di hukum jika kita melawan konstitusi, para penguasa, atau bendera mereka, kita akan di hukum dan dicap sebagai pengkhianat.   Dibawah hukum buatan manusia, kita akan di hukum jika melanggar hukum buatan manusia seperti menerobos lampu merah pada traffic light, sebagaimana jika kita melanggar hukum Allah (swt), kemudian kita tidak akan di hukum (dibawah hukum buatan manusia) sehingga dilema yang muncul seperti pada mereka yang ingin menegakkannya.   Inilah realitas mengapa mereka disebut thaghut dan kafir, dan seseorang yang membantu untuk menolong mereka dan menerapkan hukum mereka, secara militer atau tidak, adalah thaghut dan kafir, sekalipun ia warga Negara biasa. Sebaliknya orang-orang yang tidak menegakkan hukum-hukumnya dan berjuang melawan penguasa adalah bukan thaghut juga bukan kafir.   Di negeri muslim kita bisa menghina Allah dan rasulNya dengan bebas tanpa mendapatkan hukuman apapun, sebaliknya jika kita bersumpah untuk melawan presiden, kemudian kita akan mendapatkan hadiah untuk menginap di penjara.   Allah (swt) berfirman, Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS At Taubah 9 : 31)   Allah (swt) berfirman: Apakah lebih baik raja-raja yang berbeda daripada seorang?….   Dari pandangan ini para penguasa adalah kafir oleh Istihlah –  memperbolehkan apa yang Allah (swt) larang.   

6.      AT TASYRII – MEREKA KUFUR KONSTITUSI   

Mereka semua mempunyai konstitusi kufur yang melanggar Syariah dan mengeluarkan mereka dari ikatan Islam, Allah (swt) dengan jelas memerintahkan seseorang yang membuat At Tasyrii’ mereka yang membuat hukum dan peraturan selain daripada apa yang ungkapkan, Allah (swt) berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil… (QS An Nisa 4 : 58)   Dan juga, Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka (dengan syriah) (QS Al Maidah 5 : 42)   Dan Allah memperingati kita dari implementasi apapun selain konstitusi dan hukum, Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS Al Maidah 5 :50)   Dan Allah (swt) berfirman, …Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah… (QS Al An’am 6: 57)   Juga Allah (swt) berfirman, Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al An’am 6 : 63)   …Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah… (QS Yusuf 12 : 40)   Ayat diatas mengungkapkan kepada Yusuf (as) tentang kekuasaan, Allah (swt) juga berfirman, Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (QS Yusuf 12 : 67)   “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya. (QS Ar Ra’ad 13 : 41)   …dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS Al Kahfi 18 : 26)   Ayat ini berkata, jangan menjadikan diri kita sebagai sekutu bagi Allah untuk menetapkan keputusan.   Allah (swt) berfirman: Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS Al Qashash 28 : 70)   Sungguh, penerapan hukum kufur dan hukum buatan manusia adalah benar-benar suatu bentuk kekufuran dan tidak ada dari penguasa di negeri kaum muslimin  mempunyai sebuah alasanpun dalam masalah ini.  

ARGUMENTASI YANG MENCOBA UNTUK MELINDUNGI TAWAGHIT   

1)       KUFUR DUNA KUFUR   

Penguasa yang benar-benar kufur dan syirik dan namun akan selalu ada orang-orang yang melindungi mereka dan menyebut mereka muslim. Mereka lebih suka pada hadis yang di sampaikan Ibnu Abbas, bahwa dia berkata “kafir duna kafir” pada ayat (QS Al Maidah 5 : 44). Mereka lebih suka pada tafsir Ibnu Katsir. Bagaiamanapun ketika kita berbicara tentang isu mengenai Ibnu Abbas, kita akan mempunyai sebuah argumentasi atas permasalahan tersebut yang cukup shahih.   Hadis ini yang di permasalahkan pada masa khawarij, mereka datang untuk berdiskusi dengan beliau, beliau tidak pernah menyebut mereka kafir, beliau mengatakan “kafir duna kafir.” Dia telah berdebat dengan Khawarij, ini harus menjadi catatan bahwa tidak ada sebuah isu atas segala ketidakhadiran syariah, syariah telah hadir pada masa mereka, tidak pernah ada di masa mereka seorang penguasa yang memcoba untuk memerintah dengan hukum kufur, tidak seorangpun yang telah menyatakan bahwa kedaulatan atas manusia disamping Allah, tak seorangpun bahwa ia menghadapi dari Khawarij ketika ia mengatakan statemen itu, adalah dari kenyataan para penguasa Negeri Orang Islam.   Hisham Ibnu Hajar Al Maliki, adalah seorang pembawa berita yang lemah, jika demikian maka tak seorangpun dapat menerima berita yang disampaikan darinya – sungguh yang melaporkan itu adalah Ibnu Abbas yang berkata seperti itu. Dan sesungguhnya ada kesepakatan bahwa seseorang yang membuat sebuah humum, adalah kafir. Riwayat yang da’if menyatakan bahwa kaum Khawarij telah berkta pada Ibnu Abbas tentang kesewenang-wenangan Ali dan Mu’awiyah serta orang-orang yang bersama mereka, mereka berkata: Bagaimana anda mengambil keputusan pada seseorang yang menggantikan Allah, dan Allah (swt) berfirman, siapa saja yang memimpin (mengatur) selain dari apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang kafir.” Dan begitu juga Ali dan Mu’awiyah adalah Kafir. “Ibnu Abbas disini berkata “ jenis memutuskan ini adalah kafir duna kafir.   Maka sekalipun hadist ini shahih, pokok permasalahannya tidak sama dengan realitas dari penguasa Thoghut di Negeri Muslim saat ini, apalagi hadis ini lemah dengan begitu tidak bisa diambil.   Ibnu Abbas berkata dalam kisah yang lain, menjawab apa yang telah kaum Khawarij katakan:   Perdamian diantara umat Islam tidak diputuskan dengan selain apa yang Allah telah turunkan. Jika ada suami-istri saling berselisih, salah satu (suami-istri) mengirimkan seseorang dari keluarganya, Allah (swt) mengizinkan kebebasan pada mereka kepada siapa saja yang datang untuk mendamaikan diantara suami istri tersebut, dan demikian untuk alasan yang lebih tepat untuk alasan yang di perbolehkan untuk memutuskan kepada seseorang untuk mendamaikan keduanya (QS An Nisa 4 : 35 & 65) …. Itu tidak sama sebagaimana yang kamu duga.   Riwayat ini shahih dan berlawanan dengan riwayat yang lemah, karena dia tidak  menujukkan bahwa Ali dan Mu’awiyah berdosa sebagaimana yang di sampaikan pada riwayat yang lemah, sebaliknya beliau membersihkan mereka ( Ali dan Mu’awiyah) dari semua kesalahan.   Sekalipun tidak, itu hanya bisa digunakan sebagai kafir duna kafir tidak jika seseorang menetapkan dengan hukum kufur, tetapi lebih jika mereka menindas orang-orang dan tidak memberikan apa  yang seharusnya kepada orang-orang. Ini adalah dosa, bukan kafir, sebagaimana pokok permasalahan ayat  adalah bukan demikian dan  seseorang yang memimpin dengan hukum kufur adalah kafir.   Bara’ bin Azib berkata pada ayat ( QS Al Maa’idah 5 : 44,45 dan 47) “Ayat ini mengungkapkan tentang semua orang-orang kafir (Muslim, Asbabun Nuzul [QS Al Maa’iddah 5 : 44,45 dan 47])   Maka tidak ada cara menyatakan bahwa ayat-ayat ini adalah berbicara tentang kafir duna kafir, itu adalah tidak mungkin karena kuffar adalah kafir. Itu seharusnya adalah kafir Akbar.   Ketika golongan Khawarij memberlakukan ayat tersebut ditujukan pada situasi bangsa Yahudi, tidak akan ada perselisihan, karena Kufur akan sama menjadi kufur dan tidak akan ada Takwil, pada ayat, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Al Maa’idah 5 : 44)   Ayat ini dengan jelas berbicara tentang ahli kitab, jadi bagaimana bisa bahwa ayat ini berbicara tentang kafir duna kafir.   Jika itu sedang membicarakan tentang keimanan dari ahli kitab, bisa jadi dapat diterima sebagaimana orang-orang yang beriman dari ahli kitab pada masa Rasulullah (saw), atau itu harus digunakan pada keduanya orang Islam dan Kafir, tetapi jika kita melakukan demikian, kita tidak bisa memberlakukan kafir duna kafir sebagiamana yang awalnya berbicara tentang orang-orang kafir.   Kita harus ingat Ibnu Abbas tidak pernah berkata tentang situasi pemerintah toghut, atau menetapkan dengan hukum kufur, bahkan dalam hadis yang dhaif, beliau berbicara tentang kesewenang-wenangan, ini sangat berbahaya yang di atributkan pada seorang sahabat bahwa dia berkata seperti mereka menyatakan bahwa pemerintah thoghut adalah bukan kafir.   

2)       MEREKA MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH  

Mereka membantah bahwa mereka mengucapkan laa ilaha illallah, dengan demikian bagaimana kita bisa menyebut mereka kafir.   Umar Al Asykar berkata: “Bagaimana bisa kamu menyebut mereka kafir? Mereka orang-orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah, dan Rasulullah (saw) melarang Usama bin Zaid, untuk membunuh seseorang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, dan hadis menyatakan tidak mengucapkan pada seseorang yang mengucapakan kepadamu salam, bahwa ia adalah seseorang yang tidak beriman.”   Allah (swt) berfirman: Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran 3 : 7)   Menyatakan kepada kita bahwa tidak segala sesuatu yang terbuka untuk ijtihad, banyak hal ada yang diterangkan  secara jelas dan tidak dapat dibantah, hanya ada beberapa hal yang samar, bahwa jika sesuatu datang secara umum, maka hanya Allah saja yang dapat mengkhususkan sesuatu tersebut. Seperti contoh Allah (swt) berfirman “shalatlah…” ini adalah abstrak (mujmal), Allah menjelaskan pada teks yang lain berapa banyak dalam sehari dan sebagainya, tidak ada seorang Alim yang bisa mencotohkan hal ini dan mengatakan kepada kita bagaiamana cara mendirikan shalat.   Pernyataan yang menyatakan bahwa para penguasa mengucapakan laa ilaaha illallah, bisa di counter pada sudut pandang ini. Dan hadis yang mereka kutip di luar konteks bahwa yang berbunyi: “siapa saja yang mengucapkan laa ilaha illallah meyakini dan hatinya akan masuk surga.”   Ayat yang berbunyi: “ siapa saja yang menentang Allah dan rasulNya akan tinggal di nereka selamanya.”   Inilah sebab golongan Khawarij menjadi bingung, karena mereka yang akan berada di dalam neraka selamanya adalah orang-orang kafir, sehingga mereka mengambil semua kedurhakaan adalah kafir. Sebagaimana Allah (swt) menerangkan di lain ayat, dimana Dia berfirman, Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya…. (QS An Nisa 4 : 116)   Lebih lanjut iman bukan hanya apa yang dikatakannya, itu adalah untuk dikatakan di percaya dan melakukannya. Iman adalah apa yang di ucapkan, dilakukan dan didalam hati, jika ada dari tiga pilar ini hilang atau ditiadakan seperti dengan kata-kata atau dengan perbuatan kufur, maka keseluruhan iman akan hilang. Demikian itu adalah mengapa banyak pemimpin yang mengucapkan laa ilaha illallah, pada saat mereka ‘ditemani’ syirik besar atau kafir besar seperti berlemah lembut di depan berhala atau pada aturan selain dari pada apa yang telah Allah (swt) sampaikan atau mengejek Dien Allah dan lain-lain, mereka akan meninggalkan ikatan Islam dengan sadar ataupun tidak, sungguh Allah (swt) menginformasikan  kepada kita orang-orang yang mengucapkan kalimah (syahadatain) dan menyatakan diri beriman kepada Allah dan masuk Islam, namun mereka adalah musyrik atas ‘kecintaan’ mereka pada thaghut (seperti kecintaan mereka pada pengadilan barat atau hukum buatan manusia, PBB, hukum international atau pada hakim yang memutuskan selain dari apa yang telah Allah (swt) sampaikan), Allah (swt) berfirman, Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghu, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS An Nisa 4 : 60)                                

Dua Kewajiban – Dakwah dan Jihaad     Dakwah (mengajak orang pada Islam), jihad (berperang karena Allah), menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran semuanya adalah kewajiban dalam Islam yang tidak akan pernah bisa dilalaikan oleh seorang Muslim, laki-laki ataupun perempuan. Mereka adalah karakteristik dari Ahl ul Jannah dan semua itu adalah kegiatan para sahabat. Selanjutnya dalam Qur’an, Allah (swt) menghukum orang-orang yang melalaikan kewajiban-kewajiban ini dan berjanji akan menghukum mereka bersama para pelaku kejahatan – orang-orang yang tidak beriman.   Apa yang telah Allah (swt) wajibkan kepada kita akan tetap menjadi wajib sampai hari pengadilan, juga apa yang Allah (swt) telah larang akan tetap terlarang sampai hari pengadilan nanti. Hukum-hukum Syari’ah tidak bisa berubah dalam Islam; itu adalah fakta atau salah satu dari prioritisasi dari kewajiban-kewajiban yang pokok ini bisa berubah. Selanjutnya, siapa saja yang hidup di daar ul harb atau dar ul Islam tidak bisa merubah peraturan-peraturan Allah.   Selanjutnya, adalah bukan hal yang tepat bagi seseorang yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk memihak dan memilih-milih ketetapan-ketetapan Allah (swt), mereka akan melaksanakan salah satu dari kewajiban-kewajiban tetapi meninggalkan yang lainnya, sebagaimana ini adalah salah satu dari karakter Yahudi. Allah (swt) berfirman: “…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah 2: 85)   Setelah membaca ayat diatas, mengapa pada saat ini kita masih menemukan orang-orang ditengah-tengah ummat Islam yang memilih hanya berbicara tentang shalat dan tidak tentang jihad; menginginkan Aqidah tetapi tidak meneima syari’ah; berdakwah tapi tidak berjihad? Bagaimana bisa mereka mengharapkan keselamatan dari hukuman Allah – Jahannam – pada saat mereka bertindak dengan sangat tak menentu? Bagaimana bisa mereka mengklaim pengikut Muhmmad (saw) ketika mereka memfitnah, mencela dan memerangi orang-orang yang bersungguh-sungguh mengikuti jejak Rasulullah (saw) pada jalan mencegah kemungkaran, menghina hukum buatan manusia dan ideologi-ideologi jahat dari orang-orang kafir?   Sungguh, Rasulullah (saw) dan para Shahabat-shahabatnya adalah orang-orang yang telah melakukan kewajiban-kewajiban itu. Ketika mereka berada di medan perang mereka berdakwah dan mencegah kemungkaran yang dilakukan dengan menggunakan pedang, dan ketika mereka tidak berada di medan perang mereka berdakwah dan mencegah kemungkaran dengan lidah mereka. Ini adalah sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri; namun, berapa banyak kaum Muslimin pada saat ini yang ambil bagian dalam kewajiban yang mulia ini? Berapa banyak kaum Muslimin yang mempunyai keberanian seperti para Shahabat, mengekspos kejahatan masyarakat (seperti demokrasi dan kebebasan) secara terbuka dan terang-terangan, juga mengajak non-Muslim kepada satu dan satu-satunya jalan hidup yang diterima oleh Allah (swt)? Bagaimana bisa kita mengklaim sebagai pengikut Sunnah pada saat kita tidak mengikuti sunnah yaitu  memberikan dakwah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran?   Tentu saja, orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah Ghurabaa’ (orang-orang yang terasing) di dunia. Rasulullah (saw) telah menginformasikan kepada kita bahwa mereka akan menjadi minoritas, dan mayoritas dari orang-orang akan menentang, menertawakan, mengejek, menyerang dan mengutuk mereka, tetapi Allah akan meridhoi mereka: “…Toobaa (surga) bagi Ghuraaba’ (orang-orang yang asing); mereka adalah orang-orang yang menyeru pada kebaikan (dan mencegah kemungkaran) pada saat orang-orang tlah berbuat kerusakan.” (Musnad Imam Ahmad)   “Surga bagi Ghuraaba’: orang-orang yang shaleh ditengah-tengah orang-orang yang berbuat kejahatan. Orang-orang yang menentang mereka akan jauh lebih banyak daripada orang-orang yang menaati mereka.” (Musnad Imam Ahmad)   Maka kita menemukan banyak orang-orang pada saat ini yang mempunyai karakter seperti Khawarij (sebuah sekte menyimpang dalam Islam) yang berbicara sama seperti bahasanya sebagaimana rasulullah (saw), bacaan Qur’an nya bagus dan melakukan banyak perbuatan baik, namun mereka tidak menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran secara terbuka dan terang-terangan, tidak menolak semua bentuk tahghut dan tidak mempunyai wala’ dengan kaum Muslimin yang berbeda dengan mereka. Bahkan mereka lebih banyak menganggu risalah bagi kaum Muslimin yang mulai untuk meninggalkan Standart Islam dan menjadi mengesankan dengan penampakan dan keterpesonaan dengan kebaikan dari sekte jahat ini. Sayang sekali, mereka mempunyai pilihan untuk menyangkal petunjuk Muhammad (saw) dan mengikuti penyimpangan dari individu-individu yang salah ini.   Al-Ghuraaba’ selanjutnya tidak dengan mudah tergoda dengan argument-argument yang “mempesona” dari Khawarij, dan tidak mempunyai waktu untuk berdebat dengan orang-orang yang meninggalkan sunnah. Ketika mereka berada di medan perang mereka berdakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan pedang mereka, dan pada saat mereka tidak pergi ke medan perang (dengan alasan yang benar) mereka berdakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan lidah mereka.   Jihad dan dakwah adalah satu kesatuan; keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Jika seseorang tidak secara fisik berpartisipasi dalan jihad mereka harus berusaha mengajak orang-orang pada Islam dam mengekspos kemungkaran masyarakat – ini dengan pasti apa yang orang-orang beriman pada masa Rasulullah (saw) telah laksanakan pada saat mereka tidak bisa bergabung di medan perang. Mujahidin dan da’ie seharusnya tidak mempunyai waktu untuk membenarkan duduk dengan tenang di belakang dan mengabaikan dakwah. Tetapi  mereka akan melakukan apa yang telah diwajibkan dan juga menerima syari’ah-syari’ah yang telah Allah (swt)  tetapkan.   Apakah kita akan mengikuti Rasulullah (saw) dan para Shahabatnya atau kita hanya mengikuti hawa nafsu kita? Mari kita bertanggungjawab atas diri kita sebelum kita dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta.

DAULAH ISLAM 

Negara Islam mempunyai dua pilar yang utama: 

1.      Hukum Islam dan peraturannya 

2.      Kekuatan dan kekuasaan  

Jika 2 pilar tersebut dapat diraih kembali, maka negara Islam niscaya tidak lama lagi akan tegak. 

Beberapa syarat untuk tegaknya pilar-pilar tersebut:   

1. Harus ada propinsi (wilayah tertentu)  

2. Harus ada warga negara  

3. Harus ada pemimpim  

4. Harus ada hukum dan peraturannya   

Negara Kufur  “ Suatu negara yang terdiri dari beberapa wilayah/daerah yang hukum dan peraturannya adalah kufur, meskipun penduduk yamg mendiami mayoritas muslim.” 

Imam Al-Kasaani berkata:  “ Tidak ada perselisihan/pertentangan pendapat diantara ahnaaf (ulama), tentang negara yang menjadi negara Islam yaitu ketika peraturan Islam menjadi dominan (diterapkan), akan tetapi terdapat perselisihan pendapat diantara saudara-saudara kita tentang negara Islam yang kemudian berubah menjadi negara kufur, Imam kita berkata, ”Negara Islam akan menjadi negara kufur jika ada dalam 3 kondisi, yaitu:   

1.       Ketika hukum dan peraturannya menjadi kufur

2.       Ketika daerah perbatasan negara Islam dengan negara kufur tidak ada perjanjian

3.       Ketika di negara Islam tersebut tidak memiliki keamanan lagi untuk orang-orang muslim dan kafir dhimmi.” 

Imam Al Sarkhaasi berkata: “Suatu negara menjadi negara Islam ketika hukum-hukum Islam menjadi dominan (diterapkan)”. (Mabsut vol.10,p.114)   Imam Ibnu Qoyyim berkata: “Jumhur ulama berkata negara Islam adalah negara di mana kaum muslimin dapat pergi dan tinggal di sana dan peraturan-peraturan Islam dapat diterapkan jika masyarakat tinggal di suatu tempat dan Islam diterapkan maka daerah tersebut termasuk ke dalam negara Islam dan jika aturan Islam tidak diterapkan maka tidak bisa disebut dengan negara Islam meskipun negara tersebut dekat dengan negara Islam, Tha’if adalah daerah yang dekat dengan Mekkah tetapi tidak menjadi negara Islam sampai ditaklukkan.” (Kitab Ahkam Ahl Dhimmah vol.1p.366)   Imam Ibnu Muflih berkata;  “ Hanya ada dua negara yaitu negara Islam (Darul Islam) dan negara Kufur (Darul Harb), negara-negara yang diterapkan hukum-hukum Islam adalah negara Islam dan negara yang diberlakukan hukum kufur atas daerahnya adalah negara kufur, sehingga hanya ada dua perkampungan masyarakat (yaitu masyarakat kufur dan masyarakat Islam).” (Al Adaab Al Shari’ah vol.1 p.190) Qadi Abu Ya’la berkata: “Setiap negeri yang menerapkan hukum-hukum kufur adalah negeri kufur”. Imam Al Mawardi berkata : “Darul Harb adalah Darul Kufur di mana hukum-hukum kufur diterapkan di tempat tersebut.” Imam Saukani berkata : “Ketika kita berbicara tentang negara, maka kita dapat menilai dengan melihat sesuatu yang mendominasi negara tersebut, jika aturan tersebut aturan dan larangannya diperuntukkan bagi orang-orang muslim, kemudian di sisi yang lain tidak ada seorang pun dari orang-orang kafir yang bisa menampakkan kekufurannya kecuali dengan apa yang diakuinya dari aturan-aturan Islam maka negara tersebut adalah negara Islam.” Imam Abdullah Abu Butain (Salah satu ulama Najd ) “ Negara ada 2 tipe yaitu negara Islam atau negara kufur, negara Islam adalah suatu negara di mana peraturan-peraturan Islam diberlakukan kepada semuanya walaupun seandainya tidak ada seorang muslim pun di sana tapi hukum-hukum Islam tetap diberlakukan dan jika kebalikannya maka negara tersebut adalah negara kufur”. Sayyid Quthb berkata: “ Negara yang ada di seluruh dunia dalam pandangan Islam dibagi menjadi dua bagian, yang pertama negara Islam (Darul Islam), dan yang kedua negara kufur (Darul Harb), Negara Islam adalah negara di mana hanya syariat Islam yang diterapkan tanpa memperhatikan mayoritas dari penduduknya apakah semuanya muslim atau muslim dan kafir Dhimmi atau semuanya kafir Dhimmi dengan hanya beberapa muslim. Negara Kafir atau Darul Harb adalah negara yang memiliki beberapa wilayah yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum kufur meskipun setiap orang yang ada di wilayahnya muslim.” (Fi Zhilal Al-Qur`an) 

Kenapa Kekuasaan Itu Penting ? 

Imam Abu Yusuf dan Imam Shaibaani berkata:  “ Suatu wilayah atau daerah akan diatributkan kepada kita (Islam) atau mereka (kafir) dengan melihat siapa yang memegang kekuasaan dan dengan melihat macam peraturan yang diterapkan atas wilayah tersebut.”  Allah SWT berfirman:  “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, kepada mereka malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab:”adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah).” Para malaikat berkata:”bukankah bumi Allah itu kuas sehingga kamu dapat berhijrah di negeri itu?” (QS.An Nisa’ (4) :97)  Allah memerintahkan kepada kita dalam Al-Qur`an, bahwa kita diperintahkan untuk hijrah dari tempat di mana kita tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan menuju ke tempat di mana kita akan mempunyai kekuasaan dan kekuatan. Ibn Hazm berkata bahwa Rosulullah saw bersabda:  ” Saya bebas dari setiap orang yang hidup di antara orang-orang musyrik dan gilirannya kembali kepada orang-orang muslim.”  

Tipe-tipe Daulah Islam 

Sekarang ini tidak ada negara Islam, begitupun juga jika kita mengklasifikasikan negara Islam fakta yang ada sekarang tidak ada. Kita saat ini membicarakan negara Islam dan macamnya pada masa lampau, dan masa yang akan datang (yang Insyaallah akan segera berdiri) 

A.     Darul Baghie (Daerah Pemberontakan) 

Daerah ini masih dalam bagiannya negara Islam, bukan dalam bagian negara kufur. Daerah ini dimasukkan ke dalam Darul Baghie, ketika masyarakat yang ada di sana melakukan pemberontakan melawan pemerintahan Islam, seperti daerah Khawarij, Al Haruriyyah yang dikenal sebagai darul baghie, ketika mereka melawan Shahabat Rosulullah.  Ibn Abbas menyebutnya dengan Darul Baghie dan menyebutnya sebagai Kufr duna kufr (kufur dunia).Kebalikan dari daerah ini adalah Darul ‘Adl. Daerah ini merupakan bagian dari Darul Islam (negara Islam), tetapi jika kemudian terdapat pemberontakan terhadap Darul Islam maka disebut Darul Baghie, tetapi tidak meliputi semua bagian dari negara Islam. 

B.    Darul Fusuq/Darul Fasiq (Daerah Dosa) 

Daerah ini disebut Darul Fusuq ketika terjadi beberapa perbuatan fasiq yang berkembang di beberapa bagian daerah dari pemerintahan Islam, misalnya Ja’far bin Mubashir adalah salah seorang yang berkata bahwa “hijrah adalah fardhu dari tempat perbuatan fasiq (bagian daerah pemerintahan Islam).” Mereka membuat qiyas atas hijrah dari negara kufur, tetapi ini merupakan qiyas yang tidak beralasan/tidak tepat, sebagaimana kamu tidak dapat menggunakan qiyas negara Islam sebagai negara kufur. Misal ketika musik mulai menyebar di setiap tempat dan khalifah tidak mensahkannya tetapi tidak juga menindaknya maka hal ini akan menjadi suatu ucapan tentang kekufuran (Kufr duna kufr). Sebagaimana firman Allah SWT : “ Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur`an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir dalam jahannam.”(Qs.An Nisa’ (4) :140) Satu dari macam-macamnya yaitu berupa ejekan mengatakan perkataan-perkataan kotor tentang apa yang telah diketahuinya sebagai suatu yang penting/perlu tetapi mengatakan “saya tidak butuh akan hukum syara’, berhukum kepada thoghut. Jika kamu berada dalam situasi antara semua kefasikan dan kekufuran, maka kamu harus menghindari/menjauhi kejahatan dan kamu harus meninggalkan mereka semuanya.  Allah SWT berfirman: ”Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami maka tinggalkan olah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaiton menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dholim sesudah (akan larangan itu).” (QS. Al An’am (6) : 68) Al-Khaud adalah ketika kamu berbicara tentang sesuatu bahwa mereka tidak layak untuk berkata mengenai hal tersebut, kita tidak pergi ke tempat pertemuan dimana orang-orang berbicara tentang hawa nafsu dan bid’ah. Darul Fisq dijelaskan dalam hadist dari Sa’id Al Khudri bahwa Rosulullah saw bersabda: ” Ada seseorang sebelum kamu yang membunuh 99 orang kemudian ia mendatangi seorang pendeta dan berkata,”Aku telah membunuh 99 orang ,maka apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat, pendeta itu berkata”Tidak, kemudian dia membunuh pendeta itu dan ia melakukan pembunuhan menjadi 100 kali. Setelah itu ia mendatangi seorang pendeta yang lain,”Aku telah membunuh seratus orang, maka apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat? Pendeta itu berkata,”Ya, pergilah kamu ke tempat di mana  masyarakatnya adalah orang-orang yang melakukan ibadah pada Allah dan janganlah kembali ke rumahmu, karena sesungguhnya ia daerah Fisq (kemudian dia mati di jalan itu (dalam keadaan taubat)). (HR.Bukhori) Suatu tempat di mana dia hidup adalah tempat orang-orang fasiq, tempat orang-orang yang melakukan kefasikan, dan dia dituntut atas hal tersebut karena tidak ada taubat, tetapi masih ada taubat untuk segala macam dosa kecuali syirik. Imam Syaukani berkata : “Darul Fisq adalah tempat dimana perbuatan dosa tersebar tetapi bagi muslim yang ada di sana harus meninggalkan tempat tersebut dan orang-orang yang ada di sana harus di hukum dan tempat tersebut akan dikenal sebagai Darul Ma’assi sampai kekufuran berkembang di sana (kemudian akan menjadi Darul Kufr). C.    Darul Dhimmah (Daerah yang dihuni oleh orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan penguasa muslim/khalifah) Darul Dhimmah adalah bukan Darul A’had, sebab Darul A’had berada dalam Darul Kufur .Darul Dhimmah adalah klasifikasi dari negara Islam, ketika terdapat orang-orang kafir dhimmi tetapi daerah tersebut bisa juga dihuni oleh bukan orang-orang kafir dhimmi yaitu orang-orang muslim. Misalnya Khaibar dibawah kepemimpinan Rosulullah saat itu adalah Darul Dhimmah, dijelaskan bahwa: ” Jika seorang amir dari beberapa pasukan mengelilingi musuh untuk beberapa kota kemudian beberapa dari mereka (penduduk kota) berkata mereka akan menjadi muslim dan beberapa dari mereka berkata akan menjadi kafir dhimmi, maka langkah yang terbaik adalah membiarkan mereka untuk menjadi muslim dengan memberlakukan hukum Islam atas mereka dan melihat kesudahan mereka dalam menjalankan urusan dengan hukum Islam (Kitab Al Siyar vol.5) Ahlu Dhimmi adalah seseorang yang menerima atau bersedia hidup di bawah hukum Islam dan diatur olehnya, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh madzhab Imam Hanafi “mengikuti hukum suatu negeri”.  

Keraguan Berhukum Kepada Thagut   Kita tidak memberikan dalam pembahasan topik ini konsep kewajiban untuk menaati syariah atau setiap perbuatan berdasarkan pada hukum dan lain-lain.   Lebih dari itu jika kita menyangkal keraguan tentang konsep ini, itu menjadi lebih mudah untuk menjelaskan konsep itu sendiri. Kita mengetahui dengan baik bahwa apa saja yang manusia ucapkan dari mulutnya, itu akan di hitung (pahala atau dosa). Apapun yang dia kerjakan dengan ikhlas dia akan mendapat balasannya. Allah (swt) berfirman,  “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS Al Zalzalah 99 : 7)   Rasulullah (saw) bersabda: “Seseorang yang mengatakan tanpa mempertimbangkan apakah itu penting dan itu akan menyebabkannya berada di dalam nereka selama 40 masa.”   Kita mempunyai sebuah prinsip dalam Syariah: “Realitas tentang apapun tidak bisa di ubah dengan mengubah namanya.”   Yaitu fakta sebuah masalah tidak bisa berubah oleh menyebutnya dengan nama yang berbeda, cara yang kita tidak bisa bedakan antara warga Negara biasa dengan militer, semua bisa di perangi selama mereka terlibat dalam peperangan.   Cara yang sama halnya bahwa demokrasi tidak bisa menjadi halal dengan menyebutnya syura (musyawrah), itu adalah bukan syura itu adalah syiik dalam hal peraturan Allah (swt).   Mereka yang berkata “kita memutuskan kepada thaghut itu karena …..begini dan begini…” berkata:        1. “…itu bukanlah memutuskan, itu hanya untuk mencari kebenaran ”:   orang-orang yang mengatakan bahwa jika kita tidak menggunakan thaghut untuk mencari kebenaran, kemudian kita akan kehilangan semua kebenaran kita.   At Tahakum adalah Al Ibadah. Tauhid adalah ifraad ullahi fil ibaadahi, untuk menyembah Allah semata. At Tahakum adalah salah satu bentuk ibadah dan satu-satunya yang berhak di sembah adalah Allah (swt). At Tahakum di defenisikan sebagai:   “untuk condong dan memilih kepada sesuatu untuk memutuskan perselisihan suatu masalah antara dua atau lebih golongan.”   Bahwa kembali untuk mencari sebuah hukum, memecahkan sebuah masalah atau mencari kebenaran adalah sebuah perbuatan anggota tubuh bukan perbuatan hati.   Merubah kata At Tahakum ‘untuk mencari kebenaran’ tidak akan mengubah realitas bahwa itu adalah memutuskan/menetapkan (At Tahakum). Walaupun dia keluar dari sebutan perbuatan memutuskan kepada thaghut, tetapi sebutan ‘mencari kebenaran’ tidak merubah fakta bahwa itu adalah memutuskan.   Melakukan demikian adalah yang di sebut At Ta’alluh pada Allah adalah sebuah bentuk dari legislasi.   Perbuatan adalah pilar dari iman dan tahakum adalah sebuah perbuatan anggota tubuh bukan perbuatan hati, jadi niatnya dalam perbuatan tidak sesuai dengan hukum. Dia pergi kepada thaghut tidak bisa di benarkan bila dia mengatakan “niatku hanya untuk… begini dan begini…” karena memutuskan adalah bukan perbuatan hati, tetapi adalah perbuatan anggota tubuh (badan).   Seseorang yang mengatakan bahwa dia bisa memutuskan kepada thaghut dengan niat yang berbeda, hanya untuk ‘mencari kebenaran’, ini sama seperti seseorang yang berkata kamu bisa bersujud kepada berhala selama kamu tidak berpikir bahwa itu adalah tuhan atau dia tidak berniat untuk menyembah berhala tetapi hanya untuk menghormatinya.   Dalam kasus ini, kita tidak bisa menyebut seseorang musyrik, karena seseorang bisa menyatakan bahwa dia tidak sungguh-sungguh bersujud didalam hatinya.   Ibnul Qayyim berkata, “Salah satu bentuk syirik adalah sujudnya murid kepada syaikhnya, itu adalah syirik bagi seseorang yang bersujud dan seseorang menerimanya. Itu adalah sesuatu yang aneh bahwa mereka menyatakan bahwa itu adalah bukan sujud, bahwa itu hanya meletakkan kepala diantara kedua kaki sang syaikh diluar dari rasa hormat dan meninggikannya.’; walaupun kamu memberikannya sebuah sebutan sesukamu faktanya sujud adalah kamu meletakkan kepala kebawah di depan seseorang yang mau untuk menerima sujud.” [Al Madaarij Al Saalikin v1 Hal. 374].Sujud tidak bisa bersujud kepada seorang syaikh dengan ‘niat’ untuk memberikan rasa hormat itu adalah syirik dan sujud adalah meletakkan kepala kita di bawah di depan seseorang yang mau kita beri sujud, apapun kita menyebutnya.   Mereka juga menyatakan bahwa “Rasulullah (saw) mengambil Muts’ab Ibnu ‘Adiy sebagai pelindungnya dan dia adalah seorang musyik, oleh karena itu kita bisa berhukum (dengan sewenang-wenang)”.   Orang-orang yang menggunakan alasan salah ini dan ini adalah benar-benar sebuah alasan yang salah. Mereka mencoba memunculkan keraguan bahwa “Rasulullah (saw) berhukum kepada Muts’ab untuk melindungi dan demikian kita bisa memutuskan kepada thaghut untuk melindungi kebenaran kita.”   Rasulullah (saw) tidak pernah meminta pendapat pada Muts’ab, beliau mengangkatnya untuk melindungi beliau, At Tahakum adalah: “untuk condong dan memilih kepada yang lain untuk memutuskan perselisihan suatu masalah antara dua atau lebih golongan.”   Ketika kita berbicara tentang tahakum kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lain, Allah (swt) berfirman, ( “…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An Nisa 4 : 59)   An Niza dalam ayat tersebut berarti permasalahan yang sedang kita hadapi atau itu untuk meninggalkan sesuatu. Jika seseorang pergi kepada seseorang yang lain yang bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan mereka menghakimi dengan selain daripada apa yang telah Allah (swt) turunkan, (yaitu dia akan menjadi seorang muslim yang baik) bahwa orang-orang yang tidak beriman pada Allah, jika memutuskan kepada selain daripada (yang telah di turunkan) Allah (swt) itu adalah syirik akbar.   Itu tidak sama sebagaimana membayar orang kafir untuk melindungi kita, mengambil seorang pelindung (bodyguard) adalah sesuatu yang Rasulullah (saw) dan Abu Bakkar lakukan. Abu Bakar memasuki dengan perlindungan Ibnu Daghunna dan kaum Muslimin memasuki dengan perlindungan An Najasyi dan Muhammad (saw) mengambil perlindungan dari Nuts’ab Bin Adi ketika dia datang dari Thaa’if. Kita bisa melakukan hal sama, kita bisa memanggil polisi untuk melindungi kita, tetapi tidak membayar dan tidak juga mengabilnya kedalam pengadilan untuk memutuskan suatu perkara.   Jika seseorang meminta untuk mengambil haknya dalam bentuk manfaat itu bukan memutuskan, itu juga bukan mendamaikan antara dua golongan yang sedang berselisih.   Mereka juga menunjuk kepada Hilf ul fudhul, Ini adalah sebuah kesepakatan/ kontrak bahwa yang terjadi pada masa jahiliyyah, di dalam rumah Ibnu jad’aan dia memanggil orang-orang dan berkata, “kita tidak bisa menjadi begitu jelek, kita adalah orang-orang arab yang menghargai tamu dan kita tidak bisa membunuh mereka, mereka datang untuk berhaji kita harus menerima mereka dan memberikan mereka perlindungan.” Dia telah membuat sebuah kesepakatan untuk memberikan perlindungan kepada jamaah haji, Rasulullah (saw) bersabda, “jika aku di panggil untuk membuat sebuah perjanjian seperti hilf ul fudhul, aku akan ambil bagian.”   Dia tidak pernah disana kecuali pada saat anak-anak dan hanya bercerita tentang Madinah, tetapi orang-orang melompat untuk berkata dia terlibat dalam berhukum kepada thaghut. Namun memutuskan tidak mempunyai apa-apa untuk melakukan perlindungan terhadap setiap orang dan perlindungan itu tidak dapat di lakukan dengan masalah mmutuskan.   Lebih lanjut, orang-orang yang melakukan hilf ul fudhul adalah bukan tawaghit, mereka bukan tuhan, imam ataupun hakim. Mereka  hanya kepala kabilah yang setuju untuk memberikan perlindungan kepada jamaah haji. Tawaghit adalah yang orang-orang gunakan untuk berhukum kepada orang-orang seperti ka’ab bin Asyraf dan Dar ul Nadwa. berhukum adalah bukan tentang orang-orang yang berkata ‘aku memberikan perkataanku’   Rasulullah (saw) bersabda, “mereka adalah orang-orang Musyrik yang tergabung untuk membantu orang-orang yang terhimpit.”   Dan dia berkata tentang itu, “Aku adalah seorang anak muda ketika aku pergi dengan pamanku untuk perjanjian itu, demi Allah aku tidak akan membiarkannya lemah, meskipun mereka memberiku semua unta yang merah”.   Hilf ul fudhul hanyalah sebuah perjanjian dari orang-orang yang membantu orang-orang yang terhimpit, itu bukan memutuskan dan rasulullah (saw) menyukai setiap perjanjian untuk membantu orang-orang yang terhimpit.   Mereka yang mengarahkan pada bukti ini, kita bertanya, apakah perkataan Rasulullah (saw) sebanding dengan perkataan Ka’ab Bin Asyraf dan orang-orang yang memutuskan kepada mereka?   Tentu saja tidak, dan jauh dari masalah berhukum, jadi mengapa kita harus menggunakannya untuk memutuskan perundang-undangan kepada thaghut?   Sebagian orang yang membantah tentang pendapat itu bahwa pengadilan di inggris adil dan juga mereka menunjuk kepadanya dan menggunakan hilf ul fudhul sebagi hujjah.   Bagaimanapun juga, kita tidak menyangkal bahwa thaghut tak adil juga mengambil suap, Allah (swt) menyuruh kita untuk menolak thaghut, karena itu adalah thaghut kafir dan tidak ada seorangpun bisa menjadi muslim tanpa menolaknya dan menjauhkan dirinya sendiri berhukum kepadanya (thaghut).   Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa “ kita memutuskan kepada mereka dalam sebuah masalah jika mereka melewati putusan yang adil” sebagaimana jika adalah yang dilewati oleh manusia, tetapi keadilan hanya dari Allah (swt). Hakim hanyalah seseorang yang manaati hokum Allah (swt). Mereka mengklaim bahwa kamu bisa berhukum kepada mereka dan menerima atau menolaknya jika itu adil atau tertekan.   Allah (swt) melarang kita untuk memutuskan kepada mereka, dan seseorang yang memutuskan kepada mereka, belum menolaknya (thaghut), Allah (swt) berfirman,  “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu….” (QS An Nisa 4 : 60)   Allah tidak membedakan antara memutuskan kepada thaghut jika putusannya adalah ‘adil’ atau ‘tidak adil’, dan kemudian kita tidak bisa melihat hilf ul Fudhul sebagai hujjah untuk berhukum kepada thaghut jika mereka ‘adil’.   Lebih lanjut, orang-orang yang terlibat dalam kesepakatan tidak hanya melibatkan kepala kabilah, itu juga melibatkan melibatkan orang-orang juga, Ibnu Ja’daan bukanlah seorang kepala kabilah, paman nabi menghadirinya dan dia bukan seorang kepala kabilah; mereka bukan tawaghit. Untuk pergi kepada orang-orang yang kuat dan bijaksana, yang mempunyai penghormatan dengan tujuan untuk memberikan perlindungan atau setuju untuk melindungi orang-orang adalah bukan memutuskan suatu perkara.   Tetapi pergi kepada tawaghit , pemimpin kufur, hakim kafir dan sebagainya untuk memutuskan adalah kufur dan syirik kecuali dibawah paksaan (menurut sebagian ulama Ahlu As Sunnah), jika seseorang tertentu itu akan berhadapan dengan siksaan atau kematian, dia bisa pergi untuk memutuskannya. Hujjahnya adalah bahwa Ammar bin Yasir, Allah (swt) berfirman, Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS An Nahl 16 : 106)  2. “…ayat tentang memutuskan kepada thaghut di turunkan kepada orang-orang yang tidak menerima hukum Allah dan RasulNya, sedangkan kita memutuskan pada thaghut tetapi kita melakukan menerima hukum Allah dan RasulNya.”   Pernyataan dimana ayat Allah (Swt) mengutuk mereka yang berhukum berdasarkan thagut untuk menjadi kafir, hanya bisa diaplikasikan bagi orang-orang yang menafsirkannya dan bahwa mereka menolak Hukum Allah, mereka meletakkan kondisi pada berhukum itu bahwa kita harus mengartikannya pada thaghut. Mereka mengutip masalah dua orang, Yahudi dan Munafiq yang menginginkan untuk memutuskan kepada Ka’ab ibn Ashraf, Yahudi tidak percaya kepada Ka’ab, karena dia mengetahui dia akan mengambil uang suap dan mau untuk pergi bersama Muhammad (saw), tetapi orang-orang munfik menolak dan menginginkan untuk pergi kepada Ka’ab. Ayat yang telah mengungkapnya, Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu… (QS An Nisa 4 : 60)   Mereka mempunyai Al Irada –  mereka menginginkan untuk memutuskan kepada thaghut.   Mereka menyatakan itu artinya bahwa hanya jika mereka benar-benar menginginkan untuk memutuskan bahwa itu adalah kufur, tetapi Allah (swt) tidak mengatakan jika mereka menginginkan untuk memutuskan Allah telah menggambarkan kondisinya, menggambarkan bahwa mereka meninginkan untuk memutuskan, Allah tidak meletakkannya pada kondisi tertentu, itu adalah kesalahan untuk mengambil irada ini ketika sebuah kondisi untuk memutuskan kepada thaghut adalah kufur.   Argument lain digunakan dengan orang-orang itu, adalah bahwa mereka mereka memutuskan kepada thaghut pada saat mereka tidak mau untuk melakukan yang demikian. Ini bagaimanapun adalah dua gambaran dalam situasi yang sama; kedua memutuskan berdasarkan thaghut apakah mereka menginginkan atau tidak.   Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada perbuatan yang kita lakukan, itu berhubungan dengan Irada kecuali dalam kondisi terpaksa. Ini adalah sebuah kaidah dalam syari’ah: “setiap perbuatan yang kita lakukan dengan kemuan kita adalah pilihan, setiap perbuatan itu dilakukan tanpa pilihan adalah paksaan.”   Setiap perbuatan yang berkaitan dengan irada tetapi tidak setiap irada berhubungan dengan perbuatan. Iraada bisa menjadi terlaksana dengan perbuatan dan mungkin juga tidak (seperti mereka mungkin merubah kemauan mereka sebelum melakukan perbuatan).   Dalam ayat ini dimana Allah (swt) berfirman, Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu…. (QS An Nisa 4 : 60)   Allah (swt) berfirman, “apakah kamu tidak memperhatikan….” Dan dia menyebut mereka pendusta dan tidak menyukainya karena tindakan mereka tidak sesuai dengan niat mereka. Mereka memutuskan seuatu perkara dengan kekufuran mereka. Seseorang yang pergi untuk memutuskan adalah perbuatan dengan pilihan dan itu adalah suatu hal yang di murkai Allah dalam ayat ini, setelah itu dia memerangi mereka yang selanjutnya Allah (swt) berfirman, “Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu….”   Jika kita sekarang pergi kepada thaghut untuk menghukumi suatau perkara, apa bisa kita artikan dengan selain daripada berhukum? Ini adalah sesuatu yang lain untuk mengatakan bahwa mereka ada disana dan mereka tidak mengartikannya, tetapi sederhananya dengan pergi kesana, itu adalah sebuah hujjah untuk melawan mereka.   Lebih lanjut, pemujaan apapun selain daripada Allah adalah Syirik akbar apapun yang kamu maksud dan menerimanya atau tidak kecuali di bawah paksaan. Memutuskan adalah penyembahan (ibadah) dan itu adalah penyembahan secara nyata (dapat dilihat), jika seseorang pergi memutuskan kepada selain daripada Allah, apakah dia menyukainya atau tidak itu adalah musyik, kecuali dalam keadaan terpaksa karena Allah (swt) berfirman, “kecuali orang-orang yang di bawah paksaan”. Dia adalah musyik apakah atas kemauannya atau tidak.   Selanjutnya, itu tidak dibolehkan untuk meningglakan apa yang telah dengan jelas di putuskan, bahwa Allah mengutuk mereka atas putusan mereka dalam firmanNya, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman…” dengan tujuan untuk pergi kepada keraguan dan kerancuan, untuk itu ayat selanjutnya mengatakan, “Mereka hendak berhakim ….” Dengan tujuan untuk menimbulkan keraguan atas itu, Allah (swt) mengatakan setelah itu bahwa, “Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.”   Allah memerintahkan untuk mengingkari thaghut tidak bisa digunakan sebagai sebuah bukti untuk berhukum padanya, ketika kita dengan jelas mengetahui dari ayat bahwa Allah mengutuk perbuatan itu (bertahkim), itu adalah tertolak untuk kemudian pergi untuk melaksanakan niatnya dan semua itu belum jelas.   Jika seseorang mengatakan dia tidak menyukainya tetapi dia tetap pergi kepada thaghut untuk bertahkim, dia tidak menolak thaghut atau jika dia tidak melakukan itu tetapi dia menyukainya, dia tidak menolak thaghut.   Jika mereka mengartikan dengan argument ini bahwa iraada adalah niat dengan tanpa melihat dari perkataan dan perbuatan, kemudian dalan kasus ini orang-orang yang menyembah kuburan dan bertawaf, sujud pada kuburan mereka tidak akan diartikan sebagai perbuatan syirik – jadi apa syirik itu? Ibnu Taimiyah berkata, ”seseorang yang melakukan atau mengatakan kufur, itu adalah kufuf walalupun dia tidak bermaksud untuk menjadi kafir karena tak seorangpun mengartikan untuk  menjadi kafir kepada seseorang itu kecuali Allah sendiri yang mengetahui”.   Orang-orang yang batil tidak pernah percaya bahwa dirinya adalah orang yang batil, bahkan Fir’aun  berpikir bahwa dia pada yang benar. Seseorang yang melakukan kekufuran, dia adalah kafir apakah dia bermaksud untuk menjadi kafir atau tidak. Imam Tabari pada tafsir Surah Kahf ayat 104 “orang-orang ynag mengklaim… dan mereka yang mengklaim untuk melakukan perbutan perbuatan baik…”: “ayat ini adalah sebuah bukti melawan orang-orang yang mengklaim bahwa tidak ada orang yang menjadi kafir pada Allah kecuali seseorang yang telah berniat untuk menjadi kafir setelah dia mengetahui tawhid, karena Allah berfirman perbuatan mereka akan hilang meskipun demikian mereka sedang melakukan perbuatan baik.”   Apapun yang mereka pikirkan adalah tidak relevan dan ayat ini adalah bukti bahwa orang-orang akan menjadi kafir tanpa di sadari, bahwa mereka akan menjadi kafir pada saat mereka berpikir bahwa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang baik. Imam Haafiz ibnu Hajar berkata, “sebagian dari kaum Muslimin keluar dari dien tanpa bermaksud untuk mengeluarkannya dan tanpa untuk memilih dien lain selain Islam. (Fath ul baari)   ini adalah sesuatu yang tidak relevan apakah kamu mau menjadi kafir atau tidak, apakah kamu ingin bertahkim atau tidak, jika kamu melakukan kufur, jika kamu bertahkim pada thaghut, kamu adalah kafir.   Hafiz Ibnu Hajar juga berkata, “Ada sebuah hadits dari Rasulullah mengkonfirmasikan bahwa, Allah (swt) tentang Khawarij, mereka membaca Al Haq, mereka mengajarkan Al Qur’an, tetapi mereka meninggalkan ikatan Islam seperti anak panah yang meninggalkan busurnya.”   Syeikh Muhammad bin Abdul Wabbah berkata berkaitan dengan orang-orang yang melakukan ibadah ritual dengan sebuah perbuatan lain, “yang mereka lakukan di depan kuburan dari pergi untuk meminta bantuan dan untuk menyelesaikan permasalahan mereka, itu dengan pasti yang orang-orang arab dari musyrikin lakukan sebelum bid’ah pada lata dan ‘uzza, mereka berkata “kita tidak menyembah mereka, kita hanya pergi kepada mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah”.   Orang-orang pada saat ini mengatakan hal yang sama; mereka mengatakan kita tidak pergi kesana untuk menyembah thaghut, hanya untuk mencari kebenaran. Allah Menyebut orang-orang arab adalah musyrik karena mereka telah pergi pada berhala tidak karena mereka mempunyai niat untuk menyembah.   Syeikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab melanjutkan, “pertanyaan yang muncul tentang seseorang dari kaum Muslimin yang melakukan itu, apakah dia kafir? Untuk menjawabnya kita lihat pada dialog di dalam kuburan, malaikat bertanya “siapa tuhanmu?” dia akan menjawab, “aduh? Saya tidak tahu, saya mendengar sebagian orang yang mengatakan demikian maka saya mengatakannya juga…” dan melaikat akan memukul kepalanya …”   Mereka tidak mengetahui bahwa mereka adalah musyrik, tetapi mereka demikian. Tak seorangpun yang selamat dari kufur hanya karena mereka tidak tahu, dengan kata lain tidak ada orang yang akan menjadi murtad tidak juga akan kita berikan kesempatan untuk bertobat.   Dan dia telah berkata, “jika kamu mengatakan bahwa mereka mengabaikan tetapi mereka adalah orang-orang musyrik dengan perbuatan mereka, aku katakan, telah tertulis dalam kitab para fuqaha dan ummat pada bab murtad, bahwa seseorang yang berkata dengan kalimat kufur, walalupun mereka tidak mengetahuinya bahwa itu adalah kufur dan itu adalah bukti bahwa mereka jahil dalam Islam, jika kamu berkata bahwa mereka tidak mengetahui Islam atau kufur, maka mereka adalah kafir asli.”   Cara lain mereka adalah kafir apakah mereka murtad atau asli. Kita melihat dalam ayat bahwa Allah megutuk orang-orang yang memutuskan dengan dirinya sendiri selanjutnya seseorang yang mau mengadili dengan hasil keputusan itu benar-benar dari dirinya. Allah mengutuk mereka  jika mereka telah mengadili suatu perkara dan megutuk mereka jika mereka tidak mengadili pada saat mereka mau melakukan demikian itu.     3.”…Berhukum adalah syirik tetapi syirik Asghar (kecil).”   Alasan lain bahwa itu adalah syirik asghar (kecil), dan itu jelas bahwa ketika mereka benar-benar mencocokkan dan menyudutkan pada fakta bahwa itu adalah syirik, ketika mereka katakan “itu adalah syirik Asghar”, masih bahwa itu masih tidak dapat izin untuk melakukan itu.   Itu diketahui dengan jelas bahwa ibadah ritual dilakukan tidak lain hanya untuk Allah, Ibadah ada dalam bagian: menyembah dengan hati, menyembah dengan lidah dan menyembah dengan anggota tubuh.   Ibadah yang nyata seperti berdoa – dengan mengangkat tangan dan meminta dengan lidah. Al Istightsa, Al ruku’, Sujud dan lain-lain semua itu adalah ibadah yang nyata, termasuk mengadili pada thaghut.   Orang-orang yang melakukan ibadah yang nyata kepada selain dari pada Allah adalah syirik, kecuali pada apa yang tersembunyi dalam niat yang terdapat dalam hati. Kita menilai hanya pada sesuatu yang tampak, kita tidak dapat menilai apa yang ada dalam hati; kita hanya bisa menilai dengan apa yang dia tampakkan, dengan perkataan mereka atau dengan perbuatan mereka.   Beriman pada Allah bukan hanya dalam hati, tetapi di dalam hati, perkataan dan perbuatan. Seseorang yang menggunakan argumen itu adalah syirk asghar telah membuat kesalahan dengan membuat analogi dengan hukum qassam dengan selain daripada Allah, perkataan ini adalah syirik Asghar dan mempunyai qarina bahwa itu adalah asghar.   Alasan bahwa mereka membuat kesalahan ini adalah karena mereka adalah orang-orang murji’, irja’ ini adalah seseuatu yang paling berbahaya, bahkan lebih bahaya daripada yahudi dan Nasrani.   Orang-orang mungkin bertanya, ‘mengapa para fuqaha mengucapakan sumpah dalam ibadah?” ini karena bersumpah demi Allah adalah teman dari ibadah, ibadah dari ta’zim, untuk meninggikan Allah, dengan bersumpah pada Allah kamu meninggikan dan memuliakan Allah dan itu adalah ibadah, dengan bersumpah kamu mendeklarasikan bahwa Dia adalah yang paling layak untuk ta’zim dan bersumpah denganNya. Jika seseorang bersumpah dengan nama selain Allah, dia tidak selalu berta’zim, dan demikian itu adalah tidak selalu sebuah bentuk penyembahan. Dikatakan menyembah jika itu adalah meninggikan Allah, tetapi itu tidak selalu penyembahan pada saat dia berjanji dengan sesuatu yang lain.   Namun, mengadili hanya akan terjadi pada seseorang yang mungkin bahwa dia itu selalu menyembah. Ta’zim adalah salah satu fungi hati, itu adalah I’tiqad dalam hati bahwa kita tidak melihat atau tidak juga menghakimi, itu adalah sesuatu yang tersembunyi dalam niat; itu mungkin meninggikan atau itu mungkin hanya untuk meyakinkan seseorang saja. Namun, mengadili adalah sesuatu yang nyata, itu adalah perbuatan anggota tubuh itu sesuatu yang terlihat dan bisa di nilai.   Ketika seseorang datang kepada Nabi (saw) dan bersumpah dengan nama ibunya, dia (saw) mendeklarasikan bahwa itu syirik, tetapi tidak memintanya untuk mengulang shalatnya. Ini adalah qarina bahwa itu adalah syirik asghar kecuali dia menafsirkan itu sebagai ibadah ritual dan sebagianya yaitu jika dia berkata, “aku bersumpah demi ibuku terbaik seperti Allah .” dia melakukan syirik akbar.   Ta’zim adalah tersembunyi dan membutuhkan untuk di tunjukan kemudian dinilai sebagai ibadah, sedangkan shalat dan mengadili adalah perbuatan dan itu tidak perlu lagi di tunjukan karena itu adalah sesuatu yang tampak.   Dalam Bukhari, Rasulullah (saw) bersabda, “Allah melarangmu untuk bersumpah atas nama bapakmu dan ibumu.”   Namun dalam permulaan Islam, itu tidak dilarang untuk bersumpah atas nama orangtuamu, kemudian itu dibatalkan, sedangkan mengadili adalah tetap syirik dan tertolak dari permulaan Islam dan ayat, “. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu… (QS An Nisa 4 : 60)   telah diturunkan di Madinah, itu adalah syirik akbar dari permulaan sampai akhir dari Islam dan tidak dibatalkan seperti hukum bersumpah dan tidak ada dalam Islam bahwa syirik Akbar dalam permulaan Islam dan kemudian menjadi syirik Asghar pada masa kemudian; untuk beranalogi diantara dua ini adalah salah.   Jika kita berusaha untuk membuat analogi kita akan berkata dalam mengadili pada thagut, bahwa itu adalah di bolehkan untuk memutuskan kepada kaahin sebelum di Mekkah dan telah di batalkan sesudahnya. Klaim seperti ini adalah sungguh sangat berbahaya dan mempunyai implikasi yang serius dan itu bukanlah sebuah permasalahan, mengadili pada thaghut adalah syirik Akbar dari permulaan Islam.   Lebih lanjut, walaupun itu adalah benar dan itu adalah syirik asghar, kamu masih dilarang untuk memutuskan kepada thaghut.      4. “…jika kita memutuskan dan mencari hukum yang berlawanan dengan syari’ah kita tidak akan mengambilnya, tetapi jika cocok dengan syari’ah kita akan mengambilnya.”   Orang-orang yang mengatakan itu mereka akan mengadili pada thaghut dan jika itu bertentangan dengan syari’ah kemudian mereka akan menolaknya karena menyetujui adalah kufur, tetapi jika itu di setujui kemudian mereka akan mengambilnya.   Ini adalah keraguan yang di buat oleh orang-orang Jaamis terutama di Eropa. Mereka pertama kali membuat kesalahan mencari hasil dari pengadilan dan melupakan bahwa pengertian memutuskan adalah syirik. Allah (swt) berfirman, “ mereka hendak berhakim pada thaghut…” sungguh nyata bahwa mereka menginginkan untuk memutuskan adalah cukup pada Allah unuk menyebut mereka kafir, itu tidak dilakukan dengan apapun atau tidak juga Ka’ab akan memberi sebuah keadilan atau padangan yang tidak adil.   Lebih lanjut, kita tidak berbicara tentang kebenaran orang-orang diatas kebenaran Allah (swt); kita tidak mencari kebenaran yang kita miliki dan khawatir tentangnya jika itu akan menjadi keadilan atau ketidakadilan pelanggaran kebenaran Allah. Kebenaran adalah dari Allah bukan untuk melakukan syirik.   5.”…sekarang tidak ada negara Islam untuk mendapatkan kebenaran kita, jadi kita di bawah tekanan.”   Kebanyakan orang-orang Murji’ah menggunakan argumen ini. Namun Allah (swt) berfirman,  “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS An Nahl 16 : 107)   Orang-orang yang menggunakan argumen ini melupakan akan hukuman hari akhir untuk mengejar keinginan mereka di dunia, Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “kekufuran dan janji hukuman dari Allah untuk mereka adalah tidak lain karena mereka membenci Dien atau mereka mencintai kufur, hanya karena dia ingin mendapatkan kesenangan dunia diatas dien.”   Itu adalah sesuatu yang terlarang bagi orang-orang beriman untuk mementingkan masalah dunia, seperti mencuri mobil dan sebagainya mengabaikan Dien, kamu tidak bisa mengklaim dibawah tekanan kemudian kita mencuri mobil dengan tujuan untuk meninggalkan dien dengan memutuskan kepada thaghut, ini lebih baik di lupakan tentang pekerjaanmu, mobil dan kepentingan dien diatas dunia.   Rasulullah (saw) bersabda, “seseorang yang gagal adalah seseorang yang menyembah dinar dan seseorang yang gagal adalah seseorangyang menyembah dirham, seseorang yang gagal adalah adalah seseorang yang menyembah pakaian…”   Allah (swt) berfirman,  “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS At Taubah 9 : 23)   Allah (swt) tidak menyukai mereka yang memilih segala kesenangan dunia (dan Allah menyebutkan apa saja yang disayangi orang-orang) atas jihad, itulah sebab mereka meninggalkan jihad atas segala kepentingan dunia. Melalaikan salah satu kewajiban hanya untuk kepentingan dunia mereka akan di hukum oleh Allah dengan sendirinya karena melakukan syirik Akbar hanya untuk mendapat secuil dari manfaat dunia.   Lebih lanjut, jika kita beriman dalam paksaan, Allah (swt) tidak akan pernah memberikan sebuah izin bagi seseorang yang melakukan syirik walaupun dibawah paksaan, lebih lanjut paksaan berarti bahwa itu adalah antara hidup dan mati, bahwa dia dipaksa untuk melakukan, terancam, dipukul dan setelah itu baru di bolehkan. Namun orang-orang tidak dalam paksaan, menemukan jalan, dapat memilih untuk mengadili dengan kemauan mereka.   Lebih lanjut, Allah (swt) berfirman:  “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS Adz Dzariyat 51 : 56-58)   Jadi bagaimana bisa kita melanggar tujuan kita di ciptakan, apakah tujuan tauhid adalah hanya semata-mata untuk memperoleh rezki kita? Allah (swt) telah menyiapkan dan menjamin rezeki kita dan dia meletakkan jaminan ini dalam kontek dari perintahnya untuk menyembahnya saja untuk menekankan bahwa itu sangat penting, jadi kalu kita tidak pernah menyembah selain daripada Allah hanya untuk rezki kita. Allah (swt) berfirman dalan hadits Qudsi: “Beribadahlah padaku sepanjang waktu, aku akan membuat hatimu kaya dan memenuhi kebutuhanmu, jika kamu tidak tunduk padaku,aku akan membuatmu sibuk sepanjang waktidan aku tidak akan pernah memenuhimu.”   Lebih lanjut, tekanan tidak sama dengan paksaan. Itu adalah sebuah kesalahan mengatakan bahwa kita bisa melakukan kekufuran dan kesyirikan karena kamu dalam tekanan; tekanan berarti kamu berhadapan antara  hidup dan kondisi kematian karena kebutuhan materi yaitu kelaparan. Paksaan itu berbeda dan menghendaki beberapa bentuk hukuman atau penyiksaan. Allah (swt) berfirman, “siapa saja yang dalam keterpaksaan tidak baghi dan tidak juga melanggar, tidak ada dosa atasnya dan Allah mengampuninya.”   Itu berarti seeorang yang tidak mempunyai makanan dan dalam paksaan, dia akan mengambil lebih sedikit daripada fasad, jika dia mempunyai daging babi dan tidak mempunyai daging (untuk dimakan) dia boleh mengambilnya lebih sedikit dari dua fasad, dan dia akan memakannya dalam jumlah yang sedikit, cukup untuk menyelamatkan nyawanya.   Seseorang yang dalam paksaan berbeda dengan dalam tekanan. Seseorang mungkin bertanya, apa itu pakasaan? Allah (swt) berfirman,  “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS An Nahl 16 : 106)   Ayat ini di turunkan tentang Ammar bin Yasir, orang-orang Quraisy menangkapnya dan ibu bapaknya, kemudian menyiksa mereka, mereka mengambil Ibunya Sumayyah dan mengikat anggota badannya pada unta yang di tariknya dan menyiksanya dan kemudian Umayyah bin Khalaf dating dengan tombak dan membunuhnya. Ayahnya Yasir tersiksan dan terbunuh, diletakkan minyak panas pada tubuhnya. Setelah semua siksaan itu Ammar bin Yasir dia menggunakan izin untuk mengatakan sebuah kalimat kufur. Dia tidak pernah melakukan kekufuran tanpa mengawali siksaan dia berkata, “ saya menolak Muhammad” tetapi dalam hatinya penuh dengan keimanan. Rasulullah (saw) bersabda, “Ammar adalah seorang yang beriman dari kepala hingga ujung kaki; Iman telah bercampur antara darahnya dan  dagingnya.”   Ammar datang kepada Muhammad (saw) dan menangis, Rasulullah bertanya kepadanya mengapa dia menangis, Ammar berkata, ”Aku telah berkata buruk tentangmu dan aku memuji mereka” beliau (saw) menjawab “apa yang ada dalam hatimu” Ammar berkata, “aku mencintaimu dan aku beriman kepadamu…” lalu Rasulullah (saw) menjawab, “jika kamu disiksa lagi, maka katakana itu lagi.”   Ayat ini berbicara tantang orang-orang yang yang berhadapan dengan siksaan dibawah paksaan, jadi siapa saja yang menghadapi seperti apa yang dihadapi Ammar akan mendapatkan izin yang sama seperti apa yang Ammar dapatkan. Untuk mengatakan kufur setelah ibu dan bapaknya terbunuh dan dia telah di siksa.   Namun untuk menyebutkan paksaan orang-orang pada saat ini tidak sebanding dengan Ammar, mereka adalah bebas untukmelakukan sebagaimana yang mereka inginkan dan hanya mengklaim dibawah paksaan, Bilal telah mengalami hal yang sama sebagaimana yang Ammar hadapi tetapi dia tidak mau berkompromi.   Imam Ahmad berkata ketika mereka berbicara pada Imam Ahamd dan bertanya padanya untuk membuat tuqiyah karena mereka dibawah paksaan, untuk mendapatkan izin seperti halnya Ammar, dia berkata: “mereka memukul Ammar dan kamu mundur sebelum kamu mendapatkan pukulan.”   Jadi Siksaan adalah syarat mutlak untuk mendapatkan keringanan dari paksaan.   Argument palsu mereka adalah sistem thaghut yang mengambil harta dari orang-orang dan menolak untuk mengembalikannya sampai dia menyembah tuhan mereka. Pertanyaan yang muncul, jika seseorang mengatakan seperti ini, “aku tidak akan mengembalikan hartamu sampai kamu menyembah berhala,” dapatkah kita benar-benar melakukannya dalam situasi seperti ini? Apakah ini keterpaksaan? Atau ini adalah tekanan?   Lebih lanjut, seseorang yang benar-benar membutuhkan hartanya yang hilang, dan dia dibawah indikasi paksaan, kita harus menyusun semua bukti untuk mengahakimi jika dia benar-benar dibawah paksaan, Allah (swt) berfirman, ” Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.”… (QS An Nisa 4 : 97)   Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ayat ini telah diturunkan tentang kaum Muslimin yang dipaksa untuk berperang dengan orang-orang kafir melawan kaum Muslimin dalam perang Badar, Rasulullah (saw) telah menangkap sebagian dari mereka dan membunuh sebagian yang lainnya, dan beliau memperlakukan mereka seperti orang-orang kafir.   Abul Aswad berkata, “Dari sekelompok orang-orang Madinah yang jalan menuju Madinah, akau telah membuat kesepakataan dengan mereka untuk melindungi nyawaku, aku bertemu Ibnu Abbas dan dia berkata kepadaku untuk tidak melakukan itu, orang-orang tidak dibolehkan melakukannya…”   orang-orang ini tidak pernah merasakan seperti apa yang di alami oleh Ammar bin Yasir, tentu saja mereka orang-orang kafir akan menindasmu khususnya jika mereka mempunyai kekuasaan atasmu, tetapi itu bukan berarti itu adalah paksaan. Orang-orang ini yang telah berprang di perang Badar dimana todak pernah tersiksa seperti ammar dan kemudian kaum Muslimin telah diperlakukan sebagaimana kafir walaupun mereka mengklaim bahwa mereka berada dalam paksaan. Ibnu Jarier dalam tafsirnnya meweriwayatkan bahwa, “Ketika Muhammad (saw) betemu dengan Abbas dia bersabda, “bebaskan dirimu dan keponakanmu” Abbas berkata, “Yaa Rasulullah, apakah kami tidak berdoa pada waktu shalat dan tidak menghadap qiblat?” Beliau (saw) menjawab, “kamu berperang dengan mereka dan kamu kalah.””   Kita memahami bahwa dimana itu adalah benar-benar tekanan, dan itu harus tidak ada .pilihan yang untuk kita, dengan kata lain itu adalah bukan paksaan. Meskipun Abbas adalah seorang Muslim di Mekkah dan dia bisa melakukan hijrah tetapi dia memilih untuk tetap tinggal di camp mereka dan kemudian dia berkelahi melawan kaum Muslimin.   Satu-satunya sisa shubuha adalah seseorang dari kalangan Ahnaf, mereka percaya bahwa paksaan bisa juga dipakai jika kita diancam dengan siksaan; namun bahwa siksaan harus dengan pihak keamanan dan otoritas. Menurut Ahnaf seseorang yang sedikit ragu bahwa dia di bawah tekanan atau ancaman dengannya, itu tidak bisa untuk meninggalkan dia mempunyai keringanan, tetapi jika dia bisa meninggalkan, itu bukan paksaan dan dia tidak dapat mengambil kerinaganan tersebut.   Lebih lanjut, ada sebuah ayat yang bertanya “Camp mana yang bersama mereka,” dan mereka membuat pernyataan bahwa ‘kita ini lemah di muka bumi’ dan memutuskan dengan thoghut meletakkan kita dengan orang-orang kafir dan camp mereka. Perbedaannya adalah antara menahan untuk berhijrah; orang-orang yang telah menahan dirinya untuk berhijrah dia akan berdosa untuk tetap tinggal dengan mereka sebab mereka tidak mempunyai jalan keluar, seperti Ibnu Abbas. Tetapi orang-orang yang memilih tetap tinggal di Mekkah dengan camp kufur; mereka adalah sasaran dari ayat ini.   6.       “…ini hanya haram jika itu terlibat istihlal”   Mereka mengklaim bahwa Allah mengutuk orang-orang yang mereka telah membuat halal menjadi haram dan haram menjadi halal, dimana mereka mengklaim bahwa mereka adalah benar-benar mengikuti pada apa yang telah Allah katakana. Argumen  yang mereka gunakan adalah berdasarkan perkataan Ibnu Taymiyah tetantang ayat,  “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah…” (QS At Taubah 9 : 31)   Ibnu Taimiyah berkata, “mereka orang-orang yang mengambil rahib-rahib dan orang alim mereka sebagai tuhan selain Allah, mereka menaati mereka dalam melaksanakan apa yang Allah larang dan melarang apa yang Allah perintahkan, mereka ada dua, 1. karena mereka mengubah Dien dan mereka mengikuti perubahan itu dan mereka mulai untuk beriman pada yang telah dilarang oleh Allah, dan itu adalah kufur akbar. 2. mereka mematuhi dalam seseuatu yang tidak berhak dipatuhi oleh Allah tetapi mereka mengetahui bahwa itu adalah haram, mereka tidak kafir.” (Majmu Fattawa)   Pengertiannya bahwa mereka mengetahui bahwa mereka telah merubah Dien, dan itu yang mereka ikuti adala berbeda dengan Dien, bahwa itu adalah istihlal dan kufur akbar, kedua adalah seseorang yang bahwa itu adalah haram tetapi mereka tidak menaati Allah dan patuh pada rahib-rahib dan orang-orang alim.  Ini shubuhat itu yang muncul dari perkataan ini.   Namun, mereka tidak membedakan antara dua jenis ketaatan; itu adalah Al Ta’ah Syirki dan At Ta’ah Ma’ssiyah. Seseorang yang mempercayai bahwa sebuah perbuatan adalah haram tetapi dia melakukannya diluar dari ketaatan dan mengetahui bahwa itu adalah berdosa atasnya; ia tidak kafir dan itu adalah Ta’ah Ma’ssiyah. Namun seseorang yang patuh pada seseorang dan yakin itu bahwa itu menyebabkan dia menaati mereka bahwa dia tidak lagi berdosa besar itu adalah Ta’ah Syirki dan dia adalah Musyrik itu seperti mereka menyuruh kepadanya untuk menyembah berhala.   Ibnu Taimiyah telah menjelaskan perbedaan ini antara Al Ta’ah Syirki dan Al Ta’ah Ma’ssiyah, dia tidak membolehkan untuk berhukum kepada thoghut faktanya dia mempunyai perkataan yang berlawanan dengan pernyataan tersebut.   Namun, ada perbedaan besar antara ketaatan dan memutuskan, ketaatan adalah berjenis, itu bisa menjadi syirik dan itu bisa menjadi ma’ssiyah. Namun, memutuskan kepada thaghut adalah syirik pada Allah; memutuskan adalah sebuah perbuatan menyembah. Ibnu Taimiyah berkata, “Siapa saja yang memutuskan kepada selain dari pada Al Qur’an dan Sunnah setelah diterangkan kepadanya, dia adalah kagir kufur akbar.”   Keraguan bahwa mereka mencoba untuk menutupi dengan perkataan itu hanyalah Ma’ssiyah, adalah salah dan tidak bisa di sandarkan kepada Ibnu Taimiyah.   7.       “…kita mengetahui bahwa itu adalah thgahut, tetapi karena tekanan dan fitnah…..dan sebaginya”   kepada seseorang yang mengetahui dan menerima bahwa berhukum pada thaghut adalah kufur akbar dan kemudian mereka mengklaim bahwa mereka hanya melakukan itu di bawah tekan, kita harus ingat, mana yang lebih penting, melakukan kekufuran atau terbunuh? Allah (swt) berfitman,  “fitnah lebih kejam daripada membunuh.” (QS Al Baqarah 2 : 217)   Dan Ibnu Mas’ud berkata dalam tafsir tentang ayat ini, “fitnah adalah kekufuran.”   Maka jika kita berargument bahwa berhakim adalah kufur dan kita melakukannya diluar paksaan, bahkan diluar rasa takut dari paksaan yang maksimum dari takut mati,kami mengatakan bahwa Kufur adalah lebih kejam daripada terbunuh.   Ironisnya, mereka tidak dibawah paksaan, tidak ada seorangpun yang meletakkan pisau di leher mereka, mereka hanya ‘takut’ bahwa mereka akan berhadapan dengan siksaan, ayatnya telah sangat jelas bahwa jika semua orang di muka bumi berperang dan terbunuh itu adalah lebih buruk daripada kejahatan dari satu hokum yang telah diterapkan. Imam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Jika orang-orang Badui dan kota dimana untuk berperan, berperang satu sama lain sampai semua orang terbunuh, itu lebih buruk daripada mempunyai satu thaghut yang menerapkan kekufuran atau untuk berhakim kepada mereka.”   Ini adalah masalah bagi orang-orang yang mengklaim terpaksa tanpa siksaan, dibawah paksaan bukan Iman bukan juga kufur adalah dapat dipertanggungjawabkan, kamu tidak bisa menjadi seorang Muslim dibawah paksaan dan untuk mengatakan kufur kufur mempunyai sebuah izin dan juga ini, membunuh menjadi lebih kejam daripada mengizinkan.   Lebih lanjut, semua perselisihan dalam pengadilan dan bahkan untuk yang terbaik dari apa yang mereka putuskan, adalah hanya untuk kesenangan dunia saja dan jadi bagaimana sesuatu yang kufur menjadi di bolehkan hany auntuk kepentingan dunia saja dimana seseorang adalah tidak beriman sampai Allah dan Rasulnya lebih disayangi olehnya daripada sesuatu yang lain. Rasulullah (saw) bersabda, “Tidak ada seorangpun yang beriman sampai kamu mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada sesuatu yang lain.”   Jika kita diberikan pilihan antara semua persolan dunia bahkan Ibu dan Bapak kemudian Allah dan RasulNya, dapatkah kita memilih dunia? Dapatkah itu terjadi ketika Allah (swt) mengatakan bahwa kamu akan lari dari Ibu dan ayahmu sendiri pada hari perhitungan?   Berhukum adalah ibadah ritual dan berhukum pada thaghut adalah memalingkan ibadah ritualmu kepada selain daripada Allah (swt), At Tahakum kepada thaghut adal sujud kepada selain daripada Allah (swt) dan Abu Huraira mengatakan bahwa Rasulullah (saw) bersabda: “Orang-orang akan dikumpulkan pada hari pengadilan, Allah akan berkata, “kepada apa saja orang-orang menyembah, dibiarkan untuk mengikutinya, seseorang mengiktui matahari dia akan mengikutinya, seseorang yang mengikuti bulan, dia akan mengikutinya, seseorang yang mengikuti tawaghiit dia akan mengikuti tawaghit.” (Bukhari)  Solusi   Kita telah mengerti bahwa pada awalnya, mereka tidak mempunyai paksaan di Mekkah dan begitu juga tidak diberikan alasan dari tekanan ketika mereka berperang melawan kaum Muslimin, sama halnya, kebanyakan tak seorangpun di UK yang hidup tanpa pilihan kecuali bagi segelintir orang yang disana dibawah tekanan. Kaum Muslimin yang pergi ke Abyssinia yang telah berhadapan dengan siksaan, mereka tidak kesana untuk urusan dunia atau untuk alasan duniawi.   Ada suatu peristiwa yang menarik pada saat Ubaidis Fatimis di Mesir, mereka telah murtad yang memerintahkan Mesir pada saat itu oleh kufur dan menggunakan untuk menghukum siapa saja yang menjelaskan nama Shahabah,mereka menangkap seseorang dan meletakkan dia di bawah siksaan, dan telah berkata kepadanya, “mau bergabung dengan dakwah kita atau kamu terbunuh.”   Namum itu telah di katakatan tentangnya sebagaimana telah di riwayatkan oleh Qadi Iyad, “Dia seharusnya memilih untuk terbunuh, dia mempunyai pilihan untuk lari tetapi di tidak pernah lari, kamu tidak bisa memberi keringanan apapun jika pilihanmu untuk hidup dengan mereka disebuah tempat dengan orang-orang yang menolak syari’ah. Sebagaimana ulama yang telah tinggal di Mesir dan hamba-hamba lain yang baik, mereka seharusnya tidak berhijrah, mereka tetap tinggal disana dan mengajarkan orang-orang dien mereka.”   Sekarang kita ketahui dengan baik bahwa kita mempunyai jutaan kaum Muslimin yang hidup ditanah kuffar, dan jutaan hidup di bawah rezim thaghut di negeri kaum Msulimin; apakah kamu percaya bahwa jika mereka menyuruh kaum Muslimin untuk menyembah berhala yang bertentangan dengan huquq mereka (kebenaran dan maslaha yang lain) bahwa dia diizinkan untuk melakukan itu?   Satu-satunya orang yang mengakui bahwa berhukum pada thaghut adalah kufur tetapi membawakan keringanan untuk melakukan itu, tidak ada alasan karena ketidaktahuan, kamia akan menyebut dia kafir. Dia mengklaim bahwa dia dibawah paksaan karena mereka hidup di bawah orang-orang kafir, tetapi keseluruhan kaum Muslimin di dunia di bawah kufur, itu bukan berarti membuat keringanan bagi perbuatan kufur atau kesyirikan mereka.     1.       Hijrah   Allah (swt) berfirman,  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah 2 : 218)    “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS An Naml 16 : 41)    “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An Naml 16 : 110)    “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An Nisa 4: 100)   Ibnu Katsir membuat tafsir atas ayat-ayat ini, ketika Allah (swt) mengatakan, “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia…” Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar berkata, “Dimana saja seseorang berhijrah, dia akan menemukan rizqinya.”   Salah satu cara untuk menjauh dari fitnah ini adalah dengan berhijrah, berhijrah dari tempat yang yang kita nyatakan disitu kita dalam tekanan menuju dimana kita tidak mendapat tekanan.   Inilah sebab kenapa Ulama telah berbicara tentang hijrah dari dar ul kufur menuju dar ul Islam dan dari tempat fusuq menuju ketempat non fusuq atau dari dimana kita tidak bisa melakukan kewajiban kita menuju ketempat dimana kita bisa melakukan kewajiban tersebut.   2.       MENGASINGKAN DIRI   Dalam Bukhari ada dalam bab “bagian dari dien untuk meninggalkan fitan.” Dimana didalam riwayat yang disampaikan oleh Abu Sa’id Al Khidrii bahwa, “Harta yang paling berharga dari kaum Muslimin akan menjadi domba yang dia meninggalkan untuk memberi makanannya di gunung dengan tujuan untuk lari dari fitan.”   Seseorang yang tida bisa meninggalkan dia harus uzlah – mengasingkan dirinya.     3.       DAKWAH   Ini adalah selelompok orang yang tidak mau berhijrah tidak juga mengisolasi diri, mereka harus menjadi sebuah jama’ah Muslim yang berkumpul bersama-sama dan memeilih seorang Alim untuk menjadi Amir tas mereka untuk mengatur dengan apa yang Allah telah turunkan sampai mereka menjatuhkan hokum kufur dan mendapatkan kekuatan. Itu ada dalam karangan kelima dari Imam syafi’I dalam kitab ul Umm berkata, “Itu adalah sebuah kewajiban kepada Imam untuk menunujuk sebuah hokum di setiap kota dan setiap jalan besar, membuat orang-orang menyerahkan kepadanya di setiap permasalahan, dan jika disana tidak ada Imam mereka akan memilih salah satu dari diantara mereka untuk di tunjuk.”   Ini adalah tiga hal yang terbaik dan paling berpahala.      

CARA-CARA  YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMENUHINYA  1.    MENYEBARKAN IDE-IDE RUSAK PADA UMAT (KAUM MUSLIMIN DISELURUH DUNIA)  

Melalui pendidikan dengan kurikulum nasional, media, institut-institut Internasional dan sebagainya kemudian ide-ide seperti Nasionalisme, Patriotisme, Demokrasi, Kebebasan, Sekulerisme dan lain-lain. Kaum Muslimin harus mengekspos konsep-konsep rusak yang tidak Islami dimana saja mereka berada dan mengajak orang-orang, Muslimin dan Non-Muslim, kepada kesempurnaan dan keindahan Islam sebagai sebuah ekonomi alternatif, sosial, politik dan sistem pendidikan. Sebagai perlawanan untuk menujukkan kepada orang-orang kafir dan menyebutkan agenda mereka, seperti mereka yang menyatakan untuk menerapkan resolusi PBB.

  2.    MENGGUNAKAN JALUR-JALUR MEDIA UNTUK MENJALANKAN AGENDA-AGENDA MEREKA  

Jalur media seperti TV, radio, internet, surat kabar dan sebagianya menggoda kaum Muslimin untuk mengikuti keinginan hawa nafsu mereka untuk mengingkari teks-teks ketuhanan (wahyu). Film-film India, budaya-budaya barat, fashion, pornography, ‘tarian nasyid Islami’ dan lain-lain. Semua itu memberikan kontribusi untuk melemahkan keteguhan kaum Muslimin dan memperlemah kepribadian Islam mereka. Jika kaum Muslimin tidak mengemban dakwah kita bisa saja akan menjadi terbawa kepada mereka dengan orang-orang kafir melalui cara-cara seperti ini.

  3.    MELAHIRKAN HAKIM-HAKIM YANG RUSAK  

Orang-orang kafir telah sukses memproduksi Ulama-ulama yang rusak, mereka (ulama-ulama yang rusak) itu membuat sesuatu yang haram menjadi halal dan menganti wahyu dengan kemauan orang-orang kafir. Inovasi baru yang diusulkan oleh USA untuk menjual para ‘hakim’ termasuk membuat wanita memberikan khutbah Jum’at, membuat masjid sebagai tempat pergaulan sosial sebagai kebalikan dari hanya tempat beribadah saja dan lain-lain. Namun dengan rasa syukur akan selalu ada ulama yang berdiri untuk menghadapi kerusakan seperti itu.

  4.    MEYAKINKAN KEPADA KAUM MUSLIMIN UNTUK TIDAK MEMENUHI TANGGUNG JAWABNYA  

Untuk membuat kaum Muslimin mempunyai cita-cita dan tujuan yang telah di setting untuk mereka oleh orang-orang kafir sebagai orang-orang yang ingkar kepada Allah (swt) dan Rasulullah Muhammad (saw). Maka kita lihat bahwa begitu banyak orang tua dari kaum Muslimin menginginkan anak-anaknya untuk menjadi Dokter, pengacara, pengusaha, politikus dan lain-lain sekalipun ini berarti bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang Dien mereka, sebagai lawan dari para ulama, mujahidin dan lain-lain meninggalkan semua kebudayaan Islam. Budaya Islam berkaitan dengan setiap aspek kehidupan adil dalam setiap permasalahan, maka sekalipun seseorang ingin mempelajari kedokteran terlebih dahulu dia harus mengerti tentang apa yang Islam katakan tentang pembedahan, perawatan dan lain-lain dengan tujuan untuk mengetahui kedokteran dari sudut pandang Islam.

  5.    MENANAMKAN KERAGUAN TENTANG ISLAM DAN MENGADOPSI IDE-IDE LAIN  

Orang-orang kafir akan terus mencoba untuk mendorong ide-ide tertentu seperti makhluk asing, evolusi, menciptakan kehidupan dari bahan-bahan kimia dan lain-lain dengan tujuan unuk menanamkan keraguan di benak kaum Muslimin. Kaum Muslimin haru ingat bahwa Al Qur’an adalah kebenaran (haq) dan jika ilmuwan membantah apa yang Al Qur’an katakan kemudian Allah (swt) dan Al Qur’an adalah tetap benar dan mereka adalah pendusta.

  6.    MEMBUAT KAUM MUSLIMIN MERASA KURANG PENTING DARI PADA ORANG-ORANG KAFIR  

Maka kita melihat bahwa orang-orang kafir selalu meminta simpati kepada mereka yang wafat, sebagaimana di Polandia dan New York jika musibah itu menimpa kepada kaum Muslimin di Chechnya, Kasymir atau di Palestina, kehidupan mereka (kaum Muslimin) seolah tidak menjadi begitu berharga. Tidak ada mengheningkan cipta selama satu menit, tidak ada perkabungan kepada kaum Muslimin. Mereka berpikir bahwa binatang itu lebih berharaga dari pada kaum Muslimin. Amir Kuwait membayar 1.2 juta Pounsterling untuk memperbaiki kebun binatang di Inggris pada saat kaum Muslimin kelaparan hingga mati di Somalia dan Sudan karena hegemony kapitalisme. Contoh lain adalah kolonel Ghadaffi membayar £ 10 miliyar untuk setiap kematian bagi Lockerbie, sedangkan tidak ada uang sedikit yang diberikan untuk 200.000 pengungsi dan yang terbunuh di Afghanistan oleh tangan USA dan Inggris.

  Penutup  Kaum Muslimin telah melihat segala hal yang diinginkan oleh orang-orang kafir dari wahyu sebagai lawan dari kebusukan-kebusukan USA, Inggris, PBB dan agen-agen mereka. Pada akhirnya, Allah (swt) adalah penguasa atas segala sesuatu dan kita berdoa kepadaNya untuk kebebasan semua tanah kaum Muslimin dari kekuatan musuh dan untuk kekalahan musuh-musuh Allah (swt), RasulNya dan kaum Muslimin dan juga kita memohon agar Allah (swt) memberikan kepada kaum Muslimin Khilafah lebih cepat lagi. Amien…